Bram dan Violeta masih berkeliling dan kini mereka sampai di depan sekolah Berlin. Keduanya turun dari dalam mobil menghampiri gerbang yang dikunci, lalu mengamati area sekitar dengan seksama di tengah gelapnya malam. "Berlin!" Bram berteriak. Suaranya menimbulkan pantulan suara, dan di detik berikutnya terdengar sahutan suara anjing menggonggong yang membuat suasana jadi mencekam. "Berlin ...." Bram menangis. Kedua tangannya mencengkram pagar gerbang dan perlahan-lahan kakinya menekuk, sehingga sekarang dia berlutut menghadap ke dalam sekolah yang sepi. Violeta menatap betapa hancurnya sang suami. Kehilangan anak kesayangan yang entah hilang ke mana tentu bukan hal mudah. Violeta pun sama-sama merasakannya, dia sangat terpukul apalagi Bram. "Sayang, bangunlah. Kayaknya Berlin nggak

