Aku dan Samudra sudah sedekat nadi dan daging. Kami saling berhutang nyawa, kami berbagi nafas dari satu paru yang sama. Benak kami terhubung, pundak kami melapang dan menyempit beriringan. Bila satu tubuh kami sakit, tubuh yang lain merasakan yang sama. “Berikan tanganmu. Aku coba sekali lagi. Bersiaplah kehilangan tanganmu bila aku gagal.” kataku menarik tangan Sam lagi. Aku takkan bisa merasakan keberadaan Wulan jika pikiranku masih bercabang. “Aku sudah siap kehilangan nyawaku.” ujar Sam sambil meringis menahan sakit. “Aku yakin kau bisa, Ta.” tambah Layung memberikan motivasi basi untuk menutup rasa khawatirnya. Aku tak kuasa menahan senyum pada tingkah mereka. Kulihat baik-baik luka Samudra. Memarnya berwarna kehitaman, tangannya terlihat bengkok di bagian yang patah. Dia

