FITNAH MANTAN (18) … Aku memasuki ruang sidang. Keagungan ruangan ini masih tetap sama, membuat jantungku berdebar-debar. Seorang protokol yang sama dengan minggu lalu menyambut ramah. Dia mempersilakanku dan Pak Martin untuk memasuki kisi-kisi pembatas. Belum sempat melangkah, Putri sudah lebih dulu menarik lenganku. Mas Ferdian langsung mendekat, memelototi Putri—seolah dari mata dinginnya keluar kata-kata ancaman. Intimidasi tatapan Pak Ferdian efeketif. Perlahan Putri melepaskan cengkeramannya pada lenganku. “Saya ingin bicara sama kamu,” kata Putri dengan nada suara dingin. “Tidak ada intervensi,” tegas Pak Martin. Putri mendengkus mendengar perkataan tegas Pak Martin. Dia menatapku tajam. Tidak mengatakan apa pun, tetapi seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, perkataanny

