FITNAH MANTAN (19) Minuman jahe hangat. Setelah diberi minuman jahe hangat dan gula merah, kondisiku menjadi jauh lebih baik. Aku, Pak Kairav, dan yang lain sudah kembali ke rumah. Kini, aku duduk bersandar di sofa. Menggenggam gelas berisi jahe hanget. Aku menikmati kehangatan yang mejalar dari gelas ke telapak tangan. “Kamu yakin nggak mau saya panggilkan dokter?” Pak Kairav menatap dari kursi rodanya. Aku bisa merasakan kekhawatiran dalam nada ucapannya. “Mai nggak apa-apa, Mas.” Pak Kairav terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “Maaf atas ketidakmampuan saya,” ucap Pak Martin dengan nada menyesal. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat merasa bersalah. “Kiovano memang bukan orang biasa. Jangan terlalu dipikirkan.” Pak Kairav tersenyum lembut. Sorot matanya penuh kelembutan dan persa

