Misel muak mendengar suara dua orang tertawa bahagia dari ruangan sebelahnya. Suara itu berasal dari Martika dan Rio yang sedang berduaan di kamar. Martika benar-benar gila membawa Rio menginap di rumahnya. Misel jijik dan benci dengan Martika. Martika tidak pernah paham dengan perasaan Misel selama ini. Terlebih lagi Martika belum bercerai dengan ayahnya. Walaupun ayahnya juga jahat meninggalkan mereka sendirian.
Mengapa ada seorang ibu yang egois mementingkan cintanya sendiri dibandingkan perasaan anaknya dan mengapa ada seorang ayah yang pergi melarikan diri membuat keluarganya hancur?. Hal ini selalu menjadi pertanyaan besar dibenak Misel.
Rio bukanlah laki-laki yang baik. Mereka berdua sudah lama berhubungan sejak Misel masih SMP sehingga Misel tahu sikap buruk Rio selama ini. Bukan hanya kepada Martika, tapi kepada Elina. Anehnya, Martika selalu jatuh kepada Rio.
Misel sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu di sana. Kemudian pergi menuju suatu tempat sambil membawa beberapa barang.
Misel sengaja membanting pintu rumah dengan kencang. Suara itu terdengar hingga kamar Martika. Baru saja ia membuka kunci pagar, Martika memanggilnya dari pintu.
"Misel! Mau kemana?" tanyanya
Misel hanya menengok dan kembali membuka pagar. Ia tidak peduli dengan ibunya itu.
"Misel! Besok kamu sekolah!" bentak Martika yang sudah berlari ke arah Misel
"Aku bakal pulang kalau orang itu pergi," ucap Misel emosi dan ingin menangis.
"Kenapa si kamu?". Pertanyaan bodoh itu muncul dari mulut Martika.
Misel hanya menatap Martika dengan tatapan sinis. Ia tidak akan mengungkapkan perasaannya sekarang karena ia tahu tidak akan ada gunanya. Misel melangkah pergi, menggubris ibunya sendiri. Dari jauh Misel bisa mendengar u*****n Martika tentang dirinya. Tapi ia tidak peduli, Misel terus berjalan. Ia tidak bisa seperti Elina yang hanya bisa diam dan pasrah dengan semua rasa sakit.
***
Irsyad sudah bersama Misel di kosannya sejak beberapa menit lalu. Ia senang ada Misel di sini. Walaupun kekasihnya itu tampak sedih dan kesal. Selama ini kosan Irsyad selalu menjadi tempat pelarian Misel.
"Besok sekolah?" tanya Irsyad sambil menghisap rokoknya.
"Sekolah," balas Misel singkat
"Emang bawa buku sama seragam?"
Misel menggeleng. "Besok pagi aku pulang ke rumah," kata Misel
"Gak usah sekolah aja si. Kita jalan-jalan," rayu Irsyad. Sebenarnya Irsyad bukan lelaki yang baik untuk modelan Misel yang sedang terluka. Ia cenderung menghancurkan masa depannya daripada mendukungnya. Padahal usia Irsyad 19 tahun — terpaut 4 tahun dari Misel. Tapi pikirannya tidak sesuai dengan usianya. Ia belum matang secara emosional. Irsyad selalu mendahulukan nafsu dan keinginannya saja.
"Terus kamu bolos kuliah?" tanya Misel yang dibalas anggukan oleh Irsyad.
Misel tidak paham dengan Irsyad yang selalu memudahkan segalanya. Padahal ia tahu, Irsyad sudah dapat surat peringatan dari kampus karena suka membolos dan IP nya dibawah 2.
"Besok aku sekolah dan kamu kuliah titik," balas Misel sebagai keputusan akhir, kemudian ia merebahkan diri.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara saklar di matikan dan tiba-tiba Irsyad sudah berada di samping Misel. Kemudian tangan Irsyad menyelusup ke dalam baju Misel. Misel memejamkan mata. Ia tahu pasti Irsyad ingin macam-macam.
"Syad jangan ..." ucap Misel sambil mengehentikan tangan Irsyad
"Kita udah lama gak lakuin itu," balas Irsyad tepat di telinga Misel.
"Aku gak mau," ucap Misel
"Kamu tahukan aku gak suka di tolak?" Perkataan Irsyad berubah menjadi dingin. Jika seperti ini Misel tidak bisa berbuat apa apa.
Misel pasrah seperti kejadian yang sudah sudah. Terkadang Misel berpikir, apa bedanya dia dengan ibunya?. Ia benci ibunya berzina, tapi ia seperti menelan ludahnya sendiri. Misel sudah kotor di usianya yang masih muda. Mungkin sebuah pepatah buah tidak pernah jatuh dari pohonnya adalah suatu hal yang benar.
***
Hari ini, Reza dan Hany berencana pergi ke apartemen Elina untuk meminta rekaman CCTV yang berada di parkiran. Reza sudah menunggu Hany di depan kelasnya selama dua puluh menitan. Ia duduk sendiri sambil menyender tembok dan memainkan laptop yang berada di pangkuannya.
Pintu kelas terbuka, Seorang dosen keluar dari sana diikuti beberapa mahasiswa. Reza segera memasukkan laptopnya ke dalam tas dan pergi ke dalam kelas untuk menemui Hany. Baru saja ia masuk, kelas yang tadinya gaduh menjadi hening seketika. Mereka teralihkan dengan kehadiran Reza disana. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Reza masuk ke kelas mereka. Dahulu, Reza suka datang untuk menemui Elina. Tapi sekarang Elina sudah tidak ada, jadi mereka bertanya-tanya untuk apa Reza kemari.
“Kak lu ngapain ke kelas gue?” tanya Hany sambil berjalan ke dekatnya
“Jemput lu,” balas Reza dengan santai
Perkataan Reza membuat semua orang terkejut. Mereka mulai berbisik-bisik dan hal itu membuat Hany tidak nyaman.
Hany segera mengajak Reza keluar. Ia menarik Reza ke tangga darurat.
“Kak, lain kali gak usah ke kelas gue lagi ” tegas Hany
Reza menatap Hany yang begitu sensi dengan bingung.
“Kenapa?”
“Gak enak sama yang lain. Memang tadi lu gak lihat mereka kaya begitu?”
Reza hanya menggeleng. Ia memang tidak punya rasa kepekaan yang tinggi.
“Pokoknya kalau mau ketemuan bilang aja, jangan sampai lu bertingkah seolah-olah akrab sama gue,” balasnya lalu pergi dan ia bisa merasakan Reza ikut berjalan di belakangnya
Seandainya Reza kalau tahu tentang kejadian dulu, mungkin ia akan setuju jika mereka berdua tidak seharusnya terlihat dekat. Hany hanya tidak ingin teman-temannya menarik kesimpulan yang tidak tidak.
“Lu jangan ngikutin gue,” ucap Hany yang tiba tiba berbalik badan.
“Lu kenapa si? Lu lupa? Kita kan mau ke apar...”
“Stttt ini masih di kampus Kak, jangan sampai orang denger ” potong Hany yang was was dengan lingkungan sekitarnya.
“Sorry kelepasan. Yaudah yuk ke mobil,” balas Reza
“Duluan saja, gue mau ke toilet dulu” Tanpa menunggu respon dari Reza, Hany segera melangkah pergi. Sebenarnya ia tidak ada urusan di kamar mandi. Ia hanya tidak mau berjalan berdampingan bersama Reza.
***
“Gila ya si Hany, Sahabatnya baru meninggal eh udah deket saja sama Reza,” ucap seseorang dari balik pintu kamar mandi.
Hany baru saja memegang knop pintu kamar mandi, tapi ia malah terdiam setelah mendengar ucapan sembarangan itu. Sesuai dugaannya pasti akan ada gosip karena kejadian tadi.
“Biasalah cewek, kalau dideketin cowok cakep langsung lupa diri,” balas seseorang yang suaranya tampak familiar
Hany menghela nafas, kemudian membuka pintu itu. Orang-orang yang bergosip tentang dirinya terdiam canggung. Hany bersikap biasa saja, melihat ke arah mereka sekilas lalu masuk ke bilik kamar mandi. Ia merenung dan sedih mengapa orang-orang itu bisa berbicara jahat hanya karena Reza datang ke kelasnya.
Beberapa menit kemudian, Hany keluar dan ternyata mereka masih ada di dekat wastafel. Hany melangkah untuk mencucui tangannya.
“Han lu deket sama Reza?” celetuk salah satu orang di sana
Hany menatap sinis.”Enggaklah”
“Kirain, kalau deket ... berarti impian lu dulu kecapaian ya,” sambar seseorang di samping Hany. Mulutnya butuh di cuci agar tidak berbicara sembarangan.
Hany terlalu muak menanggapi mulut dan pikiran mereka yang selalu berspekulasi.
“Gue duluan,” kata Hany sambil melangkah pergi. Ia mempercepat langkahnya menuju parkiran untuk segera pergi ke apartemen Elina bersama Reza
****