Emil dan Dika rupanya sudah lelap di atas kasur. Tak memedulikan dua anak manusia yang masih tinggal di warung pecel perko. Emil dan Dika memang pamit pulang ke hotel lebih dulu karena lelah dan mengantuk. "Lo masih marah, Beb?" Mita diam. Ia pura-pura sibuk membaca portal berita yang sama sekali tidak menarik. Diangkatnya kepala sedikit menatap Eka, kemudian menggeleng pelan. "Tapi gelagat lo sebaliknya." "Biasa aja." Eka menggaruk alis kanannya. "Masih soal Arum, apa gara-gara lamaran dadakan gue, atau omongan ortu gue tadi?" "Nggak semuanya." Enteng sekali jawaban Mita, tapi meremukkan Eka. Laki-laki itu frustrasi akut. "Oke kalau gitu. Jadi, lo nerima gue nih?" yakin Eka. "Siapa bilang?" "Terus, kenapa nggak dijawab juga? Coba, Beb, kita ngobrol baik-baik. Kalau gue masih ada

