Sejenak kemudian perempuan itu tertawa kecil. "Kau sedang tertawa?" tanya pengawal pedati itu, tangannya menarik gelungan rambut perempuan berkulit kuning langsat itu. Sikapnya tidak menyiratkan bahwa dia menginginkan jawaban. “Senang Kangmas menikmati keramahan kami. Lagipula, Kangmas akan menyukai permainan ini sebagai ucapan terima kasih karena telah membeli kami." Ia melebarkan kedua kakinya, meraih sesuatu dari dalam kain jariknya. “Tebak untuk apa ini.” Sambil memperlihatkan sepotong bambu kecil menyerupai seruling. Lelaki berbadan buntal itu mundur dalam upaya sia-sia untuk membuat jarak antara dirinya dan wanita itu di ruang yang sempit. Dengan sekali tiupan, semacam jarum menancap di pangkal leher pria yang sudah membuka celananya itu. Ia roboh berpegangan dinding kayu

