Putra si pemilik penginapan tersenyum di ambang pintu, pipi gemuk yang putih kemerahan itu seketika mengingatkannya pada bakpao, membuat perut Djong yang berpuasa merintih. Gurunya selalu mengajarkannya mengasah kalbu melalui puasa, sejatinya perut yang kosong membuat lebih peka terhadap kaum yang lemah. Mengharap kemudah di setiap langkahnya, Djong berpuasa pada hari pertama ia menghabiskan waktunya di daratan. "Tuan maaf mengganggu, saya sedang menawarkan keuntungan. Yang kudengar sekarang sedang sepi lapak-lapak saudagar asing. Menjual madat sangat menjanjikan, Anda tidak akan pernah rugi. Kalau anda mau, kita bisa bekerjasama. Anda bisa membeli madat kami, lalu menjualnya di pulau tujuan Anda berikutnya. Ada potongan khusus bagi tamu penginapan. Bagaimana Apakah Anda berminat?" "Ma

