21

1059 Kata
Aku berhenti, melihat sekeliling seolah-olah aku bisa menentukan arah atau mengetahui apa yang harus dilakukan. Aku bersandar pada pohon dengan dahan besar dengan tangan kiriku, terlalu memaksakan diri. Lengan bajuku memperlihatkan darah kering di lengan.   Aku mengambil nafas dalam-dalam, menarik lengan bajuku ke atas dan mengikis sebagian darah kering. Luka itu tidak terlalu buruk dan sudah tidak mengucurkan darah. Aku terkesiap melihat sosok berdiri kurang dari lima kaki jauhnya, seorang pria. Pakaiannya berwarna coklat yang menyatu dengan baik dengan sekelilingnya, tapi kulitnya sangat pucat, terlihat sedikit aneh.   Kepalanya tertutup tudung yang menyembunyikan sebagian wajahnya dan rambutnya yang se-dagu menutupi matanya. Namun, di tangannya, orang asing itu memegang busur dengan anak panah mengarah ke arahku.  Dia membuka mulutnya dan mengucapkan suara yang tidak kumengerti sama sekali. Kurasa itu bahasa sandi. Pemanah itu mengulangi suku kata seperti yang diucapkan sebelumnya.  Aku mengangkat kedua tanganku, melebarkannya. Ia menatap benar luka di lenganku. "Perampok, mereka mengejarku. Aku tidak membuat kerusakan di sini."  Tatapan matanya yang tajam berhenti, digantikan dengan kata-kata yang bisa kumengerti. "Apa perempuan itu, temanmu?" "Jenna dan Mercy, ya mereka teman-temanku?”   Dia berbicara lagi dalam bahasanya sendiri, tapi itu tidak ditujukan padaku. Di belakangku, pria lain melangkah keluar dari antara pepohonan. Pria kedua  berjalan melingkariku,  memeriksa tubuhku dan melucuti senjataku. Sementara itu pria di hadapanku masih mengarahkan anak panahnya tepat di dadaku.   Mereka berunding sebentar, berbicara dengan cepat. Akhirnya, mereka sepertinya mencapai semacam kesimpulan. Keduanya menurunkan anak panah mereka dan mengembalikannya ke tabung panah.  Mereka menurunkan busur dan memintaku mengikuti mereka berdua. Aku menghela nafas lega. Para pemanah berdiri, bertukar pandang. Dalam beberapa saat kami berjalan dalam keheningan, di sisi kanan-kiri ku mereka mengimbangi kecepatan kakiku. Tidak lama kemudian salah satu dari mereka menghadangkan lengannya ke depan dadaku dan memaksaku untuk berhenti tiba-tiba. Dia menarik lenganku, mendorongku hingga tersungkur di tanah. Kedua pemanah itu bersiap untuk menembakkan panah.   Suara gemerisik dedaunan kering memberi tahuku apa yang membuat mereka mengangkat senjata mereka, ada seseorang yang bergerak melalui pepohonan. Sesosok tubuh wanita muncul, dan matahari senja yang rapuh berhasil mendaratkan beberapa sinar untuk menerangi jubahnya yang berlumuran darah dan pedang di tangannya. Itu adalah teman seperjalananku selama beberapa minggu ini, Mercy. Lalu di mana Jenna.  "Mercy," kataku. “Di mana Jenna?” Mercy berdiri dengan bingung dan akhirnya berseru, "Kami terpisah!" “Kau masih bertahan Nona?” Salah satu pemanah itu berkata dengan senyumnya yang menakutkan. "Mereka bukan manusia," kata Mercy, “Bukan manusia ... maksudku mereka tidak bisa mati, setiap kali aku menghantamkan pedang ke tubuh mereka, bukan darah mereka yang mengucur, tapi darahku sendiri." “Aku sudah memperingatkanmu Mercy untuk tidak menggunakan pedangmu,” sahutku. "Tidak seburuk itu," jawab pemanah yang ada di kananku, senyumnya berubah sinis.  Sekarang matanya bisa dilihat bersama dengan sisa wajahnya yang tadi tertutup rambut, membuat ekspresinya tampak lebih kuat dan jauh lebih mengintimidasi. “Apa yang hidup di hutan ini?” Mercy bertanya, masih menjaga jarak di antara mereka.  “Para pemanah itu juga bukan seperti siluman.” Mercy berhenti bergerak terlihat ketakutan. "Bagus sekali, Nona muda, kau pintar.” Pemanah di kiriku mengalihkan pandangannya yang mengerikan ke Mercy. “Itu sebabnya orang-orang takut pada Hutan Larangan. Kalian membunuh mereka, semua orang yang masuk. Orang-orangmu membunuh mereka.” “Kebanyakan.” Pemanah di sebelah kananku mengakui. “Mereka yang lari ke hutan jarang yang merupakan orang baik. Tapi tidak semuanya.” “Oh, benar. Aku,” kataku dengan canggung. "Mengapa Anda membantuku, seperti ini?"  Aku tidak tahu berapa banyak mereka. Mataku terus mengawasi sekeliling, mencoba memperkirakan masih berapa banyak lagi yang bersembunyi di balik pohon. “Meskipun mereka jelas bukan tandingan remeh bagiku, beberapa dari mereka bisa dengan mudah membunuhku.  “Seorang perempuan muda membawa sesuatu yang kami hormati dan dia meminta kami menyarimu,” jawab yang di sebelah kananku. “Aku mengirim kedua temanku ke dalam kabut dan hutan, berharap itu akan membuat mereka tetap aman. Kami sedang dikejar rampok. Kuharap perbuatan Mercy dapat dimaklumi, dia tidak mendengarkan kata-kataku." Mercy terdiam, kali ini menatapku dengan cemberut. "Aku tidak mengerti," kata Mercy saat dia mendekat. “Maafkan aku!” "Aku tidak terkejut mendengar pengakuan seperti itu,” Pria di kananku berkomentar. “Manusia mudah sekali mengucapkan maaf namun dalam hatinya belum tentu sama.” “Memang,” jawab Mercy, senyumnya tampak tulus sekali.  “Kalian tadi berbicara tentang sesuatu yang kalian hormati, yang dibawa perempuan itu, temanku. Apakah itu pedang?” Akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang sedari tadi menggangguku.  “Benar. Dulu, kami berhutang budi kepada salah satu jenis dari kalian, manusia. Pria itu membawa pedang itu. Namun sudah lama sekali sejak pria itu terakhir kami lihat. Mungkin dia sudah menginggal.” “Tebakan yang bagus,. aku mengakui. “Beliau kakekku dan sudah lama meninggal.” Aku tersenyum setelah ketengan yang bertubi-tubi.  m,ata mereka menyipit mengamatiku dengan seksama. “Daratan telah banyak berubah.” Pemanah di sebelah kananku berkata pelan. “Kami sudah lama tidak keluar dari hutan ini. Terlalu berbahaya. Aku masih tidak percaya. Dia berjanji akan menemui kami lagi dan merebut lembah-lembah subur tempat kami tinggal dulu. Tapi dia tak pernah datang.” “Perang terus berkecamuk. Kakekku sampai akhir hayatnya memperjuangkan tanah kalian, tapi musuh terlalu kuat dan licik. Beliau telah berpesan kepada kami untuk merebut tanah kalian. Lihatlah, Pedang Al Maghribi telah sampai kembali ke hutan ini. Tempat pandai besi terbaik kalian menempanya.” Mereka berdua terdiam, pandangan mereka jauh ke depan. Aku melanjutkan, “Bagaimanapun, kami masih memiliki tugas yang harus diselesaikan dan perlu istirahat sebentar,” kataku sambil duduk bersandar pada pohon mati.   “Kalau begitu, aku harus mendapatkan janji itu darimu. Kami telah mengorbankan banyak milik kami yang berharga untuk membuat pedang itu. Jika kau tak berhasil, pedang serta gadis itu akan lenyap.” “Aku mengerti,” jawabku.  “Ketika kalian kembali ke dunia manusia, jangan menceritakan kisah ini kepada siapa pun, jangan sebutkan ciri-ciri kami. Orang-orang kami telah dilupakan keberadaannya, dan saya berharap tetap seperti itu. Manusia akan sangat tama jika mengetahui ras kami masih tersisa.” "Tentu saja.," aku berjanji padanya.   “Tapi bukankah itu sangat menyedihkan? Kami dalam pelarian selama ratusan tahun. Bayangkan apa yang bisa dilakukan untuk bebas seperti dulu. Kami tidak memihak Al Masyriq ataupun Al Maghrib. Namun Al Masyriq mengambil tempat-tempat kami dan memaksa kami tunduk di bawah titah mereka. Kami tidak suka diperintah manusia, kami lebih unggul dalam banyak hal. Tapi manusa lebih kejam daripada yang bisa kami bayangkan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN