Didi sedang mengerjakan skenarionya yang sebentar lagi rampung. Pokoknya harus segera kelar sebelum dateline. Walaupun sebenarnya matanya sudah hampir lima watt, tapi bukan Didi namanya kalau dia mengerjakannya gak tepat waktu. Dia pun mengikat kepalanya degan handuk tangan, sambil bersorak “Ganbate!” “Yah!” Baru juga menyemangati diri tahu-tahu lampu bohlam di langit-langit mendadak mati. “Ih, ada-ada aja!” Didi menarik kursinya ke tengah. Menaikinya berniat menggapai bohlam, tapi gak sampai. Derit pintu terdengar Didi menoleh ke belakang ketika melihat pemuda tinggi itu bertelanjang d**a dengan rambut yang basah dan handuk yang bertengger di pundaknya masuk ke kamar. Sinar lampu dari luar membentuk siluet tubuh indah bak model Biren. Meuni menggugah selera! Didi langsung menelan lud

