Tak Peduli
"Kring...kringgg"
Suara handphone tiba tiba membuyarkan lamunanku.
"Haloo..ada apa Ti?" sapaku pada adikku
"Mbak bisa ke Rumah Sakit bentar ga?aku harus pulang.Ada sesuatu yang harus kukerjakan"sahut adikku dari seberang sana.
"Eh..ya Ti,tunggu bentar ya.Mbak siap-siap dulu"
"Oh,,oke mbak..hati- hati di jalan y Mbak"
Aku mengingat kembali apa yang terjadi pada ayahku.Sudah 6 hari ini ayah terbaring lemah di rumah sakit.Benturan yang cukup keras pada saat kecelakaan sukses membuat ayahku hanya mampu berbaring saja.
"Aku mau ke rumah sakit sebentar ya Mas,Tuti mau pulang katanya.Kasian juga dia terus di Rumah Sakit sendiri"aku minta ijin kepada suamiku
"Oh,ya.."
"Titip anak-anak"
"Hemmm.." hanya itu jawaban dari suamiku
Aku yang memang menunggu tanggapan dari suamiku hanya bisa bernafas panjang.Tidak ada kata-kata yang menanyakan bagaimana kondisi ayahku.Ataupun kemauan suamiku untuk sekedar melihat kondisi ayah di Rumah Sakit.
Ah..sudahlah,,buat apa dipusingkan pikirku.Semoga saja kesehatan Ayah segera membaik.
Sampai di rumah sakit,,aku disambut hangat oleh adikku Tuti.
"Gimana kondisi ayah?"
"Sudah ada perkembangan mbak,,ayah sudah belajar duduk tadi.Meskipun cuma sebentar dan masih pusing.tapi lumayan lah"adikku menjawab sambil membereskan barangnya.
"Oh,, syukurlah"rasa syukur tak lupa kupanjatkan dalam hati.Kondisi ayah sudah membaik gumamku
"Mbak ga apa2 aku tinggal sendiri ya,,nanti malam aku balik lagi"
"Ya ga papa lah..santai.."jawabku sambil memegang tangan Tuti
Kami hanya dua bersaudara.Aku anak tertua.Namaku Ainun.Dan adikku namanya Tuti.Tak pelak kalau ada apa apa dengan orang tua kami,maka hanya kami berdualah yang bertanggung jawab.
Aku memandangi wajah ayahku yang keriput.Sedih sekali melihat orang tua terbaring lemah dan tak berdaya.Teringat juga aku akan sikap suamiku yang acuh terhadap keluargaku.Seolah kami memang orang lain dalam kehidupan nya.Padahal tak sedikit bantuan yang sudah ayahku berikan.Apa memang sebegitu tidak berharga nya aku sehingga sampai orang tua ku pun tak dianggap olehnya.
Tiba tiba ayah membuka matanya.Setelah melihat sekelilingnya,ayah pun menyadari kalau bukan Tuti yang sekarang berada di sampingnya,melainkan aku anak pertamanya.
"Nak,sudah lama?suamimu mana?kamu sendirian ke sini?"
Aku diberondong pertanyaan oleh ayahku ketika sudah ingat betul siapa di sampingnya.
"Oh,sudah dari 1 jam yang lalu Ayah,Mas Awan ga ikut.Dia jaga anak-anak di rumah"
Ayahku hanya mengangguk kecil mendengarkan jawabanku.Rasa kecewa kembali terbersit di hati mengingat kembali bagaimana sikap suamiku.
Waktu berjalan sangat cepat.Aku habiskan dengan merawat ayahku, sembari mengobrol ringan dengannya.
Adikku Tuti pun akhirnya datang.Setelah ngobrol sebentar aku pun pamitan pada Ayah dan Tuti.
Sampai di rumah setelah membersihkan diri,samasekali tidak ada obrolan tentang bagaimana kondisi Ayahku.Aku pun enggan bercerita.Aku lebih fokus mengurus kedua buah hatiku karena aku tinggal cukup lama.Mereka jadi lebih manja denganku.Aku mengingat ngingat kapan terakhir aku ngobrol dengan suamiku,kapan terakhir aku tertawa di depannya aku pun sudah lupa.Ternyata sudah lama sekali.Begitulah suamiku,kalau kita tidak mendahului bicara dia tidak akan mau bicara.
Padahal kami sudah menikah selama 10 tahun tapi tetap aku merasa tidak mengenal suamiku.Sikapnya terlalu cuek dan dingin.