Chapter 6

1054 Kata
Setelah mengajar murid nya, Viera berjalan kaki menuju kerumah. Kenapa jalan kaki? Karna sekarang sudah pukul stengh 6 sore. Dan sudaj dipastikan jika tidak ada angkutan umum lewat jam segini. Ketika sampai di depan rumah nya, dia melihat banyak orang dan beberapa petugas. Dilihat dari seragamnya, Viera dapat menyimpulkan bahwa itu adalah petugas dari Rumah Sakit Jiwa. 'Siapa coba?' 'Apa jangan jangan?' "IBUUU!!" Teriak Viera dan langsung masuk kedalam rumahnya, ketika tiba didalam. Viera daoat melihat ibunya meronta meminta dilepaskan. Tetapi pihak RSJ tidak ada yang melepaskannya. "Pak, tolong lepasin ibu saya! Dia gak gila pak, dia gak gila!" Ucap Viera sambil memohon mohon kepada petugas tersebut. "Maaf dek, tidak bisa. Ibu kamu tadi telah diperiksa terlebih dahulu, dan beliau dinyatakan gila. Dan kemungkinan kecil beliau bisa sehat kembali, nanti disana kami akan melakukan psikis terhadap ibu kamu, karna gejala seperti ini biasanya terjadi karna tekanan." ucap salah satu petugas tersebut. "Saya gak mau pak! Ibu saya gak gila! Iya kan bu?" Tanya Viera ke ibunya, ibunya menatap heran gadis didepannya. "Siapa kamu?" Tanya ibunya sambil menatap kearah lain. Bagai ribuan jarum tertusuk hatinya kala mendengar ibunya melupakan dirinya. "Ibu ini Viera bu, anak Ibu." Ucap Viera yang sudah menangis tersedu sedu. "Saya gak punya anak! Saya gak punya siapa siapa, Suami saya meninggal. Saya sendiri, Hahahah. Saya sendiri hiks..hiks.. hiks.." Balas Ibu dewi dilanjut dengan tertawa garing nya dan tiba tiba menagis tersedu sedu. Para petugas yang melihat itu langsung menyuntikan cairan penenang kedalam tubuh Ibu Dewi, dan tubuh Bu Dewi langsung ambruk, beruntung petugas dengan sigap menahannya dan membawanya memasuki mobil untuk di bawa ke RSJ. Viera hanya bisa pasrah, sudah berulang kali dia melarang tapi para petugas itu tetap keukeuh membawa ibunya pergi. Sekarang, viera tinggal sendiri dirumah minimalis milik orang tuanya. Pasti kalian bertanya, siapa yang menelpon pihak RSJ. Jawabannya adalah tetangganya, karna Viera menitipkan ke tetangganya jika ibunya berbuat ulah maka segera telepon dirinya, tapi mereka sepertinya tidak menelpon dirinya. Sekarang Viera tinggal sendiri dirumahnya, tidak ada yang menemani, setelah ayahnya pergi meninggalkannya dan ibunya, sekarang ibunya yang meninggalkannya. Viera bukanlah orang yang kuat, kondisi keluarganya sangat memprihatinkan, ibunya gila, dan kemungkinan kecil akan sembuh. Sekarang Viera tidak bisa bermanja manja lagi, saudara pun Viera tidak tahu. Viera melirik gelang nya dipakainya, kata ayahnya gelang itu tidak boleh dilepas sampai kapan pun. Jadi, Viera menjaga gelang itu sesuai nasihat ayahnya. Viera menoleh kearah jam, jam menunjukan pukul setengah 7 malam, Viera berencana untuk ke makam almarhum ayahnya. Viera langsung beranjak tanpa mengganti pakaian yang masih memakai pakaian karate. •••♥••• Di lain tempat. Viero tengah termenung dibalkon kamarnya memikirkan gelang itu, dia melirik kearah gelangnya dan dilihatnya tulisan 'Xaviero F' Viero merasa Viera memiliki hubungan keluarga dengannya. "VERO! TURUN KEBAWAH CEPET MAKAN! MAU MATI LO, KALO GAK MAKAN!" Teriak Vieco sambil menggedor gedor pintu kamar Viero. "VERO! b***k YA LO?! CEPET TURUN b**o!" Teriak nya lagi. Ceklek. Suara pintu terbuka, munculah Viero sambil menatap datar abangnya. "Muka lo gak enak diliat banget! Nape lo?!" Tanya Vieco ketika melihat wajah Viero. "Males ngomong gue! Udahlah ayok katanya mau makan, lamban banget lo! Tau gitu gue makan lo aja!" ujar Viero sembari berjalan meninggalkan Vieco. "Sejak kapan lo jadi Kanibal?!" Ucap Viero sambil berjalan menuju meja makan bersama Viero. "Sejak lo gedor gedor pintu kamar gue!" Mereka sampai di meja makan. "Kalian kok lama banget?" Tanya Desy-momi Viero/e, Vieno dan Vieco. "Gatau tuh, Veronya ngaret!" "Enak aja! Gue gak ngaret ya! Lo aja ngebacot mulu!" Balas Viero. "Udah udah, sekarang makan. Jangan buat rusuh." Ucap Xendric--daddy Viere/o, Vieno dan Vieco. Mereka makan dalam keheningan, tidak ada yang membuka suara. Setelah selesai makan mereka berkumpul di Ruang keluarga, karna itu sudah menjadi rutinitas mereka. Desy-Mominya sedang membaca novel keluaran terbaru, Xendric-Daddynya sedang memainkan iPad nya jika ada berita tentang perusahaannya, Vieno Vieco dan Viere sedang bermain Ps, sedangan Viero dia sedang memikirkan gelang itu. Setelah lama berfikir, akhirnya Viero memutuskan untuk menanyakannya. "Mom?" Ucao Viero. "Iya? Kenapa?" Balas Desy-Mominya. "Vero, mau tanya." Ujar Viero. "Yaelah biasanya juga langsung tanya juga." Celetuk Viere "Kan basa basi dulu, b**o!" Cibir Viero. "Mau tanya apa gitu?" Tanya Desy-Mominya. "Yang punya gelang ini, Selain keluarga kita. Emang ada ya mom?" Tanya Viero sembari mengangkat tangan kananya yang terdapat gelang. "Nggak, soalnya gelang itu cuman keluarga kita yang punya. Meskipun yang lain punya pasti bahan sama ukiran nya berbeda, Momi udah nyuruh ke pembuat gelang ini, supaya dia gak bikin lagi gelang semacam ini." jawab Desy-Mominya. "Gelang ini dipake ke tangan kita, pas umur berapa?" tanya Viero. "Tiga hari setelah kalian dilahirkan." "Emang gelang ini dibuat nya berapa?" "Tujuh." Celetuk Vieno. "Tau darimana lo?" Tanya Viero sengit. "Yaelah, gue kakak tertua disini." balas Vieno tak kalah sengit. "Tua aja bangga!" Cibir Viero. "Bener kata Vieno, gelang ini bikinnya tujuh." Jawab sang Momi. "Berarti Momi, Daddy, bang Vieno, bang Vieco, bang Viere, aku, terus satunya siapa dong?" tanya Viero sembari menghitung menggunakan jarinya. "Kembaran lo!" Ceplos Vieno selaku kakak tertua. Semua mata tertuju padanya, Vieno yang tersadar akan omongannya menutup mulut nya sendiri, dan menatap mereka. Desy-Mominya menatap tajam kearahnya, begitupun Xendric-Ayahnya. Viere sama terkejutnya dengan Viero, Viero yang baru tahu kalo dirinya punya kembaran menatap Desy-Mominya seolah meminta penjelasan. Berbeda dengan Vieco yang sudah tahu. "Bener Mom?" tanya Viero lirih. Padahal semua keluarga menyembunyikan ini dari Viere dan Viero, karna kembaran Viero hilang saat umurnya masih Seminggu. Berbeda dengan Vieno dan Vieco yang sudah berumur satu tahun. Desy-Mominya tiba tiba meneteskan air mata, kejadian 16 tahun lalu teringat kembali, dia sudah berusaha melupakan, tapi ingatannya yang kuat membuatnya susah melupakan kejadian itu. Sejak kehilangan bayinya Desy-Mominya depresi dan butuh penanganan. Akhirnya Desy selama 3 bulan harus bulak balik ke Psikiater. Xendric yang melihat istrinya menangis langsung memeluknya dan menghapus air matanya. 'Mungkin ini saatnya.' Batin Desy Desy-Mominya, menatap suaminya. Xendric yang mengerti arti tatapan itu menghela nafas dan akan menjelaskannya. "Itu bener, kamu punya kembaran perempuan, wajah kalian sama, dia punya t**i lalat di paha sebelah kiri bagian belakang sama kayak kamu, dia hilang saat umurnya sudah seminggu, kami udah nyari dia kemana mana. Bahkan agen terbaik sudah dikerahkan, tapi gak ada yang nemuin kembaran kamu, dia kayak bukan hilang, melainkan diculik. Karna sepertinya ada orang yang menutupi keberadaannya dalam pencarian kami." Lirih Xendric. "Perempuan?" tanya Viero lirih. "Iya." "Namanya siapa?" Tanya Viero lagi. "Xaviera Frischia Xethin Palthis."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN