Sasaran Pertama

919 Kata
“ Sasaran pertama datang.” bisik Reina sambil tetap menaruh perhatian pada daftar menu didepannya, “ Sebenarnya yang ini lebih tertarik pada Jerry, hanya saja orang tuanya lebih tertarik pada Luke.” Sassy mengangkat wajahnya, menemukan sosok berambut panjang dengan langkah cepat menyeberangi ruangan ,” Jane ….” “ Gak ngefek, Jerry tidak dipandang oleh keluarganya setelah memutuskan hanya akan menjadi dokter hewan, bukan bisnisman. Perhatiannya lebih pada Luke sekarang, Buatnya prestige lebih penting daripada cinta.” Reina dan Sassy tertawa bersamaan mendengar nada kesal masih terdengar nyata, tapi memutuskan untuk diam. Bertukar pandang dengan Jerry yang segera melingkarkan lengan di bahu Jane. “ Siang Tante, Om …. Kenapa gak bilang dulu kalau mau ketemu WO disini, Sari bisa siapkan.” “ Mereka sudah mengatur semuanya.” Mama Cinta tersenyum sambil menjauhkan tubuh wangi yang memeluknya itu ,” terima kasih.” “ Halo calon pengantin.” Cinta berdiri dan memberi pelukan singkat“ Apa kabar ?” ditatapnya Sassy sekilas ketika melihat Sari mengedarkan pandangan mencari sosok Luke. Sassy mengangkat bahu tipis, menunjuk pintu masuk dengan dagunya. Laki laki itu tengah memasuki ruangan setelah keluar untuk memidahkan posisi mobilnya. “ Luke … apa kabar ?” Sassy tidak menutupi senyum gelinya melihat bahu yang ditegakkan sambil mengibaskan rambut dengan provokatif seperti di film film . “ Hai ….” Sahut Luke singkat dan menarik kursi disamping Sassy ,” apa senyum senyum ?” bisiknya sebelum duduk. Sassy menatapnya sambil tersenyum lebar ,” ini kenapa, main air ?” diulurkannya tangan menjentikkan tetesan air di bahu Luke. Diangkatnya alis sambil tersenyum jahil saat Luke menarik tempat duduk nyaris menempel ke kursinya. Luke tak dapat menahan senyumnya, mendekatkan wajah dan berbisik di telinga Sassy ,” Good job, hati hati bukan hanya dia yang tertipu … tapi keluargaku berharap banyak.” tertawa ketika ujung siku Sassy menghantam perutnya. “ Itu sengaja memberi tempat untuk dia disebelahmu.” guman Sassy melemparkan pandangan pada ruang ksong diantara kursi Luke dan Papanya sebelum meneguk air didepannya. Mendengus geli mendengar Luke mengumpat pelan “ Lama gak kelihatan, Luke.” Sari menarik kursi dari meja sebelah dan duduk mendekati Luke. “ Gak juga, aku pengennya malah gak terlihat.” sahut Luke bahkan tanpa memalingkan wajahnya Sassy berusaha keras menahan tawanya saat beradu pandang dengan Cinta dan mamanya. Dialihkannya pandangan pada lelaki yang menampakkan raut bosan tanpa ditutupi sementara Sari berusaha menarik perhatian dengan percakapan searah. “ Cinta … kakak sulungmu ini gak berubah ya dari dulu, irit bicara.” Cinta tersenyum ,” Gak juga sih.” “ Tapi bisa juga ngobrol kalau sudah dekat, ya kan Luke ?” perempuan itu tertawa kecil ,” Teman teman dulu sampai iri karena Luke masih mau menyahuti ucapanku.” sedikit puas melihat Sassy menunduk dalam. Luke mendengus, tangannya menekan tangan Sassy yang masih memelihara diamnya. Setelah beberapa saat, Sassy mengangkat kepalanya “ Bang keluar sebentar yuk.” ujarnya pada Luke dengan pandangan mengarah pada perempuan yang tidak beranjak dari kursinya.. Sambil setengah cemberut diraihnya lengan Luke. “ Iya … iya, sebentar, mau kemana ?” Luke berdiri dan meraih bahu Sassy, mengarahkannya ke salah satu sudut ruangan ,” Lama amat ?” gerutunya. Sassy bersandar sambil bersidekap ,” Aku harus mengatur nafas dulu, gak lucu kalau aku malah tertawa.” sahutnya tak acuh ,” Jadi …. berapa yang harus aku hadapi sampai hari H nanti ?” “ Yang sekelas itu tiga … belum yang malu malu.” dirapikannya rambut Sassy ketika gadis itu meniup niup poninya ,” Juga beberapa mantan yang berharap balikan. Jangan lupakan para orang tua yang juga ikut campur.” Sassy menunduk dan menggoreskan ujung sepatunya ke lantai ,” kalau hitunganya per person, bisa mahal bayaranku.” “ Potential husband itu nama tengahku, kamu yang bilang.” “ Aku gak berani mengangkat muka, takut tertawa.” Sassy menggigit bibirnya menahan tawa ,” Aduuuuh …. aku seperti lagi syuting film dengan penonton di meja sana. Ehm … Sari ke arah sini, gimana dong, aku pengen ketawa.” Luke menghela nafas ,” Kenapa harus aku yang mengambil peran, dodol.” diraihnya tubuh Sassy dan memeluknya, membiarkan gadis itu menyembunyikan wajah di dadanya. Diciumnya ujung kepala Sassy, membuat Sari menghentikan langkah dan tertegun sejenak sebelum berbelok tanpa menyapa. Untuk beberapa saat keduanya terdiam sebelum dengan kikuk menjauhkan diri. “ It’s too much ….” Sassy menggaruk kepalanya. Luke berdehem ,” Spontan aja … makanya tahan tawamu lain kali.” Sassy cemberut ,” Cukup dengan menyembunyikan wajahku, apa perlunya men ….” Luke tarsenyum jahil melihat wajah itu merona ,” Bisa saja aku menciummu di tempat lain.” tertawa ketika Sassy meninggalkannya dengan langkah lebar. Cinta bertepuk tangan ketika keduanya sampai di meja dan duduk dengan diam ,” Kalian cukup meyakinkan …" “ Hebat ya …. rona merah wajahmu natural. Luar biasa …..” Reina mendorong bahu Sassy dengan bahunya. “ Bang …. jangan ambil kesempatan dalam kesempitan.” Jerry bersidekap menatap Luke yang menampaknya wajah datarnya, namun bukan berarti mereka tidak meihat kehangatan di balik mata kelam yang berusaha menyembunyikan binarnya. Luke bukan orang yang spontan, dan bukan jenis lelaki yang mudah disentuh atau menyentuh. Tapi hari ini saja, hari pertama dari ‘perjanjian’ mereka … ia sudah dua kali memeluk Sassy. Luke hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya sebelum menyesap kopi. Reina menatap Sassy yang menyibukkan diri dengan mengaduk minumannya ,” minuman itu gak perlu diaduk lagi.” Sassy menggertakkan gigi ,” Untung kakak lagi hamil.” desisnya kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN