* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa Kaila udah pernah bilang sejak dia jatuh cinta dengan Satria Ardana, ada satu lagu yang masih membekas di pikiran Kaila hingga detik ini. Bukan karena Satria pernah menyanyikan lagu itu untuknya, tapikarena setiap liriknya mengingatkan gadis itu pada sang kekasih.
Ada banyak lagu yang liriknya meamng selalu relate dengan kisah percintaan seseorang, tapi yang satu ini, entahlah, Kaila hanya selalu tersenyum setiap mengingat Satria saat telinganya mendengar lagu itu. Dengan catatan, hanya reff-nya saja. Karena jika didengarkan dari keseluruhan lagu, sebetulnya itu bukan u dengan launtuk lagu orang yang jatuh cinta, melainkan kebalikannya, yakni untuk hubungan yang rusak—well, itu kalau Kaila gak salah menerjemahkan lirik.
You've got those big blue eyes
Drive me crazy
Make me fantasize
'Bout you baby
And you smell so sweet
Like fresh-picked daisies
Call me Dahmer 'cause your heart's so tasty
Begitu liriknya berbunyi.
Walaupun mata Satria tidak berwarna biru juga tidak besar—malah cenderung sipit, tapi tetap saja. Kaila selalu jatuh cinta dengan lagu itu karena membuatnya merindukan Satria.
Mata Satria adalah satu pasang mata favorit Kaila. Caranya memandang lembut dan penuh kasih sayang untuk dia, harum Satria yang segar dan manis terpadu menjadi satu, membuat Kaila dibuat nyaman sekaligus mabuk kepayang setiap kali dia memeluk Satria dan mengendus harumnya. Perhatian dan penertian Satria yang selama ini diberikan kepada Kaila. Siapa yang sangka, sih, kalau Satria yang selama ini dijuluki si tukang marah-marah bakalan jadi orang paling sabar yang pernah Kaila kenal?
Kaila merasa lebih dari cukup dengan memiliki Satria dalam hidupnya. Laki-laki itu tak hanya memiliki peran sebagai kekasih untuk dia, namun juga seperti ayah, seperti kakak, seperti sahabat, Satria seolah multitasking.
Maka dari itu, dia gak heran kenapa Kaila bisa senyaman dan sesayang itu sama Satria.
Maka dari itu juga, Kaila suka heran kalau insecure-nya Satria kambuh. Ada di satu hari, dimana Satria mengeluh karena dia merasa tidak pantas bersanding dengan Kaila. Katanya, sifat pemarah dan pencemburu ini membuat Satria suka takut sendiri kalau membuat Kaila tak nyaman dan jadi meninggalkannya.
Padahal—hei, Kaila mencintai Satria dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang perasaannya. Kaila memilih Satra atas banyaknya pertimbangan dari dia juga dari orang tuanya. Lalu jika sudah mendapat approval dari semua orang, tandanya Tuhan juga sudah mengizinkan agar keduanya bersatu dan saling melengkapi, kan?
Lagi pula kalau Kaila betulan tidak sesayang itu dengan laki-laki bernama Satria Ardana tersebut, mana mungkin dia bertahan dengan Satria hingga dua tahun lamanya begini? Benar, kan?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Saat ini hari Minggu.
Biar Kaila jabarkan dulu dengan singkat apa kegiatannya hari ini.
Dia terbangun di pukul setengah lima. Tapi karena perempuan iu sedang mendapat tamu dari bulan alias lagi menstruasi, jadi dia tidak bergerak dari kasur, melainkan semakin merapatkan selimut dan tidur lagi.
Di pukul enam, dia terbangun lagi dan langsung turun dari ranjang. Mendapati rumahnya seperti tak ada nyawa lagi selain dirinya, Kaila agak panik. Karena dia jarang banget, sih, nemuin suasana kosong di rumahnya seperti saat ini.
“Maaaa?!”
“Di belakaaaang!”
Oh.
Kaila bukan langsung nyamperin ibunya, tapi balik lagi ke kamar buat ngekipet selimut dan bersihin kamar. Toh yang dia pastiin cuman ada ibunya apa gak di dalam rumah, karena kalau gak, maka itu harus dipertanyakan karena gak mungkin ibunya Minggu-Minggu gini keluar rumah di pagi hari sementara biasanya dia yoga di taman belakang atau senam pakai lagu rohani disana.
Setelah itu, dia membantu ibunya untuk bersih-bersih rumah dan masak, yang mana itu bakalan berakhir di pukul delapan pagi. Setelah itu, barulah dia bisa buka hape. Dan kegiatan kayak ini tuh udah kayak jadi kegiatan rutin di hati Minggu : Kaila baru bisa buka hape di jam delapan pagi.
Dia mendapati chat masuk dari pacarnya dari sejam yang lalu.
Satria Ardana :
hari ini jadwalnya apa aja, Kai, kamu?
Mendapati chat dari mas pacar kayak gitu isinya, Kaila diem dulu buat inget-inget apa aja kegiatan yang bakal dia lakuin hari ini. Kemudian jemarinya mulai bergerak untuk mengetik balasan atas pesan masuk tersebut.
Kaila Ayunda :
tetep kayak biasanya, gak kemana-mana juga.
kamu mau kesini gak, mas?
Nah, satu hal lagi kemajuan dalam hubungan Satria dan Kaila adalah, cewek itu jadi ketagihan manggil mas-mas mulu. Kalau dulu pas awal pacaran Kaila bakal manggil gitu cuman buat ngerayu Satria biar gak marah, atau pas dia yang lagi ngerajuk. Sekarang ini, dia selalu manggil mas—gak selalu juga, sih. Biasanya kalau lagi minat juga bisa manggil sayang—yang mana sampai sekarang Satria lebih berharap dipanggil sayang dari pada mas. Tapi Kaila yang menolak manggil sayang terus-terusan karena katanya dia kalau sayang terus bakalan gak spesial lagi panggilannya dan Satria jadi gak salah tingkah lagi soalnya udah biasa. Paham, gak, maksud Kaila?
Satria Ardana :
boleh.
abis itu temenin aku ke tempat cuci foto, ya?
Kaila Ayunda :
okeee
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa yang paling bikin Kaila klepek-klepek sama si pacar? Gak susah jawabanya dan kaila gak perlu mikir buat ngasih jawaban di detik pertama.
Adalah ketika Satria Ardana, pacarnya yang tampan itu, selesai berwudhu. Mungkin dia bukan satu-satunya cewek yang bilang kalau cowok lebih ganteng dua kali lipat—atau bahkan sampai lima puluh kali lipat—ketika mereka abis wudhu. Dibalut dengan baju takwa yang biasanya di bagian lengan akan Satria tarik hingga siku, rambutnya yang setengah basah dan masih beberapa kali menetes ke lantai, senyumnya yang manis kala keduanya bersitatap saat Kaila keluar juga dari tempat wudhu wanita—astaga, Kaila rasa dia akan pingsan.
Satria benar-benar membuat jantungnya berdetak semakin kencang hanya karena hal sesederhana itu.
Baiklah, biarkan Kaila cerita sedikit saja untuk memberi tahu yang lain seberapa spesial Satria untuk dirinya di dalam hidup yang kejam dan hitam ini.
Kaila tidak mau munafik dan berbohong, dia memang sering didekati oleh laki-laki. Banyak macam dan rasnya, tapi tentu tak semua laki-laki akan ia tampung dan respon. Kaila tidak pernah tertarik menjalin hubungan dengan laki-laki—bahkan dulu dia pernah menargetkan untuk pacaran di usia minimal dua puluh lima tahun saja saat dia sudah bisa kerja dan dapet uang sendiri. Selain karena dia sudah bisa berpikiran dewasa di usia dua puluh lima tahun, alasan lainnya adalah karena dia gak mau kuliahnya terganggu.
Tapi kalau takdir berkata lain, dia bisa apa?
Dia juga gak pernah menyangka kalau dia tiba-tiba akan bertemu dengan laki-laki bernama Satria Ardana dari kalangan terkenal karena karya dan karirnya hanya karena tak sengaja bertemu di perpustakaan kota? Semuanya out of expectation.
Dulu, Kaila ingat sekali, rasa nyaman yang membelenggu dalam hatinya saat dia sedang bersama Satria tak sebesar apa yang dia rasakan saat ini. Dulu dia memang sudah suka, sudah nyaman puka, tapi bukan berarti dia sudah menyayangi apa lagi mencintai laki-laki itu.
Malahan dia harus mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya mau merespon chat masuk dari Satria dulu saat keduanya masih berada di masa PDKT. Banyak sekali halangan dan rasa belum klop yang dirasakan Kaila dulu.
Sampai kemudian di suatu hari yang cerah, tepatnya di pukul sebelas saat dia dan Satria hendak ke satu tempat observasi Kaila—iya, Satria cuman bagian nganter doang—cowok itu tiba-tiba membelokkan mobilnya ke arah lain.
“Loh, salah jalan,” Kaila menegakkan punggung dan memberi tahu. “Masih terus ini.”
“Iya, berhenti dulu.”
“Ngapain? Mau pipis?”
Satria gak menjawab, sampai kemudian mobil yang dikendarai Satria memasuki tempat parkir masjid besar di sana. Kaila langsung diam setelah dia melirik jam tangannya yang jarumnya baru menunjuk di angka sebelas.
Seperti yang telah diceritakan Kaila tadi, dia sering didekati laki-laki. Tapi tak pernah satupun dari mereka yang ingat dengan kewajibannya sebagai umat muslim apa lagi kalau lagi hangout sama gebetan begini, juga apa lagi kalau sholat dhuhur. Yang mana kalau sholat dhuhur lebih banyak diremehin orang, banyak orang males ngelakuin dengan berbagai macam alasan—panaslah, ngantuklah, capeklah.
Tapi Satria berbeda. Bahkan sebelum adzan berkumandang merdu, laki-laki tersebut sudah berhenti dan memasuki masjid.
Mungkin bagi orang lain, ini hanyalah hal biasa yang mana semua orang bisa ngelakuin. Tapi itu jelas beda. Kaila tahu rasanya yang sengaja caper dan yang emang sadar diri sama kewajibannya sebagai umat muslim. Dan Satria berada di opsi kedua. Bagaimana Kaila tidak jatuh hati?
Kemudian di siang tersebut jugalah dia menemukan Satria yang wajahnya seolah bersinar dan menambah tingkat ketampanan kala keduanya berpapasan saat Satria selesai berwudhu. Tak berhenti disana kekaguman yang ia rasakan di hari itu. Saat dia sudah memasang mukenah dan berdiri di shaf di samping nenek-nenek yang berusia sekitar tujuh puluh-an, Kaila dapat mendengar percakapan dari kejauhan yang mana ada suara Satria pula di antara suara pria yang lainnya.
“Silahkan, Pak, diimamin.” suara satu orang yang lainnya sebelum kemudian suara-suara lain menyambut.
“Bapak aja udah, saya gak pengalaman ngimamin.”
“Loh, kyainya kemana, sih? Biasanya ada Pak Kyai Ghazali yang ngimamin.”
“Kyai kan lagi sakit. Udah bapak aja. Ayo, ditungguin makmum tuh.”
Di antara perdebatan tersebut, suara Satria tiba-tiba muncul dengan lembut dan sopannya.
“Kalau saya yang ngeimamin gak papa, Pak?”
“Nah, ini! Kamu aja, Dek. Bapak-bapak ini belum pernah ngeimamin dan pada gak percaya diri.”
Kaila yang mengintip dari celah kelambu ke arah punggung Satria yang kini sedang maju ke depan di tempat shaf imam langsung merasakan hatinya menghangat sekaligus melambung tinggi. Lengkung senyum di bibirnay terbentuk begitu saja.
“Itu pacarnya adek?”
Nenek di sampingnya menoleh ke dia dan bertanya demikian.
Kaila menggeleng kecil. “Teman, Nek.”
Nenek tersenyum kecil sambil mengusap pundaknya dengan tangan terangkat naik karena tinggi Kaila yang agak jauh dengan nenek. “Dia akan jadi suami yang baik. Percaya sama nenek.”
Walaupun Kaila tahu itu tidak ada hubungannya dengan dia, tapi entah kenapa kalimat dari nenek di sampingnya membuat Kaila bisa membayangkan seperti apa Satria di enam atau tujuh tahun ke depan. Laki-laki itu memang terlihat seperti calon suami dan ayah yang baik. Semua orang akan setuju dengan pendapatnya.
Lalu ketika kalimat takbir diucap Satria sebagai tanda bahwa sholat telah dimulai, disitulah Kaila menyadari satu hal.
Dia memiliki perasaan lebih untuk Satria. Tidak hanya nyaman, tidak hanya suka, tapi juga kagum dan mengidolakannya...
...sebagai pasangan hidup.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Seseorang mencubit hidungnya, membuat Kaila yang sedang duduk di tangga masjid jadi menoleh dan menatap kesal ke arah pelaku.
“Sakit, tahu.”
“Lagian ngelamun,” Satria duduk di sampingnya sembari menali sepatu. “Ngantuk, ya? Kayaknya aku salah ngajak jalan jam segini.”
“Kenapa salah?”
“Ya, kan, ini jam tidur siang. Pantes kamu mau merem begitu.”
“Orang aku gak ngantuk.”
“Tapi ngelamun sampai gak sadar aku udah disini.”
Kaila nyengir.
“Ngelamunin apa, sih? Orang pacarnya gak kemana-mana juga.”
“Yeeee, geer banget si bapak. Emangnya yang bisa aku lamunin cuman anda doang?”
Padahal, mah, emang lagi asik ngelamun flashback kisahnya dulu di awal dia dekat dengan Satria. Emang cewek-cewek, tuh, kayaknya terlahir dengan gengsi yang melangit. Tinggal ngaku aja susah.
“Yuk, berdiri,” Satria bangkit dari duduknya setelah dua sepatu telah ia tali dengan rapi.
Kaila meluruskan tangannya ke atas, meminta Satria agar mau menariknya berdiri. Cowok itu senyum sambil menarik tangan sang pacar, lalu menepuk-nepuk kepala Kaila seperti anak anjing, padahal mah maksudnya dia gemes aja gitu, loh.
“Kamu besok bimbingan, ya?”
Satria mengangguk. “Kamu juga, kan?”
“Gak jadi. Aku belum cerita, ya? Bimbingannya diundur Rabu, katanya anak Bu Ilma lagi sakit gitu.”
Satria jadi noleh ke arah Kaila karea denger itu. Bukan tanpa alasan juga dia jadi ngelihatin sang pacar. Tapi dia tahu kalau Kaila bakalan mendadak kehilangan mood bagusnya kalau begini ceritanya. Sejak seminggu yang lalu, Bu Ilma selalu bikin alasan buat ngulur-ngulur waktu bimbingan, yang mana itu bikin Kaila pusing setengah mati karena taargetnya, kan, pengen cepet lulus. Tapi kalau begini ceritanya, gimana skripsi Kaila bisa lancar sementara dospemnya aja susah banget buat diajakin bimbingan?
Satria mengusap kepala Kaila lembut. “Langsung bete, ya?”
“...”
“Aku gak bisa bilang apa-apa. Iya, sih, agak keterlaluan karena Bu Ilma kayak mempersulit. Tapi positive thinking aja, ya, Sayang? Siapa tahu anaknya emang lagi sakit dan Bu Ilma gak bisa ninggalin anaknya sendirian?”
“Iya, aku juga nyoba positive thinking dari kemarin-kemarin juga.”
“Sama banyakin doa biar beneran bisa cumlaude.”
“Aamiin. Pasti, dong, itu! Kita, kan, mau lulus bareng.”
Satria terkekeh. “Abis setahun atau dua tahun kerja, aku nikahin, ya?”
“Iya—eh?!”
Kaila yang lagi nunduk sambil membersihkan kukunya jadi noleh sambil melotot kaget. “Apa? Kamu bilang apa?”
“Kita,” ulang Satria. “Nikah nanti.”
Blush!
Pipi Kaila langsung memerah sampai telinga, diperparah dengan ia yang menggigit bibir bawahnya karena malu. “Apa, sih, ngomongnya jauh banget.”
“Loh, bener dong diomongin dari sekarang. Kita udah mau selesai skripsiannya, tinggal cari kerja. Terus nyari apa lagi? Kalau aku udah beli rumah, tinggal nikahin kamu doang yang belum kesampaian.”
“...” Kaila masih speechless. Ya dia juga pengen sih nikah sama Satria. Tapi selama ini dia gak pernah membahas secara langsung kayak gini. mereka gak pernah berkespetasi tinggi ke masa depan walaupun kelihatan banget dua-duanya juga ingin begitu.
“Emang kamu gak ada keinginan buat nikah sama aku?”
“...”
“Please, Kai, jangan bilang emang gak ada?”
Satria jelas panik, lah. Dari awal dia kenal Kaila, dia udah banyak nabung buat beli rumah dan hemat-hemat buat kebutuhannya nanti kalau udah menikah, dan gak ada perempuan lain yang pernah ia inginkan bua mendampinginya di depan penghulu hingga menua nanti selain Kaila.
Kalau Kaila gak mau, Satria udah gak tahu harus gimana lagi.
“Mau, lah. Gila apa kalau aku gak mau nikah sama kamu?
Dan jawaban itu membuat Satria langsung menghembuskan nafas lega. Dia baru sadar pundaknya dari tadi tegang banget.
“Astaga, syukurlah,”
Masih dengan senyum malu-malu kucing, Kaila berujar sambil mengusap tangan kiri Satria yang nganggur. “Takut, ya, Mas kalau gak nikah sama kamu?”
“Ya menurut kamu aja, deh.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Berjuta rasa rasa yang 'tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat kubahagia
Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang benar-benar kuinginkan hanyalah
Kau untuk selalu di sini ada untukku
Maukah kau 'tuk menjadi pilihanku?
Menjadi yang terakhir dalam hidupku
Maukah kau 'tuk menjadi yang pertama?
Yang selalu ada di saat pagi kumembuka mata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *