* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kaila bener-bener benci hari Senin.
Well, kebanyakan orang emang gitu gak, sih? Dan Kaila bukan orang aneh di dunia cuman gara-gara benci hari Senin, kan?
Selain karena hari Senin adalah hari awal untuk memulai minggu, di hari Seninnya, gadis cantik dengan kulit putih sekali itu memiliki jadwal padat. Kuliahnya, kerjanya, jadwal lain-lainnya, selalu bertubrukan di hari Senin.
Sejujurnya, tadi pagi mood gadis itu sedang bagus karena... entahlah. Tidak ada alasan khusus. Pernah gak, sih, tiba-tiba ngerasa mood bagus banget tanpa alasan atau mood buruk tanpa alasan? Begitu pula dengan Kaila tadi.
Mungkin, kalau bisa dimungkinkan, Kaila memiliki mood bagus karena setelah bangun tidur tadi di pukul setengah lima, gadis itu bisa langsung jadi manusia produktif. Biasanya setelah bangun, dia akan bermalas-malasan di atas kasur dengan buka hape terus melakukan hal yang gak berguna bagi masa depannya. Tapi tadi tidak. Dia bahkan bangun-bangun kaget karena dia kira dia bakal bangun kesiangan—mengingat kemarin dia baru pulang dari jalan sama pacarnya, tuh, kemaleman.
Akhirnya, setelah bangun, dia langsung buka laptop dan nyicil tugas. Harus digarisbawahi bahwa dia bener-bener langsung ngerjain tugas abis bangun tidur. Belum turun kasur sama sekali, masih dengan matanya yang sayu karena masih mengantuk, belum cuci muka dan sikat gigi, apa lagi mandi.
Setelah itu, dia benar-benar bisa menyelesaikan tugasnya yang emang belum dia kerjain itu di pukul tujuh. Barulah setelah semua kewajibannya untuk menyelesaikan tugas selesai, gadis itu langsung beraktivitas seperti biasa.
Kaila memiliki janji bertemu dengan dosennya di pukul setengah sepuluh, artinya dia masih memiliki sekitar dua jam sebelum berangkat ke kampus. Setelah melakukan ini dan itu—yang pasti maksud dia adalah membantu sang ibu memasak dan membersihkan rumah—dia udah siap berangkat ke kampus.
Sayang seribu sayang, dosen—lagi dan lagi—membatalkan janji begitu saja.
Akhirnya sejak jam itulah Kaila jadi turun moodnya. Dia langsung malas ngapa-ngapain. Saking sebalnya dengan sang dosen, Kaila bahkan sampai dimarahi sang ibunya karena beberapa kali dipanggil gak nyaut. Padahal dia gak merespon panggilan ibunya bukan karena dia bad mood tapi karena dia betulan gak denger.
Akhirnya, di tengah hari alias sekitar pukul dua belas siang, satu-satunya kegiatan yang dia lakukan adalah melanjutkan kerjaannya—well, Kaila emang sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta yang mana gak perlu ke kantornya karena dia cuman Assistent Business Concelour. Pekerjaan yang dia tekuni ini gak membuatnya harus keluar rumah karena emang sistemnya Work From Home. Makanya pas dia ditawarin sama salah satu BC atau Business Concelour, dia langsung mengiyakan. Toh pekerjaan ini memang sesuai dengan bakat dan minatnya—dia bahkan lebih seneng kerja disini dari pada ngebayangin abis lulus bakalan kerja yang sesuai dengan jurusan kuliahnya.
Dengan mood buruk, gadis itu mengambil nafas dalam, mengeluarkan udaranya dengan pelan, berharap dia bisa membenahi suasana hatinya yang sudah rusak ini. Tapi baru dia ngerjain setengah jam, ponselnya yang dari tadi dia taruh di samping pahanya sementara gadis itu tengah di atas ranjang dengan posisi duduk bersila itu bergetar.
Kaila yang lagi fokus banget jadi terpecah perhatiannya. Dia melirik ke arah samping, jemarinya turut berhenti mengetik di atas keyboard. Tanpa menyentuh ponselnya, Kaila hanya membaca pesan masuk yang ternyata dari sang kekasih itu sekilas sebelum lanjut mengetik lagi.
Satria Ardanaa :
kamu lagi di kampus?
jadi bimbingan gak?
Karena sejujurnya pertanyaan Satria hanya membuat dia semakin ingat dengan dosen pembimbingnya yang lagi-lagi ingkar janji dan membatalkan pertemuan mereka.
Ah, bisakah Kaila Ayunda menangis saja saat ini?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Di pukul tiga sore lebih sedkit, Kaila masih belum bergerak dari posisi duduknya sedari tadi. Bedanya, kalau tadi punggung Kaila duduk tegap dengan muka masih semangat karena baru mulai ngerjain kerjaannya, sekarang dia udah bersandar malas di kepala ranjang dan beberapa kali menyamankan posisi duduk karena udah capek.
Kepalanya dia gelengkan ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan rasa lelah dan kebas, begitu pula pada jemarinya. Jadi berasa kayak abis angkat-angkat bahan bangunan aja dia kalau gini. Padahal, mah, beneran capek walaupun kelihatannya dari tadi cuman ngetik dan duduk.
Kemudian Kaila tersenyum puas kala dia sadar bahwa pekerjaannya sudah selesai. Dia menyeringai senang dengan bahu melemas, tanda bahwa dia lega karena satu pekerjaannya sudah selesai. Hembusan nafasnya terdengar menyusul.
“Akhirnya...” ujarnya kemudian mulai merapikan barang-barang di sekitarnya. Seperti mencabut charger laptop dan menggulungnya rapi.
Tapi belum selesai dia merapikan barang-barang yang lain, gadis itu baru sadar kalau dari tadi belum buka hape. Pun dia baru ingat kalau pesan dari pacarnya tadi belum dia baca. Kaila langsung cepat-cepat mengambil ponselnya yang tergeletak dan kala dia mengetuk dua kali layarnya agar hidup, ternyata gagal.
“Ya ampun,” Kaila bergumam kala baru sadar baterai hapenya sudah habis.
Dia segera memasang charger di ponsel. Sementara itu, baru dia hendak memasang kepala charger ke stop kontak, pintu kamarnya terdengar diketuk oleh seseorang—suara ibunya.
“Kaila?”
“Ya, Ma?”
“Mama buka, ya? Kamu lagi ngapain?”
“Buka aja, Ma. Gak lagi ngapa-ngapain.”
Kemudian pintu terbuka, menampilkan ibunya yang dibalut pakaian rapi dan berkerudung—Kaila tebak hendak pergi walaupun ia tak tahu hendak kemana.
“Kenapa, Ma?”
“Mama mau tahlil.”
Kaila mengernyit sesaat sebelum kemudian ber-oh ria. “Ooh, iya. Senin, kan, ya, sekarang?”
“Iya. Nanti Mama lewat kedai yang biasanya, kamu titip sesuatu?”
“Boleh, deh. Basreng, ya, Ma?”
“Hadeh, basreng lagi. Batuk baru tahu.”
“Ya Allah, orang kau terakhir makan basreng aja ada kali satu bulan yang lalu. Pokoknya basreng, ya, Ma? Lima ribu aja, deh.”
“Oke, kalau Mama gak lupa, ya,”
Kaila manggut-manggut sebagai respon.
“Oh, ya Tuhan. Mama tadi kesini bukan buat pamitan ke kamu, loh, Kai, padahal.”
“Hah?” Kaila yang noleh lagi jadi melongo bingung. “Maksudnya?”
“Mama nyamperin kamu buat ngasih tahu. Satria ada di ruang tamu, tuh.”
“Satria? Oh, oke abis ini aku turun.”
“Iya, cepetan. Udah nungguin dari tahun kemarin juga.”
Kaila terkikik geli. Mamanya, nih, emang suka banget ngejokes yang mana candaannya itu garing.
“Udah, ya. Mama berangkat. Assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sebelum nemuin sang pacar, Kaila jelas harus ganti baju dulu karena tadi dia pakai celana pendek. Oh, sori. Ralat. Artinya dia harus ganti celana doang, bukan ganti baju.
Sebenernya gak pendek-pendek amat sih, gak yang sampai menutupi satu perempat dari keseluruhan pahanya. Hanya saja, dulu dia pernah pakai yang tiga perempat dari pahanya, Satria pernah negur.
“Ada aku, loh, disini. Kamu kenapa pake pendek banget, deh?”
Tapi Kaila jelas gak tersinggung. Yang ada dia malah tersanjung karena Satria emang segentle dan sesopan itu sama cewek. Dia gak pernah mau Kaila pakai baju aneh-aneh. Pun Kaila yang suka pakai dress, sekarang gak pernah lagi pakai dress yang ketat—yah walaupun dari dulu dia juga gak pernah pakai yang ketat, sih.
Setelah dia memadukan kaosnya dengan celana kain selutut, Kaila keluar dari kamar. Pacarnya langsung noleh ke arah dia karena suara langkah kaki Kaila yang terdengar. Satria yang lagi duduk sambil main ponsel langsung melengkungkan senyum.
“Aku ganggu gak kalau kesini?”
Kaila menggeleng. Dia tetap berdiri di samping Satria yang duduk di sofa. Tangannya mengusap pipi Satria. “Dari mana ini tadi?”
“Rumah. Kamu aku telponin dari tadi siang gak bales sama sekali.”
“Hehe, bateraiku abis. Baru nyadar ini tadi.”
“Sekarang udah di charge?”
“Udah, di kamar hapenya.”
Satria manggut-manggut. Dia menggeser duduknya untuk sang pacar. Menepuk sofa di sampingnya. “Sini.”
Kaila menurut. Dia membenarkan poninya yang berjatuhan menutupi mata untuk ia arahkan ke belakang, kemudian menatap layar yang sama seperti yang Satria lihat. Kekasihnya terlihat membalas pesan di grup Lima Hari sebelum kemudian mematikan ponsel dan menaruh di meja.
“Kamu ngapain ini tadi?”
“Ngerjain sheetnya kantor.”
“Oh, kayak biasanya?”
Kaila manggut-manggut. Kepalanya ia sandarkan di pundak Satria, kemudian menghela nafas kasar. Satria yang tahu tanda-tanda ada yang gak beres sama pacarnya jadi langsung ikut menghela nafas. Tangan kirinya mengusap kepala sang gadis.
“Capek?”
Kaila mengangguk. “Baru inget kalau kerjaanku belum selesai semua.”
“Yang mana?”
“Kantor,” jawab Kaila singkat. “Ternyata masih ada satu yang belum beres.”
“Deadline kapan?”
“Masih lama. Tapi—“
“Tapi kamu gak tenang kalau dikerjainnya gak sekarang?”
Kaila mengangguk lagi. “Mm-hm.”
“Gak papa, bisa dikerjain nanti malem. Atau besok.”
“Besok Selasa.”
“Oh, iya,” Satria baru inget kalau Selasanya Kaila ini bener-bener gak bisa diganggu. Sesibuk apapun Kaila di hari Senin, gak ada yang ngalahin sibuknya Kaila di hari Selasa. “Ya besoknya lagi. Rabu kamu, kan, kosong.”
“Iya. Tapi semoga nanti malem abis istirahat bentar aku bisa beresin.”
“Iya, aamiin.”
Kaila menjauhkan kepalanya dari pundak sang pacar. “Aku bikinin minum dulu. Mau apa?”
“Apa yang ada aja, deh.”
“Semuanya ada. Kamu mau aku suguhin semuanya?”
“Air putih kalau gitu.”
“Oke.”
Selagi Kaila ke dapur, Satria malah berdiri dan melangkahkan kakinya keluar rumah. Dia lupa kalau tadi pas kesini, dia bawa makanan yang sengaja dia beliin buat si pacar. Pas Kaila balik ke ruang tamu, Satria berjalan dari arah yang berlawanan dengan menenteng plastik warna putih.
“Wih, apa tuh?”
Satria menyerahkan kantung pelastik yang ia bawa kepada Kaila. “Buat kamu. Seblak ini. Level satu, jadi aman.”
“Di Mbak Yani?’
“Iya.”
Kaila tersenyum riang, dia maju untuk mencubit pipi pacarnya kemudian duduk di tempat semula. “Tumben banget mau beliin aku makanan kayak gini. Biasanya salad, kalau gak gitu jus, roti, s**u. Begitu-begitu.”
“Soalnya udah ada firasat mood kamu lagi jelek.”
“Karena?”
“Timothy bilang dosennya ingkar lagi, ya?” tanya Satria sedikit berhati-hati karena gak pengen merusak mood sang pacar yang barusan membaik karena ia belikan seblak.
“...iya.”
“Makan dulu, deh, seblaknya.”
Kaila terkekeh karena Satria langsung menggiring topik ke arah lain. Dia tahu banget Satria gak suka kalau lihat Kaila moodnya jelek. Makanya mencoba menghindari topik yang sekiranya mengganggu kesenangan Kaila.
“Mau?” Kaila menawarkan. “Pedes ini.”
“Mana ada pedes. Aku pesennya level 0,5.”
Kaila ketawa, “Mana ada level setengah? Orang tadi kamu juga bilangnya beli level satu.”
Cewek itu turun buat duduk di karpet, lalu mendongak ke arah pacarnya. “Sini. Mau gak? Aku juga gak habis kalau disuruh makan satu begini. Bentar, deh, aku ambilin sendok lagi.”
“Pakai sendok kamu aja. Aku gak makan banyak, kok. Nyicip doang.”
“Ooh, ya udah. Nih,” Kaila sendoknya ke arah sang pacar sambil tangannya berada di bawah sendok biar kuahnya gak netes.
“Suapin,” Satria membuka mulut.
Kaila mengambil sedikit seblak dari mangkuknya lalu menyuapkan ke bibir Satria.
“Pedes, gak?”
“Gak.”
Kaila mencibir. “Iyalah gak pedes. Kamu, kan, emang doyan lombok.”
Itu juga bener. Satria bener-bener suka banget sama makanan yang pedesnya gak main-main. Makanya orang kalau udah bilang pedes, bagi Satria pasti biasa aja karena dia sedoyan itu sama yang pedes-pedes. Makanya juga itu anak kalau sama orang lain suka banget ngegas. Orang makannya aja yang pedes-pedes. Makanya omongan dia ikutan pedes.
Hehe, peace!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jujur aja, Satria dan Kaila sama-sama gak selalu harus ada kepentingan kalau pas ke rumah. Ya gimana orang normal pacaran aja, lah, ya. Emang salah kalau tiba-tiba ke rumah padahal gak ada jadwal mau ngedate atau urusan yang lain?
Begitu pula sama Satria.
Tapi buat yang kali ini, sejujurnya selain karena Satria gak ada kegiatan apa-apa lagi sehingga punya banyak waktu jadinya dia ngide ke rumah sang pacar, sebenernya ini juga atas faktor Kaila yang gak bales chatnya. Bayangin. Dia ngechat dari jam tujuh atau delapan pagi—entahlah dia lupa—dan gak dapet balesan sama sekali padahal centang dua—ya walaupun belum di read. Kemudian dia ngechatin lagi, dan mulai banyak nelpon pas siang hari, gak ada yang diangkat. Yang mana lama-lama Kaila malah centang satu dengan arti cewek itu lagi oflline—yang ternyata salah, karena ponselnya mati akibat habis baterai.
Makanya, dia disini untuk itu. Well, sesebel apapun Satria karena pacarnya menghilang sekitar delapan atau sembilan jam—bahkan lebih kalau diitung dari kemarin malem dan sesungguhnya Kaila pernah ngilang lebih dari hitungan jam—Satria juga tetep lega karena pacarnya gak apa-apa. Bukannya kepingin kenapa-napa, tapi dia udah overthinking duluan takut kalau pacarnya lagi sakit atau gak di rumah buat keluyuran entah sama siapa—padahal selama ini gak pernah sih. Kaila lebih suka di rumah dari pada keluar. Pun kalau keluar, pasti juga sama Satria atau beberapa temen deketnya yang dikenal Satria dengan baik.
“Mau keluar, gak?” Satria nanya setelah keduanya bosen nonton FTV SCTV—yang gak tahu kenapa mereka ngelihat itu sampai udah hampir tamat.
“Kemana?”
“Terserah kamu.”
“Ye, aneh kamu,” Kaila menjauhkan kepala dari pundak Satria kemudian menegakkan punggung, gak lagi meniru Satria yang bersandar di punggung sofa—sekalipun dari tadi Kaila bukan nyender ke tempat yang sama tapi lebih ke lengannya Satria. “Yang ngajakin gak boleh bilang terserah, tau.”
Satria ketawa. “Ya kan aku gak tahu. Cuman pengen keluar aja sama kamu. Kamu gak pengen apa-apa emang? Eh, by the way mama kamu kok tahlilnya lama, sih?”
“Biasanya ke rumah temennya sekalian.”
“Ooh. Gak papa kamunya aku ajakin keluar?”
“Gak papa. Mama emang pernah ngelarang aku keluar kalau sama kamu?”
“Ya udah gih ganti baju.”
“Kemana dulu?”
“Gak tahu, dipikir di jalan aja nanti,” ujar Satria santai sambil mengedikkan baju. “Cepetan, keburu kemaleman.”
“Apanya kemaleman? Orang ini juga masih terang banget langitnya. Lagian mana bisa buru-buru. Aku mandi aja belum.”
“Gak usah mandi juga gak papa. Yang penting, kan, pagi udah mandi.”
Mendengar itu, langkah kaki Kaila langsung berhenti, dia noleh sedikit ke Satria yang posisi duduknya masih gak berubah sedikitpun. Melihat Kaila berekspresi aneh sampai dia gak bisa jabarin ekspresi apa itu namanya, Satria langsung memicing. Dia menegakkna punggung dan menatap pacarnya curiga.
“Jangan bilang kamu belum mandi dari pagi?”
“Hehe...”
“Demi apapun?”
Kaila nyengir. “Tadi, tuh, ngebut tugas, tau! Makanya gak sempet mandi, hehe.”
“Astaga, Kai...” pacarnya geleng-geleng kepala. “Ya udah sana mandi. Pantesan bau.”
Diledek begitu, Kaila langsung menatap Satria dengan raut penuh protesan. “Ih, boong banget kamu, Mas. Kalau aku bau kenapa dari tadi cium-cium?”
“Ya kan—“
“Nyenyenye. Bilang aja aku emang masih wangi.”
Satria berdecak geli melihat Kaila terus protes. “Iya, iya. Pacarku emang masih wangi banget. Tapi dimohon sekarang mandi biar segeran. Ya, Sayang?”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kebetulan banget pas Satria sama Kaila mau keluar, Mamanya Kaila udah pulang. Jadi sekalian aja Satria pamit kalau anaknya mau diajak keluar yang tempatnya belum tahu mau kemana itu.
“Loh, kamu bawa mobil?”
Satria mengangguk. “Ngapain kaget?”
“Kamu bilang mau pakai motor aja sekarang kemana-mana.”
“Yang kemarin lusa aku bilang ke kamu itu bukan gitu, Sayang. Kebiasaan banget kalau ada orang ngomong yang ditangkep sebelahnya doang.”
Kaila mengerjap bingung. Seingetnya sih emang begitu. Tapi ternyata salah, ya? Belum sempat dia mengutarakan kebingungannya, Satria ngomong lagi.
“Aku bilangnya, kan, aku gak bakal naik mobil lagi kecuali bawa kamu.”
“Hah, emang iya bilang gitu?”
“Iya. Makanya telinga, tuh, dipake. Jangan cuman buat nyantolin anting.”
“Dih.”
Satria ketawa, dia membukakan pintu untuk sang pacar lalu mempersilahkan Kaila agar segera masuk.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ay, feeling good, like I should
Went and took a walk around the neighbourhood
Feeling blessed, never stressed
Got that sunshine on my Sunday best (yeah)
Ay, everyday can be a better day despite the challenge
All you gotta do is leave it better than you found it
It's gonna get difficult to stand but hold your balance
I just say whatever 'cause there is no way around it
E-e-everyone falls down sometimes
But you just gotta know it'll all be fine
It's okay, uh-huh, uh, uh
It's okay, it's okay
Ay, feeling good, like I should
Went and took a walk around the neighbourhood
Feeling blessed, never stressed
Got that sunshine on my Sunday best
Ay, somedays you wake up
And nothing works, you feel surrounded
Gotta give your feet some gravity to get you grounded
Keep good things inside your ears
Just like the waves and sound did
And just say whatever 'cause there is no way around it
E-e-everyone falls down sometimes
But you just gotta know it'll all be fine
It's okay, uh-huh, uh, uh
It's okay, it's okay
Ay, feeling good, like I should
Went and took a walk around the neighbourhood
Feeling blessed, (Ay) never stressed
Got that sunshine on my Sunday best
Ay, feeling good, like I should
Went and took a walk around the neighbourhood
Feeling blessed, never stressed
Got that sunshine on my Sunday best
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *