Brian : Bali, We're Coming

3358 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Hah? Apa?” Nindya meringis melihat respon sang pacar, Natama Brian. Dia, nih, yakin banget bukannya Brian b***k karena suaranya gak jelas atau apa, tapi Brian lagi meyakinkan diri kalau cowok itu gak salah denger. “Lo gak salah denger, kok.” ‘Wait,” Brian menegakkan punggungnya dan bergeser duduk agak jauhan dengan Nindya. “Lo mau ke Bali sendirian? Beer-bener seorang diri?” “Iya, Bri.” “Seminggu?!” Nindya mengangguk lagi. “Kenapa, sih?!” “Kenapa apanya?” “Kenapa gue gak boleh ikut?” “Ya... kepingin sendirian aja, Bri...” Brian berdecak dan menjatuhkan punggung di sandaran sofa. “Tau, ah. Bingung gue kalau lo kayak gini.” “Iih,” Nindya ikut menjatuhkan punggung di sandaran sofa. Bedanya, dagunya dia taruh di pundak sang pacar, jadi cewek itu sambil ngeliatin Brian dari jarak sedeket itu. “Jangan gitu, dong. Gue beneran lagi pengen me time aja.” “Gue bisa nemenin lo. Beneran. Tapi lo-nya kayak nekanin mulu kalau lo pengen sendirian. Kayak gue ganggu banget gitu?” “Lo tahu gak kayak gitu maksud gue, Bri.” “Terus kenapa gue gak boleh ikut?” Nindya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenernya dia bukan gak mau Brian ikut, sih. Dia betulan gak papa kalau Brian ikut. Tapi kalau dikasih dua pilihan antara dia liburan berdua sama Brian atau sendirian, untuk saat ini jawaban yang paling tepat adalah dia pinginnya sendirian. Bukan maksudnya dia gak penen Brian ikut. Tahu, kan, maksudnya? Dia cuman lagi pengen liburan sendiri. Toh yang namanya orang pacaran, gak selalu pasangan harus ikut liburan, kan? “Bukan gak boleh, Bri...” “Terus?” “Lagian gue, kan, gak sendirian banget.” “Berangkat sama pulangnya, kan, sendirian.” “Enggak, berangkatnya doang. Kan pulang dan pas disananya gue sama saudara gue itu.” “Carlin?” Nindya mengangguk. “Tetep. Gak mau gue kalau lo kesana sendirian.” “Ih, kenapa jadi posesif gini, sih?’ “Lo gak baca berita? Sekarang lagi musim banget kriminal dimana-mana. Gue gak mau, ya, denger berita jelek.” “Ya gak ada yang mau denger berita jelek, kali, Bri...” Brian berdecak lagi. Nindya menjauhkan kepala, dia memilih duduk tegak dengan tatapan tetap ke Brian. “Lagian minggu depan, kan, lo ada acara Lima Hari yang kata lo itu.” “Enggak jadi. Baru tadi pagi bilang cancel.” “Bohong.” “Sumpah,” Brian mengeluarkan ponselnya dan membuka email, kemudian menunjukkan layar ponsel ke arah sang pacar. “Nih. Yang punya acara tiba-tiba masuk RS dan harus dirawat beberapa hari.” “Loh, gak jadi dapet project gede, dong?” Brian mengedikkan bahu. “Gak papa, lah, tapi. Orang duitnya udah masuk setengah tetepan. Makanya gue bilang ke elo, gue gak ada jadwal apa-apa minggu depan.” “Hffft,” Nindya menghela nafas pendek. “Nanti kalau lo ikut gue gak jadi nginep di saudara gue, dong? Gue udah terlanjur bilang ke dia mau nginep di kosannya.” Mendengar itu, Brian udah senyum-senyum sendiri—tapi ditahan. Gimanapun dia tahu pacarnya udah mulai goyah dan ngalah, ngebiarin dia ikutan ke Bali minggu depan. “Ya kalau itu terserah. Mau kamu nginep di Carlin gak papa—yang penting aku kenal kamu nginep dimana dan gak aneh-aneh. Atau mau nginep sama aku aja di villa juga gak papa.” “Kamu villa apa hotel?” “Gak tahu. Kamu sukanya mana?” Sengaja banget Brian bikin Nindya makin bimbang mau milih ikut nginep di Brian atau di saudaranya. “Ih, jangan tanya aku. Aku kan nginep di Carlin. Senyamannya kamu aja.” Brian mencibir. “Kalau aku sendirian kayaknya hotel aja, sih. Ini berarti aku udah di ac, ya, boleh ikutan kamu ke Bali?” “Yaaaa,” Nindya jawab dengan malas. Brian terkekeh senang kemudian mencium pipi Nindya dan menggigitnya gemas. “Gitu, dong, dari tadi. Kayaknya hikmah kehilangan projek besar dari Bu Dewita ini emang biar aku bisa refreshing sama kamu ke Bali, sih, Beb.” “Halah.” “Hehe.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Bukan tanpa alasan Brian bener-bener gak mau pacarnya kemana-mana sendiri—walaupun satu bulan yang lalu Nindya ke Surabaya juga sendiri. Iya, satu bulan yang lalu, Nindya emang ke Surabaya sendirian. Itu aja harus debat dulu sama Brian. Gak ada acara resmi yang wajib dihadiri, sih, betulan Nindya disana niatnya emang refreshing doang. Padahal kalau ke kota itu, mah, refreshing mau kemana? Orang banyak mall doang gak ada tempat healing. Kecuali Nindya mau nyewa mobil buat ngedrive malem-malem di daerah Tunjungan Plaza sambil dengerin lagi kenceng-kenceng, tapi nyatanya kemarin pas ke Surabaya, cewek itu nik kereta pulang dan perginya, pas disananya kemana-mana grab car. Healingnya gak dapet sama sekali. Pulang-pulang pun, yang ada Nindya mau berkeluh kesah ke pacarnya karena, well, sesuai tebakan Brian aja kalau cewek itu bukannya healing, yang ada duit habis buat belanja-belanja di mall dan itu bikin dia pusing. Brian cuman jawab, “Makanya lain kali kalau aku transfer kamu buat jajan, uangnya jangan dibalikin lagi.” Ya, Brian tahu Nindya punya penghasilan sendiri. Dia punya kafe dan punya beberapa side job yang membuatnya sedari usia 21 tahun udah bergelimang harta. Tapi sebagai pacar yang baik, Brian juga punya keinginan buat nyenengin pacarnya dan ngejajanin dia. Toh Brian juga udah punya penghasilan dua kali lipat lebih banyak dari Nindya—kalau boleh sombong, sih. Balik lagi soal alasan Brian gak ngijinin Nindya kemana-mana—khususnya luar kota apa lagi luar negeri seorang diri—adalah bener karena kriminal ada dimana-mana. Apa lagi pas di Surabaya, Nindya sempet parno karena banyak tukang ojek yang maksa dia banget buat naik ojek mereka. Yang mana Nindya sampai telpon ke Brian dan bilang minta jemput—Brian tahu itu skenarionya dia aja biar para ojek ngira dia betulan Brian jemput setelah telpon ditutup. Gimana Brian jadi gak khawatir? Itu juga yang bikin Brian maksa dia buat minta salah satu temennya di Surabaya—siapa aja yang penting Brian kenal sama orangnya dan udah pasti harus cewek dan gak boleh cowok—buat nemenin dia nginep di hotel yang udah dia book. Makanya, dari pada Brian kembali dibikin khawatir karena tiap dia di luar kota jadi susah dihubungin dan sekarang marak banget ada berita kriminal dimana-mana, mending Brian berantem sama dia buat debat daripada tetep ngizinin dia berangkat sedirian. No fcking way. Mau dirayu kayak gimana Brian juga gak bakal luluh sekalipun niat Nindya adalah healing sekaligus me time. Bukannya Brian ini posesif dan suka mengekang—ya walaupun Brian akuin dia emang begitu—tapi yang namanya jaga-jaga dan waspada apa salahnya, sih, ya kan? Setelah kesepakatan di hari itu buat Brian ikutan ke Bali bareng sama pacarnya, akhirnya Brian dengan semangat empat lima bikin surat izin untuk gak masuk kelas—yang mana itu agak ngerepotin karena kan bikin surat izin pas udah kuliah jelas beda kalau bikin surat izin pas jaman TK sampai SMA. Brian harus cetak surat berulang kali dan menulis satu persatu nama dosen dan mata kuliah yang diampunya, Brian harus bagi-bagiin itu semua ke penanggung jawab dan memastikan gak ada absennya yang bolong dengan tulisan Alfa. “Duh, gue jadi pengen ke Bali juga, anjir,” Si anak ayam, alias Jefran, ikut berkomentar setelah Brian bilang minggu ini dia gak bisa ikut latihan karena mau liburan. Untung temen-temennya tuh emang seroyal itu. Tapi didukung juga dengan faktor bahwa Lima Hari juga gak lagi ada janji manggung dimana-mana, makanya dia bisa bebas keluyuran sampai seminggu. “Cuslah, kapan-kapan berlima.” Saran dari Wildan langsung dianggukin oleh anak Lima Hari yang lainnya. “Iya, kalau diinget-inget kita udah berapa tahun kenal, Lima Hari udah berapa lama kebentuk, liburan bareng aja belum pernah loh,” Satria berkomentar. “Gak usah pakai ke Bali atau kemana, ke Ancol aja kita gak pernah.” “Iya, makanya muka lo kusut terus, Pak,” ledek Jefran membuat Satria mengumpat. “Eh, tapi kan ita free cuman minggu ini doang, Monyet. Orang setelahnya bakal full banget sampai tahun baru.” Dafi mengangguk. “Makanya, kan. Kalau kata gue, pas tahun baru Lima Hari gak usah acc acara apa-apa, deh. Kita sewa villa aja atau di rumah siapa gitu yang kosong dan luas, terus tahun baruan bareng.” “Anjir, ide bagus!” Brian berseru. “Iya, t***l. Kok gak pernah kepikiran, ya, gue?” “Iya, betul betul betul. Seru kayaknya.” “Sewa villa aja udah. Kalau di rumah kayaknya gak bakal bisa mabok.” “Anjrit, si bangsat.” “Hahahaha, tapi bener juga. Ya udah villa aja. Nanti gue yang cariin kalau lagi kosong.” “Sip sip.” “Ngajakin cewek-cewek juga, gak?” Brian usul—karena dia baru inget kalau tahun baru ini kan dia sebenernya mau ngerayain sama Nindya.  “Biar seru aja gitu rame-rame bersepuluh.” “Boleh juga. Mumpung udah gak ada yang jomblo.” Semuanya ketawa happy. Udah bisa kebayang seberapa menyenangkannya bakalan ngerayain tahun baruan bareng-bareng sama temen dan sahabat—jadi satu. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Jangan lupa besok berangkat pagi, loh, Yang.” Nindya manggut-manggut. “Kalau gak salah itung, kamu udah ngasih tahu aku empat kali, lima kali sama yang ini.” Brian ketawa. “Abisan kamu kebo.” “Ngaca, Pak.” “Ganteng, Bu.” “Hidiiiih,” Nindya ikut ketawa sambil menjauh dari pacarnya, yang mana bikin Brian gemes sendiri dan jadi narik pinggang ceweknya biar gak kemana-mana. Mereka berdua lagi di rumah Nindya sejak tadi sore abis pulang dari studio. Karena Brian gak bawa mobil, ceweknya jadi harus jemput kesana—karena mobil Brian emang dibawa Nindya. Abis itu rencananya, sih, Nindya mau bantuin Brian packing. Eh ternyata Brian bilang kalau dia udah selesai packing—yang mana padahal ceweknya aja malah belum packing apapun. Emang, ya. Kalau dipikir-pikir, Brian yang lebih semangat buat ke Bali padahal Nindya yang sok ngide duluan. “Packing barang sekarang aja, deh,” saran Brian dengan jemari berhenti mainin ujung rambut cewek itu. Kadang dia taruh di bawah hidung sambil bibirnya merengut biar bisa jadi sanggahan rambut, kadang dia jambakin kalau lagi mode usil, gak tahu, emang ada aja kelakuan cowok itu. “Nanti aja abis lo balik.” “Loh, yang bener sekarang aja lah biar aku bisa bantuin?” “Males, Bri. Lagian kalau abis ini mama balik terus lihat lo di kamar gue mau bilang apa coba gue?” “Bilang gue nemenin lo packing. Gitu aja susah.” Nindya menghela nafas. “Udah, deh. Nanti aja.” “Awas ketiduran, loh.” “Iya, Sayaaaang,” Dipanggil begitu—meskipun keduanya udah lama pacaran—tetep aja bisa bikin Brian salah tingkah. Dia menciumi pipi pacarnya sambil satu tangan yang lain menekan pipi satunya. “Gemes banget pengen makan kamu.” “Iiiih, jangan digigitin!” Brian memberikan satu kecupan terakhir di bibir Nindya sebelum menjauh. Dia kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. “Gue balik sekarang aja, deh, ya?” “Gak nungguin nyokap gue balik?” “Pengen tidur. Besok kesiangan lo juga yang ngomel.” “Ya iya, gue tinggal lo kalau kesiangan.” “Jahatnya pacar gueeee.” Nindya ketawa lagi kemudian ikut berdiri pas pacarnya beneran mau pulang. “Ayo gue anter ke depan.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Karena Brian sama Nindya ke Bali pakai pesawat,  mereka jadi harus berangkat dua jam sebelum penerbangan. Untungnya Nindya agak ngaret tadi, hadi mereka agak telat ke bandara yang artinya mereka gak nunggu lama banget di bandara. Aneh banget kan Brian? Orang telat ke bandara malah seneng. Soalnya gimanapun di bandara tuh juga bisa boring kalau kelamaan nunggu. Apa lagi Brian dan Nindya sama-sama sering banget pergi ke luar kota atau negeri pakai pesawat yang bikin mereka—bukannya sombong—gampang bosen kalau di bandara kelmaan nunggu pesawat lepas landas. Pas udah duduk nyaman dengan bersebelahan di pesawat, seperti kebiasaan Nindya, dia langsung dengerin lagu pakai headseat. Pas ngelihat pacarnya udah mau masang satu kabelnya, Brian langsung menginterupsi. “Mau ikut,” katanya. Nindya langsung masangin satu kabel yang lain ke telinga sang pacar, sempet-sempetnya nyium pipi Brian sebelum kemudian menaruh kepala di pundak cowok itu. “Dih, shuffle playlist malah lagu ini yang pertama.” komentar Nindya tanpa berniat buat ngeganti lagu. Brian membenarkan posisi head phone di telinganya sambil nyoba nangkep lagu apa sebenarnya yang lagi dia dengerin sampai-sampai Nindya langsung komentar begitu. “Emang kenapa? Ini lagunya Gangga yang kamu nonton konsernya beberapa waktu lalu itu bukan, sih?’ “Iya.” “Apa judulnya? Waiting for—‘ “Ih, beda lagi. Ini yang itu, loh, judulnya... Apa, ya, lupa juga,” Nindya mencoba mengingat-ingat. “Oh, Whiskey Bottle.” “Oh iya, Whiskey Bottle. Lagunya enak perasaan.” “Emang. Ear catching banget gak, sih?” Brian bergumam mengiyakan. “Makanya. Aneh kalau kamu malah protes.” “Masalahnya, tiap dengerin lagu ini aku keinget tiap kita berantem.” “Hah? Gimana?” Nindya menegakkan duduknya kemudian ngomong dengan muka serius ke arah pacarnya. “Asli. Aku tiap berantem sama kamu, yang aku dengerin, ya, lagu ini. Atau gak lagunya Pamungkas yang Closure, atau gak yang Lany judulnya 13. Udah, tiga doang itu aku ulang-ulang.” Brian terkikk kecil, tangannya terangkat mengacak rambut sang pacar namun kembali dia rapikan sendiri. “Sambil nangis gak, tuh, kalau dengerin?” Nindya bergidik malas. “Hidih, males banget.” “Hidih iya banget maksud kamu?” Si cewek mendengus. “Makanya jangan berantem-berantem mulu kita.” “Kamunya yang jangan nyebelin.” “Kamuya juga jangan keras kepala kalau dikasih tahu.” “Tuh, kan. Tuh, kan. Salah-salahan lagi kita.” Brian nyengir mendengar itu. “Ya udah, yang penting intropeksi masing-masing aja biar jadi lebih baik dua-duanya. Sini,” Nindya menurut dengan kembali menyamankan posisi kepalanya untuk ia taruh di pundak pacarnya, membiarkan Brian mengendusi harum rambutnya. “Aneh banget kita. Kadang pakai aku-kamu, kadang lo-gue.” “Iya, kita emang aneh dari dulu. Kalau lagi mood bilang aku-kamu ya aku-kamu, kalau mood lo-gue ya lo-gue.” “Kalau udah nikah wajib banget pakai aku-kamu pokoknya, gak boleh keceplosan lo-gue lagi.” “Iya—eh?!” Brian menyeringai geli. “Muka kamu gitu banget. Kita emang bakal nikah, kan, nanti?” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * I lost my way I try to drink you away Go away So drunk, all alone To pretend that you were gone You were gone We were so tragic But it was magic I wish I could forget you And find someone new But it's not easy for me It's always you at the bottom Of my whiskey bottle Over and over again We were so tragic But it was magic I've seen all the pain No, it's not the same Not the same I let you take all my pride Just to make you feel right Ooh, ooh, ooh I wish I could forget you And find someone new But it's not easy for me It's always you at the bottom Of my whiskey bottle Over and over again We were so tragic But it was magic * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah dari bandara, mereka berdua langsung naik taksi buat ke hotel yang udah di-book sama Brian. Rencananya, Nindya memang masih bakalan nginep di rumah saudaranya yang bernama Carlin itu—yang mana walaupun cuman tinggal di kos dan lebih nyaman lagi kalau aja Nindya tidur di hotelnya sang pacar aja, dia tetep gak enak karena udah bilang ke Carlin buat tidur disana, mana udah disiapin makanan pula. Tapi, Nindya bakal ke kosannya Carlin—by the way Carlin ini setahun lebih muda dari pada Nindya dan dia lagi kuliah di Bali makanya ngekos—nanti-nanti aja kalau dia uda selesai istirahat. Kenapa gak sekalian ke kosnya Carlin dan istirahatnya disana? Tentu aja karena dia dipaksa sama Brian buat ikut dia dulu. “Lo ngapain pesen yang king size, deh, kasurnya?” komentar Nindya setelah memasuki kamar hotel dengan didomnasi warna cokelat tua dan bau mahoni tersebut. “Tidurnya bakal sendirian juga.” “Ya kan kamu sekali-sekali bakal kesini. Lagian biar lega, dong, pesen kasur yang king.” “Ya, ya, ya. Terserah.” Nindya langsung menyusul Brian buat tiduran di kasur. Padahal mereka aja belum lepas sepatu. Bener-bener baru masuk dan langsung rebahan. Sambil memejamkan mata karena agak ngantuk, Nindya tanya. “Lo dulu apa gue dulu yang mandi? “Berdua aja. Bareng.” “Gak.” Brian langsung cemberut. “Ayo, dong. Lama gak mandi bareng kita.” “Ya emang harus dikurangin mandi barengnya,” jawab Nindya sambil terkekeh geli. Dia bangkit lagi dari ranjang. “Udah, ah, gue aja yang mandi duluan. Abis ini gantian. Lo jangan tidur dulu kalau belum mandi, oke? Kotor badannya.” “Iya, Nyonya.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN