* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kamu udah ada itinerary? Apa belum?”
“Belum.”
“Lagian ke Bali mau kemana, siih, pasti ya cuman ke gitu-gitu doang?”
“Cek, lah. Yang belum pernah kemana.”
“Cari itinearry di google pasti banyak, kan, ya?” Nindya bergumam sambil mengeluarkan ponselnya dari tas. Dia mengetuk layar dua kali guna menghidupkan benda canggih tersebut.
Keduanya barusan banget bangun tdiur setelah dari bandara tadi. Kini jam baru menunjukkan pukul satu siang dan hari jelas masih panjang. rencananya, Nindya baru bakal ke kosannya Carlin di jam-jam malam kalau dia dan Brian udah jalan-jalan.
Sementara ini karena siang inii lagi panas banget, Nindya menolak buat diajak keluar. Pun mereka berdua sebenarnya udah sering banget ke Bali jadi udah bosen, tapi ya gimana, Nindya lagi kepingin dan Bali adalah pilihan yang tepat. Aneh emang cewek, tuh.
Nindya menguap. “Mau aku kirimin, gak? Ini aku udah dapet linknya.”
“Gak usah. Aku mah ngikut kamu mau kemana juga.”
“Eh, aku tapi jalan-jalannya aku ajak Carlin, loh, Bri. Kamu tetep mau ikut atau mau jalan-jalan senidiran?”
“Seminggu disini kamu bakal sama Carlin doang emang?’”
“Ya... aku soalnya udah bilang ke dia minta temenin.”
“Ya bilang aja lagi kalau aku juga lagi disini. Dia pasti ngerti, lah.”
“Gampang, deh.”
“Dih, gampang-gampang nanti akunya ditinggal.”
“Gak, Bri. Lagian besok malem pengennya ke Finn’s. Udah pasti kesananya sama lo, kan? Masa mau sama Carlin?’
“Oh, besok ke Finn’s? Ya udah, hayuk.”
“Dih,” Nindya ketawa sambil mendorong pundak Brian. “Kalau diajak mabuk aja seneng banget ini orang. Heran.:
Brian nyengir. “Ya gimana, ya. Inget gak kapan gue terakhir minum? Kayaknya udah setahun yang lalu.”
“Bohong banget, anjir. Orang pas ulang tahunnya Jefran lo juga mabuk.”
“Hiperbolanya gitu, Yang.”
Tapi emang beneran, sih. Karena kesibukan Brian, cowok itu belakangan emang jadi jarang mabuk. Thanks to Lima Hari yang jadwalnya belakangan padet banget sampai bikin Brian gak punya waktu buat hangout. Jangankan deh mabuk-mabukkan, nyamperin Nindya aja kalau sempet doang.
Makanya dia seneng karena bisa ke Bali sama pacarnya, karena ini kayak balasan buat dia dan Nindya yang udah libur ketemuan dari kemarin-kemarin.
“Tapi jangan teler, ya, Bri. Males ah kalau muntah jadinya.”
“Ye, ngaca dong. Biasanya yang suka teler sampai nabrak-nabra orang aku apa kamu?”
Nindya nyengir. “Yang penting gak sampai muntahin sepatu orang, kan, gue?”
Keduanya ketawa kenceng. Karena apa yang mereka bicarakan adalah pembahasan tentang mereka yang flashback dulu pernah jackpot memalukan pas lagi mabuk.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bayangin aja. Dari pagi Nindya dan Brian udah sampai di Bali, keduanya malah memilih bermalas-malasan sambil cuddling di hotelnya Brian. Ya walaupun Brian seneng-seneng aja asalkan sama si pacar, tetep aja dia geleng-geleng kepala kalau inget kemarin Nindya sebegitu pengennya ke Bali yang katanya buat healing.
Well, kalau healingnya begini doang mah di Jakarta juga bisa ke hotel terus berduaan kayak gini persis.
Mereka berdua abru keluar dari hotel buat cari makan malam di luar karena malas makan menu di hotel. Akhirnya, pilihan makan malam di warung Bebek Bengil adalah pilihan terbaik.
Brian belum pernah kesini, kebetulan banget. Sementara Nindya udah pernah satu kali kesana dulu. Dia sebenarnya gak kepikiran warung itu. Tapi karena tadi dia buka internetbuat nemuin rute perjalanan di Bali, akhirnya dia nmuin tempat itu lagi.
Bebek Bengil ini cukup terkenal dan jadi favorit warga lokal yang harus dicoba, kalau menurut Nindya, sih. Hidangan disana berisi sepotong bebek yang udah di kukus dengan bumbu Indonesia yang kaya rasa sebelum di goreng krispy. Yang jadi favorit Nindya adalah karena pengunjung bisa memilih side dish antara nasi dan mashed potato.
“Enak, gak?” tanya Nindya sambil mengamati pacarnya yang lagi nyocol sambal pakai nasi dan bebek kukus.
Brian mengangguk. “Enak, sih. Bisa jadi langganan tiap ke Bali.”
“Kan udah aku bilang.”
Nindya kemudian mencicipi menunya sendiri. Kali ini menunya yang dia gak pernah coba. Makanya karena penasaran, juga karena lihat dari menu tadi gambarnya menggugah selera banget, dia jadi pesen itu.
“Kamu pesen apa?” Brian ngelirik piring Nindya. “Cumi?”
“Iya. Goreng gitu tapi bumbunya bumbu bali.”
‘”Enak?”
Nindya mengangguk lagi. “Nih, cobain.”
Brian membuka mulut dan memajukan wajah, lebih mau disuapin aja dari pada harus ngambil sendiri dan mencomot dari piring pacarnya. “A, dong.”
Nindya menyuapi pacarnya dengan nasi sedikit.
“s**t,” Brian langsung meraih gelas setelah menelan nasi yang disuapkan kepadanya. “Nin, pedes banget ini.”
“Hah? Enggak, ah.”
Brian menyeruput minumnya hingga tinggal setengah gelas. Matanya bahkan sampai memerah.
“Ih, pedes apa, sih? Orang ini bumbu bali? Apa tanganku kena sambel kamu tadi, ya?”
Brian menggeleng.
“Apanya yang enggak?” Nindya mengeluarkan s**u bear brand dari dalam tasnya—for your info, Nindya emang selalu bawa bear brand di dalam tasnya kemana-mana. Jangan tanya kenapa karena dia juga gak tahu. Mungkin karena kebiasaan.
“Aku ngegigit cabe, Nin.”
“Hah? Iya?”
Dengan kurang ajarnya, Nindya malah ngetawain sang pacar. Dia nyalurin s**u bear brand yang udah dia bukain. “Nih, nih, minum. Maaf, Bri, gak tahu gue kalau ada cabenya.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Pas di mobil—bye the way Brian emang sewa mobil buat seminggu di mobil—mereka yang baru di tempat parkir abis makan malam hendak balik ke hotelnya Brian. Tapi belum sampai Brian menghidupkan mobil, telepon berdering entah dari tas siapa.
“Eh, hape lo, deh, ii.” Brian ngasih tahu karena walaupun suara ringtone ponselnya sama kayak si pacar, tapi hapenya bergetar kalau ada telpon. Sedangkan yang sekarang ini enggak ada bunyi getaran.
Nindya langsung merogoh ponsel di tasnya yang ia masukkan barusan dan dia taruh di jok belakang.
“Siapa?” tanya Brian.
“Carlin,” Nindya jawab kemudian menekan fitur warna hijau dan mendekatkan ponsel ke telinga. “Halo?”
“Dimana, Nin?”
“Masih di jalan ini. Abis dinner.”
“Ooh, ya udah. Mama lo abis nyariin soalnya.”
“Lah, emang iya?”
“Iya. Lo gak ditelpon?”
“Enggak,” Nindya jawab dengan suara bingung. “Kok aneh, sih, nelponnya malah ke elo?”
“Ya ngecek aja, kali.”
“Ya udah, deh.”
“Lo jadi tidur di kos gue apa di hotel sama pacar lo?”
“Di kos lo aja, Kak. Gak papa, kan? Gak enak juga kalau mama tahu guenya malah di hotel sama cowok gue. Kan pamitnya ke nyokap mau ke kos lo.”
“Ya gak papa, sih, sebenernya kalau lo mau sama pacar lo aja. Soalnya ini juga kebetulan ada temen gue dari Malang kesini. Tapi besok. Jadi kayaknya gue bakal nemenin dia jalan-jalan juga kayak gitu.”
“... terus maksudnya gimana?”
Carlin, nih, sebenernya jelas udah tahu kalau Nindya emang gak bisa banget berramah-tamah sama oarng baru. Juga dari sudut pandang Carlin sendiri, dia gak bakal bisa dong ngajakin Nindya main sama temen dia, kan pasing bakalan aneh dan gak membaur.
“Jadi kalau misal lo mau di tempatnya cowok lo aja, gak papa. Nanti biar gue bilangnya ke nyokap-bokap lo tetep lo nginepnya disini.”
Mendengar itu, Nindya jadi nyengir seneng. Yah, karena dari awal dia gak mau munafik juga kalau lebih seneng di hotelnya Brian dari pada di kosnya Carlin—walaupun dia tahu dia bakal nyaman-nyaman aja disana.
Toh, udah lama banget dia gak ketemu sama saudaranya yang satu itu.
Tapi kalau ada pilihan yang kayak gini, penawaran yang ditawarkan oleh saudaranya jelas adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Makanya Nindya langsung kesenengan.
“Gitu? Gak papa emang? Takutnya lo—“
“Gak papa, asli. Gue pinter akting, kok, hehe. Mereka bakal percaya pasti.”
“Oh, gitu? Ya udah, deh. Gitu aja.”
“Lo nginep di tempat cowok lo?”
“Iya. Gak papa, ya, Kak?”
“Gak papa, anjir. Kan gue yang nawarin. Gue yang minta maaf soalnya kesannya jadi ngusir begini.”
“Gak lah, santai aja sama gue. Ya udah tapi kita harus sempetin hangout bareng, ya!”
“Siap, deh, kalau itu.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kenapa?”
Brian langsung nanya setelah dia tahu pacarnya mematikan panggilan dar lawan bicaranya—Carlin.
“Kabar baik ini buat lo,” ujar Nindya sambil senyum ngeledek dan tangannya bergerak buat ngehidupin MP3.
“Hah? Apa?”
“Coba tebak.”
Brian ketawa sendiri, agak geli karen perkara beginian aja dia disuruh nebak dulu. Brian memikirkan hal yang kemungkinan terjadi dan dibicarakan oleh sang pacar dengan sepupunya—yang katanya berupa kabar baik buat Brian sendiri.
Cowok itu memicingkan mata kemudian membuka suara sebagai tebakan pertama.
“Dia gak bisa nampung lo?”
Tawa Nindya langsung meledak tapi kemudian merengek. “Ih, aneh. Kok bisa langsung ketebak, sih?”
“Hah? Bener? Beneran dia bilang gak bisa nampung lo?”
Deretan pertanyaan Brian itu keluar dengan suara yang kelihatan banget kaget sekaligus excitednya. Udah pasti Brian yang kesenengan—kayak dugaan Nindya. Ya walaupun padahal cewek itu juga seneng, kali. Kapan lagi saudara dari ibunya itu—Carlin—bisa diajak kerja sama begini ya, kan?
“Bukan gak bisa nampung. Sebenernya dia bilangnya besok dia bakal kedatangan temen gitu dari Malang. Terus dia tahu gue kesini sama lo, terus nawarin gimana kalau gue nginep di elo aja soalnya temen dia nginep di kosannya. Gitu.”
“Temen apa pacar dia?”
“Hm, gak tahu, sih. Tapi kayaknya dia gak ada pacar.”
“Ooh,” Brian manggut-manggut. Masih dengan senyum yang terukir jelas di bibirnya. “Ya udah fiks ya kamu seminggu ini nginep di hotel sama gue?”
“Iya, Bri. Elah itu mulu yang ditanyain.”
“Hehe, ya, kan seneng.”
“Lagian nginep doang juga gue. Kenapa seneng banget, deh? Emang kita mau ngapain, sih, ah?” tanya Nindya setengah ngeledek. Emang sesekali cewek itu suka banget godain pacarnya kayak gini.
Brian mengedikkan bahu sok polos aja. “Gak tahu juga, deh, gue.”
“Pret. Terus kenapa nyengir mulu dari tadi?”
“Ya gimana, ya, Nin. Tahu sendirilah kalau lagi liburan sama pacar terus book hotel sama pacar berduaan tuh bakal ngapain.”
Emang bener-bener ya si Natama Brian ini. Gak bisa banget digodain dikit. Pasti lanjut digodain balik kayak sekarang ini.
“Wah, ngapain, tuh, Pak? Gak tahu, ah, saya. Gak pernah soalnya.” Nindya jawab dengan sok serius pakai wajah innocent-nya.
“Hm, masa gak tahu, sih, Bu?” Brian nanya sambil ngelirik pakai senyum geli ke pacarnya. “Beneran gak tahu apa pura-pura gak tahu, nih, si Ibu ceritanya?”
“Gak tahu beneran, Pak.”
Brian mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum ngeledek. Dia mencubit hidung pacarnya sesaat sebelum kemudian membuka suara sebagai jawaban dengan santai banget dan muka sok keren.
“Nanti, ya. Nanti gue kasih tahu maksud gue bakal ngapain. Kalau udah sampai hotel aja tapi. Nanti.”
Nindya cuman bisa ngakak doang denger respon pacarnya. Emang, ya. Emang yang namanya Natama Brian gak bisa banget digodain dikit!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
I can see you standing, honey
With his arms around your body
Laughin', but the joke's not funny at all
And it took you five whole minutes
To pack us up and leave me with it
Holdin' all this love out here in the hall
“Astaga, dari tadi di mobil lo demen banget perasaan dengerin lagu galau,” komentar Brian yang lagi duduk di pinggir ranjang ketika dia menemukan pacarnya muter lagu lewat HP di kamar mandi—padahal cewek itu lagi berendam air hangat di bath up.
“Ya gak papa, dong!” Nindya balas berteriak. “Komen mulu dari tadi.”
“Lagian. Bilang sini sama gue siapa yang lagi lo galauin? Siapa yang berani nyakitin lo, hah?”
Nindya ketawa. “Dengerin lagu galau karena ini lagi malem aja, kali. Vibesnya kan enak buat dengerin lagu-lagu gloomy kayak begini.”
Brian gak lagi merespon. Dia memilih ambil hapenya yang dia taruh sembarangan di atas kasur, kemudian berjengit sesaat kala menemukan hapenya panas banget. Dia mengernyit bingung. Perasaan hapenya gak pernah deh kayak gini. Mana panasnya ngagetin lagi.
I think I've seen this film before
And I didn't like the ending
You're not my homeland anymore
So what am I defending now?
You were my town
“Now I'm in exile, seein' you out
I think I've seen this film before,” Brian ikutan nyanyi—yang lebih tepatnya dia lagi ngegumam itu namanya karena suaranya hampir gak kedengeran lagi soalnya.
“Briii!”
“Hm?”
“Bri?!?!??”
“Apa, Sayaaaang?’ Brian yang gemes jadi teriak balik sambil berdiri dan mendekati pintu kamar mandi. “Kenapa, Nin?”
“Ambilin sikat gigiku di tas. Hehe.”
“Loh, disitu gak ada emang?”
“Gak mau pakai yang ini. Tadi di bawah aku beli baru warna biru. Ambilin dong, minta tolong?”
Brian balik badan dan hendak mengambil tas yang dimaksud sang pacar. Tapi karena ceweknya ke Bali bawa tas gak cuman satu, dia jadi harus nanya lagi. “Tas yang mana, Nin?”
“Yang warna cokelat kulit.”
“Hah?”
“Yang gede, warna cokelat.”
“Oh, iya iya. Ini ketemu.”
Brian berdiri lagi setelah menemukan benda yang dia cari. Cowok itu hendak mengetuk pintu kamar mandi. Tapi karena dia sadar pacarnya gak pernah kunci kamar mandi, dia akhirnya langsung nyelonong aja masuk.
Brian menghampiri Nindya yang masih nyaman berendam di dalam bath up. Badannya tertutup air, sabun, dan busa yang menggumpal dengan aroma khas Nindya sekali—iyalah orang pakai sabun mandinya Nindya sendiri.
Melihat pundak telanjang Nindya, Brian tiba-tiba jadi ikut gabung—tapi tentu aja sama pacarnya gak bakal dibolehin. Gak tahu, deh, belakangan Nindya emang lagi mengurangi ‘beraktvitas’ denga sang pacar.
Jadi usai Brian naruh sikat gigi Nindya di tempat alat mandi lainnya yang terletak di wastafel, Brian kemudian melangkah mendekat sebelum duduk di pinggiran bath up.
Brian mengangkat dagu pacarnya.
“Apa?” tanya Nindya sambil hendak menepis tangan Brian yang ada di dagunya.
Tapi pergerakan cewek itu kalah cepat dengan Brian yang menunduk dan langsung membungkam bibinrnya lembut. Hanya beberapa saat sebelum cowok itu menjauhkan kepala.
“Ikut mandi, dong.”
“Gak, ya!”
“Yah, pelit.”
“Bodo.”
Tapi bukannya langsung nurut, Brian malah melucuti pakaiannya dari atas sampai bawah, luar dan dalam, membuat Nindya langsung melotot.
Well, Nindya udah gak bisa apa-apa lagi pas Brian tiba-tiba join masuk ke bath up dan memangkunya, membuat cewek itu duduk di atas paha dia dengan kedua tangan melingkar di leher Brian, bibir yang saling bertaut, yang mana gak sampai lama kemudian, udah dipastikan suara hening disana akan berganti dengan suara lenguhan, desahan, rintihan, erangan, dan semua macam suara penuh dosa sebagai bentuk pelampiasan atas kenikmatan yang mereka berdua dapatkan.
Emang kalau liburan, tuh, harusnya gak usah satu hotel biar yang kayak ginian bisa dihindari. Apa lagi kalau pacarnya seorang Natama Brian.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *