Jefran : Diskon Lima Puluh Persen

3365 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Wih, Brian di Bali?” Gea yang lagi tiduran di pahanya Jeff—di apartemen cowok itu juga—langsung nanya pas nemuin story Instagramnya Brian. Disana, terlihat Brian ngeposting foto dia sama Nindya di salah satu tempat makan terkenal disana. Terus di storynya Nindya sendiri, cewek itu juga ngeposting foto pantai dengan caption, “Bali for the rescue”. Jefran nunduk sebentar ke arah pacarnya kemudian balik main hape sendiri—yah, tepatnya cowok jangkung yang barusan semir warna rambut kemarin itu lagi asik main game. “Iya, baru kemarin kayaknya berangkat.” “Serius? Emangnya Lima Hari gak ada acara apa-apa?” “Brian cuma seminggu katanya ke Bali. Dan Lima Hari emang pas lagi kosong, sih.” “Ooh, gitu.” “Kenapa?” “Hah? Apanya?” “Kenapa nanya-nanya Brian? Pengen ke Bali juga?” “Ya enggak, sih. Orang cuman nanya biasa aja soalnya snapgram dia lewat di gue.” “Kirain.” Yang ada, sekarang Gea malah asik stalking Nindya—pacarnya Brian. Dulu, setelah dia resmi pacaran sama Jefran, posisinya dia emang udah kenal anak Lima Hari karena pas belum jadian, Jefran suka ngajakin dia buat ke studio. Tapi Gea belum pernah ketemu langsung sama pacar-pacarnya anak Lima Hari. Sehingga pas dia udah agak lama pacaran sama Jefran, baru deh sempet ketemu dan ngobrol bareng sama gebetan dan pacarnya anak yang lain satu-persatu. Terus, lima ceweknya anak Lima Hari itu baru akrab pas Jefran sama Gea udah setengah tahun pacaran. Butuh waktu emang buat adaptasi sama banyaknya karakter yang berbeda dari masing-masing pacar anggota Lima Hari. Tapi kalau bagi Gea pribadi, yang paling klop sama dia adalah Nindya. Selain karena mereka punya karakter sama : sama-sama Scorpio, sama-sama gak bisa diatur, teges, dan mandiri yang mana bikin mereka cenderung kelihatan jutek dan jahat, yang pasti keduanya jadi klop banget dari awal ketemu dari pada sama yang lainnya. Sebenarnya, sih, sama Metta—pacarnya Dafi—dia juga klop karena mereka sama-sama tukang bikin onar dan punya satu kelab malam yang sama yang jadi langganan mereka berdua. Tapi sayangnya, sifat Metta yang bar-bar itu lama-lama gak begitu lagi—berubah jadi agak kalem—sejak sama Dafi. Yah, dia sih gak bisa protes. Toh artinya Dafi bisa ngerubah Metta jadi lebih baik. Tapi selain karena karakter Nindya dan Gea yang sama, kayaknya faktor mendukung lainnya yang bikin dia dan Nindya klop banget adalah karena pacar mereka itu juga satu karakter. Siapapun jelas bakal tahu, kalau dari anak Lima Hari yang kelakuannya paling kayak setan adalah Jefran, yang kedua adalah Brian. Makanya, itu yang bikin ini jadi terlihat kayak geng di dalam geng. Padahal baik anak Lima Hari atau pacar-pacarnya anak Lima Hari, mereka sama-sama menyayangi dan menghargai satu sama lain tanpa pilih kasih. Jefran meraup wajah kekasihnya yang ngelamun walaupun tangannya tetep menggenggam ponsel di depan wajahnya. “Ngelamun, deh, lo.” Gea menepis tangan Jefran. “Kagak. Kalah lo?” tanyanya karena Jefran sekarang menaruh ponselnya di meja, pertanda kalau cowok itu udah gak main game lagi. “Iya,” Jefran nyengir. “Kok bisa, ya? Padahal gue tanding sama Dafi loh ini.” “Makanya jangan sombong-sombong, Pak. Karma tuh lo sering ngatain Dafi bilang kalau dia gak bakal bisa ngalahin lo.” “Bodo amat, dah.” Gea ketawa. Dia bangkit dari posisi tidurnya, kepalanya meninggalkan paha Jefran, kini ganti menaruh kepala di pundak cowok itu. Emang, yang paling nyenengin kalau lagi weekend, tuh, ya ini. Bisa bermalas-malasan seharian sama pacar—apa lagi posisinya kalau mereka tinggal di tower apartemen yang sama. Makanya mereka demen banget nginep di salah satu apartemen. Gak kebayang aja kalau misal mereka tinggal sama orang tua dan harus bangun pagi, gak boleh pulang malem, dan lain sebagainya. Sebagai manusia yang gak bisa diajak kayak gitu, Jefran dan Gea emang paling cocok tinggal sendiri. Yah, walaupun harus beli apartemen pakai uang sendiri—Gea maksudnya. Kalau Jefran, mah, uangnya ngalir terus dari bokap sama nyokapnya. “Ih, seru kayaknya ke Bali. Lihat,” Gea menunjukkan ponselnya ke arah Jefran, bikin si cowok noleh dan ngelihatin video yang diposting Nindya. Bukan video apa-apa, sih, orang Nindya cuman lagi ngerekam Brian yang lagi jalan di depannya terus mereka cekikikan entah ngetawain apaan. “Mau?” Jefran nanya setelah memberikan kecupan singkat di pelipis sang pacar. “Apa?” “Mau ke Bali? Kalau mau ya gak apa-apa.” “Apanya yang gak papa?” “Dih, bolot.” “Heh!” Gea merengut. “Kurang ajar lo.” Jefran ngakak. “Lagian diajak opok ngang ngong ngang ngong mulu lo.” “Ya makanya lo kalau ngomong jangan setengah-setengah, langsung to the point kan bisa anjir. Jangan dipotong-potong.” “Bodo amat, Geeee, bodo amat.” Kini giliran Gea yang ngakak. Keduanya diam setelahnya selama beberapa saat hingga kemudian Gea kembali membuka suara. “Lo sibuk gak tapi?” “Gak. Lo kan tahu jadwal gue tiga hari ke depan ngapain aja.” “Cuman kuliah doang, ya...” gumam Gea. “Bali gak, Jef?” “Gue ngikut lo, Ge. Kalau lo pengen, ya gak papa ayo berangkat.” “Serius?” Gea mendongak untuk menatap pacarnya. Jefran menunduk dan menempelkan bibirnya di pelipis cewek itu. “Iya, Babe.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Hah? Beneran lo, Njir?” Brian di seberang sana jelas merespon gak percaya. Padahal sebenernya Bali-Jakarta emang gak jauh-jauh banget. Gak ada yang gak mungkin buat mendadak terbang ke Bali apa lagi kalau duit tinggal gesek dan punya waktu buat liburan. Dan itulah yang kini dilakukan oleh Jefran dan Gia—pasangan yang emang kalau sekalinya kepengen harus langsung keturutan. Makanya, setelah tadi mereka berdua sepakat buat pesen tiket pesawat, keduanya langsung packing. Beruntung pakaiannya Gea banyak yang ada di apartemen Jefran, jadi dia gak perlu turun lift cuman buat packing. “Kita berapa hari enaknya di Bali?” “Tiga aja kali, ya,” Gea mengusulkan. “Lo kan hari Kamis ada meet sama orang.” “Hah? Orang siapa?” “Loh, kok malah elonya lupa sendiri? Orang yang punya janji, tuh, elo sendiri.” “Siapa, sih—oh, Om Reza?” “Iye.” Jefran ketawa. “Untung lo ingetin. Ya udah berarti tiga hari aja, ya.” Gea manggut-manggut. Dia kemudian kembali melipat bajunya. Terus pas lagi mengingat-ingat barang apa yang belum dia masukin, cewek itu langsung sadar sesuatu. “Eh, belum bawa bikini!” “Gak usah bikini-bikini. Udah tahu si Brian nginepnya di hotel.” “Ye, apa hubungannya, Oncom?” “Ya kalau Brian sama Nindya sewa villa, kita jelas di villa juga. Itu renangnya ketutup. Kalau di hotel mana bisa pakai bikini?” “Ya kan gue renangnya mau di pantai.” Jefran noyor kepala pacarnya. “Apa lagi kalau di pantai. Gue malah gak rela lo jadi tontonan orang!” Gea melotot. “Plis, emangnya kita gak mau ke pantai? Buat apaa anjir ke Bali kalau gak ke pantai? Ke sawah?” “Gak usah pakai bikini, Babe. Yang bener aja lo.” “Terus gue make apaaa? Babydoll?’ “Iya, baby doll aja boleh.” “Jefran, ih!” “Udah, nurut aja sama gue. Tahun lalu pas kita mantai lo kan juga gak make bikini.” “Ya iya orang pantainya di Malang. Yang bener aja gue mau make bikini. Kan ini mau ke Bali, Jef. Semua orang juga pakai bikini.” Jefran berdecak kemudian menghela nafas. “Dengerin gue, ya. Sayangku cintaku cantikku. Gak boleh ada yang natap lo selancang gue. Udah, pokoknya gak ada bikini-bikinian. Ngerti gak lo?” “Ma—“ “Gak usah nyaut lagi. Keputusan gue udah bulet.” Gea merengut. Setelah selesai packing, barulah si Jefran ngevideo call Brian buat ngasih tahu kalau dia dan pacarnya mau nyusul ke Bali. terus baru dibilangin satu kalimat, Brian udah langsung heboh sendiri. “Serius? Gila, sini lah. Eh ajak anak Lima Hari juga bisa, kan?” “Gak yakin gue, Bri, kalau yang lain. Lo tahu sendiri si Satria sibuk banget.” “Wildan? Dafi?” “Tugas akhir, coi. Kayak gak tau aja lo.” “Oh, ya iya, sih. Jadi lo doang nih yang nyusulin ke Bali?” “Iya. Sama cewek gue.” “Oke, oke,” Brian kemudian mendongak dan wajah pacarnya masuk ke dalam layar, kelihatan kalau Nindya kepo siapa yang video call an sama Brian. “Ini, Jefran sama Gea mau kesini juga katanya.” “Hah? Asli?” Nindya langsung menguasai ponsel cowoknya. “Serius? Lo berdua mau kesini?” Gea mengangguk sambil menyeringai. “Iya, bosen juga di Jakarta. Gak papa kan gue ganggu honeymoon lo berdua?” Yang diajak ngobrol langsung ngakak semua, Jefran juga. “Gak papa, lah. Nanti ke Finn’s berempat lebih asik lagian. Udah pesen tiket?” “Udah, kok. Aman.” “Oke, nanti gue sama Brian yang jemput di airport, deh.” Jefran mengangguk. “Sip, sip. Hemat pengeluaran gue.” “Ye, anying! Sok miskin lo.” “Ya sekalian, lah. Orang lo juga sewa mobil, kan?” “Iya, sih,” Brian manggut. “Eh, by the way lo berapa hari, dah? Apa baliknya bareng gue?” “Gak, sih,” Nindya menyahut. “Kayaknya bakal lebih lama.” “Maunya gitu, sekalian pindah aja ke Bali. Stres juga di Jakarta,” Gea bercanda. “Tapi sayangnya gue cuman tiga hari doang. Jefran ada janji sama orang, gak bisa lama-lama liburannya. Brian kelihatan mikir bentar sebelum kemudian buka suara. “Apa kita sewa villa aja, ya? Dari pada hotel, kan, lebih hemat villa gak, sih?” “Kalau harga sama aja, sih. Tapi plusnya tuh kalau villa lebih bebas. Kan gak cuman kamar doang jadinya.” Jefran menunjukkan jempolnya sebagai tanda sepakat. “Villa aja, Bri. Cari yang gak deket tempat wisata biar gak berisik.” “Biar apa? Kalau lo yang berisik gak kedengeran orang?” sindir Brian. “Nanti yang ada malah kedengeran gue sama cewek gue lagi.” Jefran bukannya ngerasa gak enak, dia malah nyengir. “Bukan, anjir. Fitnah aja kerjaan lo. Maksud gue biar adem aja suasananya. Nanti gue ikutan bayar yang setengah.” “Gue juga—oh sekalian berempat aja, sih, duitnya?” saran Gea. “Biar gue gak jadi beban doang bisanya ngandelin Jefran—“ “Ya Tuhan, Babe. Lo ngomongnya begitu amat kayak sama siapa.” Tapi Nindya justru setuju sama Gea. “Eh, tapi kayaknya berempat aja iuran sewa villa. Sekali-kali cewek yang keluar duit kan gak papa.” Karena males berdebat sama para cewek yang udah pasti gak mau dipandang sebelah mata, akhirnya Jefran dan Brian mengalah, mengizinkan para cewek buat ikut keluar duit buat sewa villa beberapa hari di Bali. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sebenernya, pas Brian dan Nindya cari villa, mereka jelas udah kirim foto dan alamat ke Jefran dan Gea buat minta masukan—takutnya kan ada yang gak cocok. Jadi pas mereka akhirnya ngefiks buat sewa villa dan udah bayar, Jefran dan Gea jelas udah tahu villa mana jadinya yang mereka sewa. Tapi lihat doang di gambar udah pasti gak bisa bikin puas, makanya pas Jefran dan Gea baru masuk mobil setelah dijemput sama Brian di bandara, Gea yang paling excited buat ke villa. Seumur hidupnya, cewek itu cuman dua kali doang ke Bali. Dia lebih seneng jalan-jalan ke luar negeri atau gak ke daerah timur sana. Dan dua kali ke Bali, dia selalu memilih menginap di hotel dan gak pernah di villa. Terus karena dari gambar yang dikirim oleh Nindya  villanya punya desain yang bagus dan ramah lingkungan alias banyak tumbuhan dan warnanya didominasi warna kayu—Gea bisa ngebayangin kalau alih-alih bentukannya jadi horor karena kayak rimbun, justru villanya malah kelihatan menyatu dengan hutan dan itu sangat keren! “Thanks loh ya udah mau jemput,” Gea mengucap terimakasih setelah dia masuk mobil dan duduk di belakang. Cewek itu menyerahkan minuman kemasan untuk Brian dan Nindya yang duduk di depan. “Mana siang-siang lagi jemputnya. Salah cari jadwal tiket, nih, gue.” “Santai aja, kali. Kayak sama siapa aja lo.” “Tahu, nih” Jefran malah kontra sama pacarnya sendiri. “Santai, dong. Kayak gue nih biasa aja. Soalnya gue juga sering disuruh nyupirin Brian kalau kemana-mana.” Brian ngakak. “Nebeng, Bos. Bahasa lo kayak gue majikan aja.” “Yeh, sama aja.” Nindya cuman ketawa sambil geleng-geleng kepala. Dia menusuk sedotan ke minumannya kemudian mendekatkan botol ke bibir pacarnya, yang mana Brian langsung mendekatkan wajah dan menyeruput minuman jeruk disana. “Villa-nya di Ubud, kan, ya?” Gea memastikan. “Gue bolak-balik ngelihatin gambar yang lo kirim, Ninm saking bagusnya.” “Iya, gue pas awal abis ngefiks-in bayar juga seneng pas ngelihat dekornya. Thanks to Brian yang kenalannya banyak. Kita dapet diskon lima puluh persen.” “Wuih, temen lo, Bri?” Jefran nanya. “Wait, jangan bilang punyanya Diamas?” “Iya, villanya Diamas itu.” Brian terkekeh. “Sempet ketemu juga gue sama dia. Ya, Nin?” Nindya menoleh. “Oh, cewek yang kulitnya eksotis itu? Yang lo bilang dia yang punya villa?” “Iya, yang itu.” Nindya manggut-manggut. “Terus dia nanya, tumben cari villa. Gue jawab aja ke dia, kalau gue mau rame-rame makanya cari villa. Terus dia nanya lagi, emang mau sama siapa aja? Gue sebut, deh, tuh, nama lo.” Jefran mendengus. “Alhasil kita pun dapet diskon setengah harga. Mayan banget, kan, tuh?” Brian mancing. Emang. Brian yang biasanya gak doyan keributan itu kadang juga seneng banget jahil. Ya persis kayak sekarang ini. Apa coba maksudnya ngomongin Diamas pas lagi kumpul-kumpul dan yang paling penting pas ada Gea? Dan yang dipancing langsung makan umpannya. Gea yang dari tadi cuman jadi pendengar  segera menimpali pas denger itu. “Emangnya Diamas siapa, sih?” “Bri—“ “Ada, cewek Bali. Dulu cem-cemannya si Jepran pas masih maba.” “Apaan, anjing,” dari spion depan, Jefran melototin Brian. “Temen doang, Ge.” Tapi Nindya udah terlanjur penasaran dan gak percaya. Maksudnya kayak, ngapain sih kalau temen doang harus gak ngebolehin Brian cerita? “Diem lo, Bri. Demen banget jadi kompor,” Nindya langsung bersuara. “Lo kena karma dibikin cemburu sama orang mau emang?” “Ya Tuhan, Nin, canda doang kali gue.” “Tapi ini kita dapet diskon emang karena ada Jefran makanya si Diamasnya ngasih?” Nindya ngelirik Brian sinis, seolah kalimat terjemahannya tuh jadi : tuh, kan, jadi lanjut. Lo sih, Bri. Brian meringis ke arah Gea. “Ya... kan kenal gitu, loh, Ge. Jadi ya harga temen gitu...” “Mantan dulu?” “Ha... eung... ya gitu...” “Ooh.” Jefran ngegeser duduknya di samping Gea, langsung bergelayut manja bikin Brian langsung pengen muntah. “Gak marah kan Ge? Ya kali marah. Orang gue udah gak ada apa-apa itu sama ceweknya.” “Ya itu tahu. Kalau gak ada apa-apa ngapain, kan, gue marah?” jawab Gea santai. Tapi gak tahu kenapa, Jefran punya firasat buruk atas ini. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jefran yakin sih ini ceweknya marah. Bukan marah, ya, tepatnya. Lebih kayak udah gak seexicted  sebelumnya aja. Dia kayak agak gak mood ngapa-ngapain aja. Dan kalau ini dibiarin, bisa-bisa Gea malah marah beneran. Well, Jefran tuh kalau bikin salah, selalu sadar dan mau minta maaf duluan. Apa lagi kalau urusannya menyangkut Gea, sang pacar yang sangat dia bucinin itu—dia gak salah dan dia yang minta maaf aja Jefran bakal ikhlas, kok. Tapi buat yang kali ini, dia betulan gak ngerasa salah. Yang pertama, Brian aja yang kurang kerjaan ngomongin Diamas sampai begitunya di depan Gea. Yang kedua, dia sama Diamas betulan gak ada apa. Oke, dulu mereka berdua emang sempet pacaran tapi itu juga bentar doang. Dulu, Jefran ketemu Diamas juga pas di Bali—karena cewek itu emang tinggal disini. Gak sengaja duduk sebelahan pas di pesawat, terus lanjut makan bareng abis naympe bandara Ngurah Rai, dan kemudian lanjut tidur bareng pas malemnya. Cerita klise kayak gitu. berawal dari one night stand sama starnger. Tapi karena Jefran pas waktu itu lagi gabut di Jakarta dan niatnya emang berlama-lama di Bali, akhirnya dia jadi ngehubungin Diamas pas abis malem itu. Dan hal itu jadi faktor kenapa akhirnya mereka kemana-mana bareng dan berakhir pacaran. Jefran sih no hard feeling, ya. Toh dia bukan yang cinta atau sayang kayak dia ke Gea gini. Dari dulu sebelum sama Gea, mana pernah sih si Jefran pacaran serius? Diamas ini kata lainnya kayak partner Friend with Benefit tapi versi ada status pacarannya doang, gitu. Dan pas Jefran balik ke Jakarta dua bulan kemudian, posisinya mereka putus. Jefran akuin dia b******k waktu itu karena gak ada alasan apa-apa tiba-tiba minta putus dan langsung ninggalin Bali. Tapi sayangnya, bahkan setelah dia gak pernah menginjak Bali lagi, Diamas masih gemar ngehubungin dia lewat mana-mana, yang mana diartikan Jefran bahwa cewek itu gagal move on dari dia. Well, siapa sih yang gak gamon kalau udah pernah jadi partnernya Jefran? Gak bakal ada. Tapi mengingat kejadian itu udah jadi peristiwa masa lalu yang mana udah lama banget, Jefran bahkan udah hampir lupa kalau aja Brian gak ngomongin cewek itu lagi, Jefran pikir Diamas udah gak naksir lagi. Tapi entahlah, kini dia jadi agak was-was karena... siapa tahu Diamas masih naksir makanya ngasih diskon sampai lima puluh persen? Atau ada baiknya kalau sebenernya Diamas ngelakuin itu karena pengen menjalin hubungan baik aja sama Jefra. Well, opsi terbaik saat ini tentu aja pilihan kedua karena situasi lagi gak memungkinkan. Maksud Jefran, look at his girlfriend. Kalau betulan Diamas masih naksir bisa-bisa liburan di Bali ini akan jadi hari terakhirnya hidup di dunia karena... ...Diamas ada disana, di depan pintu villa, menyambut mereka berempat. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN