* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kebayang, kan, gimana rasanya jadi Jefran saat ini?
Semenjak tadi di mobil Brian bawa-bawa nama Diamas, pacarnya—si Gea—udah agak aneh walaupun kalau diajak ngomong masih mau nyahut, kalau dibercandain masih ketawa, tapi pokoknya Jefran sadar aja kalau pacarnya agak gak mood.
Semuanya diperparah dengan situasi pas mereka semua—Jefran, Brian, Gea, dan Nindya datang ke villa.
Posisinya, Jefran pas ngebawain tasnya Gea, sementara Gea nyeret koper.
“Sepatu lo, Ge,” ujar Jefran mengingatkan karena cewek yang udah pengen banget istirahat dan bermalas-malasan di atas kasur langsung turun dari mobil sampai gak inget kalau sepatunya belum dia pake—iya, soalnya selama di perjalanan dari airport ke villa, Gea memilih tidur dengan kaki terlipat di atas kursi.
“Oh, iya,” Gea meringis, kemudian balik lagi ke mobil buat ambil sepatu. Tanpa memakainya di kaki, cewek itu malah menenteng benda tersebut di tangan kiri kemudian jalan di samping Jefran.
Dengan dua tas yang berada di punggung, Jefran—jujur aja—keberatan karena isi tas Gea ini kayaknya kumpulan dosa manusia di dunia alias berat banget. Tapi karena dia adalah pacar yang baik, akhirnya dia juga ikhlas-ikhlas aja.
“Babe, sinian,” ujar Jefran sambil menearik lembut pergelangan tangan Gea untuk jalan agak mendekat ke dia karena di sebelah kiri Gea ada tumbuhan berduri. “Dilihat, dong, kalau jalan. Neleng mulu matanya kemana-mana.”
“Iya, iya. Gue kan lagi asik mengamati view.”
“Nih lihatin muka gue. View surga gue, nih.”
Gea pura-pura muntah yang mana ekspresi berlebihannya itu mengundang tawa gak cuman Jefarn si pacarnya doang, tapi juga Brian dan Nindya yang jalan di belakang mereka.
Sampai kemudian tawa ke empat manusia tersebut berhenti—tepatnya Jefran dan Brian—kala keduanya terpaku dengan sosok perempuan yang punya badan sebelas dua belas sama Kylie Jenner lagi di depan pintu dengan senyum panis. Jeans levis membentuk kaki indahnya, dibalut dengan atasan kimono lengan panjang yang membuatnya tampak elegan. Bagian dadanya yang membusung besar itu pernah jadi candu Jefarn—dulu. Dan sialnya, segala pemandangan indah itu jelas gak bikin Jefran tergiur karena satu-satunya hal yang ada di pikiran dia adalah...
pacarnya.
Jefran udah gelagapan sendiri—Brian juga ikutan panik—padahal baik Nindya dan Gea belum sadar kalau perempuan yang mereka senyumi itu adalah mantan pacar Jefran.
Diamas.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Hai, selamat datang.” sapa Diamas yang lagi berdiri dengan anggunnya, sementara di sampingnya adalah asisten Diamas—well, soal yang ini Jefran baru tahu kalau cewek itu ganti asisten karena seingetnya dulu bukan cowok banci ini yang jadi asisten mantannya. Tapi cewek tulen.
“Selamat datang,” Nindya menyapa ramah.
Gak tahu dapet firasat dari mana, tapi Gea udah merasakan hawa-hawa gak enak pas ngelihat mukanya Diamas. Dia bahkan ngelirik Jefran beberapa kali. Karena kalau gak salah tebak, Gea menduka perempuan berkimono cokelat tua ini adalah mantan kekasih pacarnya. Diamas-Diamas itu.
“Hai, Jef. Apa kabar?”
Jefran rasanya udah ketar-ketir sendiri apa lagi pas tatapan semua orang disana—Brian, Gea, Nindya, serta Diamas dan asistennya yang lagi caper ke Brian—sial, kayaknya banci itu homo—langsung mengarah ke arah Jefran.
Dia tersenyum seadanya, gak mau bikin Gea makin panas.
“Halo. Gue baik.”
“Lama gak ketemu—“
“Ini kita bisa langsung masuk, gak? Gue kebelet,” Jefran langsung memutus.
“Ooh,” Diamas langsung ber-oh ria memaklumi. “Oke, masuk aja.”
“By the way, gue Diamas. Yang punya villa,” ujarnya malah memperkenalkan diri di depan yang lain. “Kalau Brian sama Jefran, gue emang kenal dari dulu. Kita temenan.”
Fiuh.
Jefran mendesah lega karena Diamas gak melebih-lebihkan ucapannya.
“Gue Nindya,” ujar cewek yang berdiri samping Brian dengan memperkenalkan diri. “Ini temen gue, pacarnya Jefran. Gea.”
Emang yang namanya temen deket apa lagi satu frekuensi, udah pasti punya pemikiran yang sama. Nindya pasti sudah tahu apa yang sedang terjadi disini, udah peka, dan tahu apa yang diinginkan Gea saat ini. Jadi here she goes, memperkenalkan Gea secara langsung di depan Diamas sebagai kekasih Jefran.
Tapi kerennya—well, emang Gea akuin cewek bernama Diamas ini elegan banget mau ngapa-ngapain—keliatan santai dan gak terdistraksi sama kalimat Nindya. Padahal dari awal mereka dateng dia udah kayak bingung cari perhatian ke Jefran.
“Nice to meet you, guys. Kalian bisa masuk. Gue gak perlu room tour dulu, kan, buat ngenalin?”
“Santai aja, gak usah,” Nindya menjawab. “Thank you, ya, by the way.”
“Alright. Gue musti cabut. Jadi kalau ada apa-apa yang ditanyain, kalian bisa calling gue lewat telepon rumah. Letaknya di samping meja utama di ruang tamu.”
Kemudian banci di samping Diamas—yang dari tadi diem aja itu—sekarang membuka suara. “Ehm, ehm,” ujarnya memulai percakapan dengan suara disengajakan jadi lemah gemulai dan kemayu. “Bentar, dong, Non. Gue mau kenalan juga. Dari tadi gue tunggu dikenalin, kok, gak dikenal-kenalin. Padahal cakep-cakep, loh, ini cowoknya,” ujarnya diakhiri dengan kikikan.
Brian merinding duluan ngelihatnya.
“Nah, Mas-Mas yang bergidik barusan itu,” si banci tiba-tiba menunjuk Brian. “Whos’ your name? Cakep amat mukanya kayak YoungK Day Six. Yang penyanyi asal Korea itu, looooch.”
Brian sampai noleh ke Nindya buat minta pertolongan. Tapi pacarnya mana peka sama yang kayak begini.
“Itu Brian, Cin, namanya,” Diamas memperkenalkan. “Nah, kalau yang pacarnya ini—
“Nindya,” sela Cinta—nama banci itu—sambil menjentikkan jari. “Oke, yang ini Brian, ini Nindya, ini Jefri—“
“Jefran,” Diamas meralat.
“Iya, Jefran maksud gue. Terus yang pacarnya ini—siapa? Lupa, deh, eike.”
“Gea.”
“Iya, Gea. Oke, kenalin, ya, temen-temen. Eike namanya Cinta. Cinta Lauriel.”
“Lauriel, anjir,” Nindya gak bisa menahan diri buat gak ketawa. “Cinta Pembalut.”
“Hei, jangan menghina nama eike!”
Brian menurunkan tangan Cinta yang menuding pacarnya. “Calm, Bro, calm—“
“Hei! I’m a girl. Kenapa lo panggil Bro?”
“Oke, sist—“
“Tapi gue lebih suka lo panggil sayang, sih...” ujar Cinta genit membuat Nindya melotot.
“Excuse me? Ini pacar gue, loh, ya.”
Sebenernya sih Nindya juga cuman bercanda. Tapi karena Cinta kayaknya nganggep serius dan berakhir meringis merasa bersalah, jadi banci itu ngode Diamas buat meninggalkan tempat sambil agak menggerutu.
Nindya menyeringai geli. Cinta ini hiburan juga buat dia. Kelakuannya lucu—mengingat dia emang belum pernah ketemu dan berbincang langsung sama banci. Baru kali ini.
Brian cuman ketawa doang sama respon pacarnya yang kelihatan posesif. Padahal sekalipun dilihat dari ujung sedotan, Brian juga bakal milih Nindya dari pada Cinta.
Dibalik canda tawa antara Brian, Nindya, dan Cinta tersebut, ketiganya gak ada yang sadar kalau Jefran, Gea, dan Diamas berkali-kali malah menatap satu sama lain.
Ketegangan yang tersembunyi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Soal pembagian kamar, ya gak pakai ditanya, lah, ya.
Kalau ini Wildan, Satria, dan Dafi, mungkin pembagian kamarnya bakal cowok sama cowok, yang cewek sama cewek. Tapi karena ini Jefran dan Brian, udah pasti mereka berdua menolak satu kamar—padahal Gea lagi gak mood aja tidur sama Jefran dan Nindya juga lagi pengen banyak ngobrol sama Gea. Tapi karena kekeraskepalaan para cowok, akhirnya pembagian kamar juga Brian dengan Nindya, dan Jefran sama Gea.
Setelah mereka memasuki kamar super besar dan nyaman dengan kaca besar yang mengarah ke pemandangan indah di laur sana—apa lagi mereka dapat lantai dua yang artinya ada balkon—Jefran mengunci pintu di belakang punggunggnya.
Cowok itu berdeham. Yah, gimanapun dia peka, lah, kalau ada situasi yang gak menyenangkan yang bikin ceweknya jadi aneh.
Gea lagi menaruh koper di sebelah kasur lalu melepas jaket, membuatnya hanya memakai tanktop sementara celana jeans selututnya masih terpasang rapi di kaki.
“Sayang,” Jefran mendekat setelah menaruh tasnya di samping koper. “Mau mandi sekarang? Apa gue siapin air anget?”
Oke, Jefran emang peka banget, sih, jadi cowok. Lihat aja sekarang. Dia lagi sibuk ngerayu dan cari jalan keluar buat mencairkan suasana.
Gea agak geli karena Jefran sampai berlutut di depannya sementara Gea lagi duduk di ujung kasur.
“Kenapa, sih?” Gea ketawa kecil. “Santai aja kali, Jef.”
“Gue beneran nanya. Mau gue siapin buat mandi?”
Cewek itu menggeleng. “Gue mau mandi air pakai shower aja.”
Jefran dan Gea malah pandang-pandangan beberapa saat, kemudian Jefran menghela nafas. Dia menarik kedua tangan Gea untuk masuk ke dalam genggamannya. Tak lupa cowok itu juga memasang wajah melas.
“Lo lagi badmood, ya, Ge? Gara-gara gue?”
Alih-alih menggeleng kayak cewek kebanyakan, dia mengangguk. “Sori, ya. Belum apa-apa udah bad mood aja gue.”
“Kenapa sori, sih? Gue yang salah juga.”
“Sadar salah lo dimana?”
Jefran mengangguk.
“Apa?”
“Karena gak kasih tahu lo lebih awal kalau kita bakal sewa villa di villanya mantan gue.”
Itu memang benar.
Pas dari awal Nindya kirimin foto villa yang bakal mereka sewa, Jefran udah ngeh kalau villa ini adalah villa milik sang mantan kekasihnya. Milik Diamas itu. Tapi dia pura-pura gak tahu info apa-apa dan membiarkan para cewek tetep sewa villa disana.
Seharusnya sih yang kayak gini gak bakal jadi masalah—apa lagi ini Gea, yang emang jarang banget ngambek dan cemburu. Tapi salah Jefran sendiri yang dari awal kayak panik karena denger nama Diamas—padahal dia berani sumpah demi Tuhan kalau dia udah gak ada rasa apa-apa sama Diamas. Perasaan panik yang hadir itu semata-mata hanya karena dia parno Gea belakangan agak sensitif kalau menyangkut mantannya Jefran.
Dan itu kebukti, kan, sekarang betapa Gea betulan lagi sensitif soal masa lalu Jefran? Mana si Diamas walaupun kelihatannya elegan gitu tetep ada bibit haus perhatian pula.
Gea manggut-manggut. “Bagus kalau sadar.”
“Lo marah sama gue, ya, Ge?”
“Kalau saat ini, sih, enggak. Cuman bete aja. Gak tahu kalau nanti.”
“Yaaah,” Jefran merengut. “Kok gitu?”
Gea menyuruh Jefran menyingkir karena perempuan itu hendak berdiri. Gea mengikat rambutnya menjadi satu sambil menghadap kaca, gak memperdulikan Jefran yang masih minta dibelas-kasihi.
“Tergantung gimana lo menyikapi yang barusan,” Gea ngelirik pacarnya dari cermin. “Jangan dikira gue gak tahu kalau diem-diem dia ngasih lo kartu nama.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gea emang cewek paling sangar yang pernah dikenal Jefran di muka bumi ini. Makanya dia suka banggain pacarnya kemana-mana.
Jefran bahkan niatnya hendak gak cerita kalau tadi pas Jefran melewati pintu utama buat masuk villa, dia yang posisinya berjalan di paling belakang itu tiba-tiba merasakan ada tangan seseorang yang masuk ke kantung celana belakangnya. Itu Diamas yang sedang menyisipkan kertas di belakang sakunya.
Tapi sekalipun begitu, Jefran beneran gak tergoda buat menghubungi wanita itu lagi. Dia berani sumpah apapun. Keinginannya untuk merahasiakan ini adalah karena dia gak mau Gea makin jengkel dan kesel padahal mereka lagi liburan di Bali.
Eh, tapi ternyata cewek itu malah udah tahu duluan tanpa diberi tahu. Emang kalau aneh-aneh di belakang Gea tuh harus mikir seribu kali. Karena matanya ada banyak dan dimana-mana.
“Kok elo bisa tahu?”
Gea mengedikkan bahu.
“Tapi gue beneran gak punya niat—minat aja gak, loh, Ge, buat ngecall dia lagi.”
“Makanya kan gue bilang,” Gea buka suara. “Gue gak marah kalau buat saat ini. Tapi gak tahu nanti kalau gue tahu lo ngerespon dia.”
“Enggak. Gue janji gue gak bakal aneh-aneh. Suwer!”
Jefran bahkan sampai duduk tegak kayak posisi orang lagi upacara bendera hari Senin dengan tangan yang mengacungkan dua jari tanda damai.
“Beneran?”
Gea—sejujurnya—betulan geli dan pengen ketawa ngelihat pacarnya jadi panik begini. Karena selama ini Gea juga jarang banget cemburu, jadi Jefran juga belum tahu harus gimana kalau si Gea udah cemburu.
Jefran mengangguk cepat. “Beneran! Lagian ya, Ge. Harusnya yang kayak gini, tuh, lo gak perlu nanya. Punya lo sebagai cewek gue aja udah cukup dari segalanya. Mana mungkin gue bisa main sama yang lain di belakang lo?”
Gea tersenyum ngeledek. “Peres lo.”
“Dih, beneran tau. Satu aja gak abis-abis. Ngapain harus dua. Ya, kan?”
“Tauk.”
Jefran yang udah tahu kalau situasi di dalam kamarnya udah membaik—terlihat dari bagaimana cara perempuan yang berstatus jadi pacarnya itu menatapnya—langsung menghembuskan nafas lega.
Jujur dia betulan kepingin quality time sama Gea selama di Bali. Dia gak kebayang aja kalau mereka malah jadi marahan cuman gara-gara Diamas yang nongol di depan dia.
“Gak marah, kan, Babe?”
“Enggak, Jef. Takut banget ya lo?”
Jefran gak sungkan buat mengangguk. Dia berdiri dan mendekat, kemudian memposisikan diri di belakang tubuh Gea yang masih betah ngaca di depan cermin. Tangannya melingkar di pinggang ramping kekasihnya.
“Iya, lah.”
“Ululu,” Gea mengusap pipi Jefran. “Lucu banget ini. Pacar siapa, sih?”
“Pacar lo.”
Gea tertawa kecil. “Sini cium dulu,” ujarnya betulan gemes sama Jefran seiring dengan kepalanya yang tertoleh ke samping.
Jefran tersenyum sebelum kemudian membungkam bibir Gea dengan lumatan lembut darinya.
Ah, ini yang Jefran dan Gea mau.
Mereka berdua memang butuh memadu kasih selama tiga hari ke depan di Bali.
Jefran membalikkan badan Gea agar menghadapnya, kemudian mengangkat tubuh cewek itu agar mau mengaitkan kaki di pinggang Jeff. Dengan posisi menggendong Gea, Jeff langsung melangkahkan kaki ke arah kamar mandi.
“Pintunya udah dikunci?” Gea bertanya setelah melepaskan pagutan bibir mereka.
Jefran berdeham dan berganti menciumi leher pacarnya. “Sekalian mandi, ya, Babe? Jadi di kamar mandi aja.”
“Mm-hm. Terserah.”
Jefran mendongak menatap pacarnya sesaat sebelum tersenyum dan memberi kecupan singkat di bibir merah sang pacar. “Love you. Kangen banget gue sama lo.”
“Samaaaaaaaaaa. Hehe.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Good day in my mind, safe to take a step out
Get some air now, let your edge out
Too soon, I spoke, you be heavy in my mind
Can you get the heck out?
I need rest now, got me bummed out
You so, you so, you, baby, baby, babe
I've been on my empty mind shit
I try to keep from losin' the rest of me
I worry that I wasted the best of me on you, baby
You don't care
Said, not tryna be a nuisance, it's just urgent
Tryna make sense of loose change
Got me a war in my mind
Gotta let go of weight, can't keep what's holding me
Choose to watch
While the world break up and fall on me
All the while, I'll await my armored fate with a smile
Still wanna try, still believe in (good days)
Good days, always (good days)
Always inside (always in my mind, always in my mind, mind)
Good day living in my mind
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *