* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gak semua orang kayak Kanya.
Wildan selalu memegang erat prinsipnya yang itu. Bukan prinsip kali, ya, namanya. Tapi pendapat dia aja, opini pribadi.
Selain karena dilihat dari segi fisik dan karaketr yang bikin dia jatuh cinta, tapi salah satu yang lainnya adalah gimana Kanya benar-benar selalu optimis dan gak gampang menyerah. Walaupun kadang hal positif itu bisa cenderung bikin Kanya keras kepala dan gak bisa dibilangin.
Tapi dibanding orang-orang di sekitar Wildan, teman-teman Wildan dan yang lain, Wildan memang salut sekali dengan Kanya. Keinginan perempuan itu besar, cita-citanya tinggi, dan tak mudah surut hanya karena beberapa orang di sekitarnya tak mendukung bahkan ada yang blak-blakan menjatuhkannya.
Namun Kanya tetap teguh dan berdiri tegak.
Hal inilah yang terjadi pada Kanya beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika Kanya menginjak detik-detik akan Ujian Nasional. Mungkin dua bulan sebelumnya, kalau Wildan tak salah hitung.
“Kamu mau masuk ke kampus mana? Tetep kayak rencana awal?” tanya Wildan pagi itu, di sela-sela langkah kakinya yang berjalan santai setelah mereka berdua jogging keliling taman di komplek perumahan Kanya.
Kanya mengangguk yakin. “Masih.”
“Jurusannya juga?”
“Iya,” Kanya noleh ke arah Wildan. “Kenapa? Kakak juga mulai ngeraguin aku?”
Mendengar itu, sontak Wildan ketawa. Dia mengusap rambut Kanya yang mulai agak hangat karena terpapar sinar matahari. “Gak, lah. Ngapain? Aku yang paling yakin kamu bisa lolos. Duduk, yuk. Udah capek, kan, kamu?”
Kanya mengangguk dan mengikuti Wildan yang mengajaknya menghampiri satu bangku kosong di sudut taman.
“Tunggu disini dulu, aku beliin minuman.”
“Air mineral aja, ya.”
“Iya, Sayang. Tahu.”
Wildan kemudian balik badan untuk membeli penghaus dahaga. Menurut Wildan, sesegar apapun minumannya, kalau habis olahraga gini emang yang paling enak cuman air mineral doang. Sekalipun gak dingin, sekalipun dibadingkan dengan minuman lainnya yang ber-es batu. Air mineral tetap juara.
Setelah membayar dan menerima kembalian, cowok itu langsung balik ke bangku tempat pacarnya duduk. Dia mengambil tempat di samping Kanya seiring tangannya membukakan tutup botol lalu menyerahkan pada Kanya.
“Terus udah nyiapin segala sesuatunya buat persiapan SBM?”
“Insya Allah udah lengkap semua, Kak. Kata mamaku juga langsung suruh fokus ke SBM aja, karena nilai UN gak ngaruh buat daftar kuliah.”
Wildan mengangguk setuju. “Emang. Tapi kalau bisa, ya, jangan jelek-jelek nilai UN-nya.”
“Iya, tahu.”
“Tapi kamu mana pernah, sih, dapet nilai jelek, ya?”
“Ih, ya pernah tetep! Dulu pas SD dapet nilai 6 tahu aku!”
Wildan ketawa. “Masa, sih? Itu yang paling jelek?”
“Iya. Itu jelek banget, Kak, Demi Allah. Aku aja dimarahin Papa, kok, pas ketahuan.”
“Mata pelajaran apa emang?”
“Matematika. Inget banget aku itu pas materi pecahan. Eh ternyata pas masuk SMP baru nyadar sebenernya gampnag banget.”
“Ya emang gitu, sih,” Wildan mencoba menjelaskan. “Kalau pas masih SD kan yang kayak gitu udah kelihatan susah. Aku juga pernah, kok. Dulu SD kalau disuruh hafalan tulang-tulang yang belikan, rusuk, dan lain-lain itu sampai nangis karena gak bisa-bisa. Eh, pas SMP ketemu materinya lagi, ternyata juga gak susah-susah amat.”
“Ya, kan?!”
Wildan mengangguk. “Terus gimana? Rencananya kamu tetep les di tempat yang sekarang atau pindah ke yang lebih bagus lagi?”
“Mama belum pernah nawarin pindah, sih. Tapi kalau misal tetep disini aku juga gak keberatan. Lagian menurut aku, ya, Kak. Gak ada tempat les yang bagus atau yang jelek. Tergantung muridnya aja mau niat belajar apa gak.”
“Iya, tahu. Terserah kamu juga. Aku mah dukung aja,” ucap Wildan membalas. “Yang penting sholatnya makin dibenerin. Jangan suka nunda-nunda. Sujudnya dilamain. Biar pengennya kamu dikabulin.”
Kanya tersenyum. “Iya, Kak...”
“Masih optimis, kan?”
“Masih, lah.”
Wildan paling senang melihat gadisnya selalu mempunyai cita-cita tinggi dan mau berusaha untuk meraih mimpinya. Maksud cowok itu, manusia pada dasarnya selalu punya banyak keinginan dan cita-cita tinggi. Tapi kebanyakan dari mereka hanya mampu bermimpi, tapi tak ada usaha apapun untuk mencoba meraih keinginnya. Sama saja seperti bohong, kan?
Sementara hal itu pula yang bisa dibanggakan Wildan dari sang kekasih.
Kanya selalu mau belajar, berdoa, dan berusaha demi mewujudkan mimpinya jadi dokter. Lolos di tes Perguruan Tinggi Negeri yang kampusya sudah dikenal jadi kampus terbaik di Indonesia dan jurusan Kedokteran jelas tidak mudah, tapi Wildan yakin kekasihnya bisa menaklukannya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Satu minggu setelah percakapan itu, Wildan dan Kanya yang niatnya menghabiskan malam minggu berdua di kafe, kala itu membatalkan rencana. Kanya bilang dia sedang tidak ingin kemana-mana. Jadi mereka berdua berakhir malam mingguan di rumah Kanya. Tidak hanya berdua, tapi ada mama dan papa Kanya yang kebetulan juga gak lagi kemana-mana.
Wildan gak keberatan. Toh yang paling penting dia sudah menyisihkan waktu untuk menemui sang kekasih—karena dia juga yakin seratus persen setelah ini Kanya sudah tidak dapat diajak jalan-jalan, main, dan malam mingguan karena gadis itu akan fokus belajar.
Tapi jujur aja.
Sebelum Wildan ke rumah Kanya, dia sempet kepikiran. Mungkin ini bisa dikatakan lebay, tapi Widan agak parno sendiri sama hubungan percintaan yang biasanya dilakoni oleh anak SMA di tingkat kelas paling tinggi, yakni kelas 12.
Semuanya diperparah ketika Wildan dan Kanya sedang berdua di ruang tamu, sedangkan mama dan papa Kanya sedang berada di ruang keluarga, menonton Opera Van Java.
“Kak, aku mau ngomong, deh.”
Awalnya, sih, Wildan belum ngeh. Jadi dia—sambil menyeruput teh hangat bikinan sang pacar—menggumam. “Hm?”
“Serius ini.”
“Iya, kenapa? Ini aku juga gak lagi bercanda.”
Kanya menunduk sesaat sebelum kemudian kembali mengangkat kepala untuk menatap Wildan. “Kan aku udah mau Ujian Nasional, nih. Mama udah daftarin aku di tempat les baru—“
“Oh, ya?”
“Iya. Tempatnya bagus, sih. Bener agak mahal, tapi mama bisa ngejamin kalau disitu bakalan bikin aku lebih banyak belajar lagi. Apa lagi alumni dari sana juga selalu lolos tes PTN.”
Wildan mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus, dong, kalau gitu.”
“Iya. Intinya, kakak tahu aku bentar lagi sibuk banget. Pagi sampai malem bakalan dipakai buat belajar mulu. Weekend, hmm, aku gak yakin aku bakal gak belajar. Kakak tahu segimana antusiasnya aku buat lolos kampus dan jurusan yang aku mau. Jadi aku harus fokus belajar.”
Di detik Wildan mendengar kalimat terakhir Kanya itulah, Wildan langsung panik sendiri. Dia seperti familiar dengan kalimat seperti ini. Ia teringat di beberapa konten Youtube yang pernah ditontonnya, sering sekali laki-laki mencurahkan isi hatinya ketika dia diputusin sama pasangan hanya karena si cewek bilang ‘ingin fokus belajar’. Timeline nya pun sama, yakni pas Kanya lagi kelas dua belas dan hendak Ujian Nasional.
Jantung Wildan mendadak berdetak tak normal, dua kali lebih cepat. Punggungnya tegak, tak lagi menyandar santai seperti posisinya semula.
“Nya—“
“Bentar, aku mau ngomong dulu.”
Tapi Wildan menggeleng. “Gak, gak. Bentar, please, biarin aku ngomong dulu.”
“Kak—“
“Nya,” Wildan mendesah gusar. “Nya, please, aku gak mau putus. Iya, aku tahu kamu abis ini bakalan sesibuk apa. Dari pagi sampai malem kamu habisin buat baca buku, buat belajar, buat sekolah sama les. Kamu weekend juga gak bisa janjiin aku buat quality time berdua. Tapi aku gak masalajh. Aku ngerti dan aku bisa maklumin. Tapi please,” Suara Wildan mulai bergetar. “Jangan minta putus.”
“Kak....”
Wildan meraih kedua tangan pacarnya. “Aku bakal jadi pacar pengertian. Aku gak bakal gangguin kamu, marah ke kamu karena kamu cuekin aku, tapi jangan minta putus. Ya?”
“Kakak, udah ngomongnya?” Kanya nanya. “Can i talk now?”
“Iya, you can talk right now.”
Cewek itu terkekeh. “Aku gak minta putus. Kamu kenapa, sih, Kak?”
“Hah?”
“Aku gak minta putus,” Kanya mengulangi kalimatnya. “Siapa yang mau minta putus, sih? Gak ada. Kenapa juga aku harus minta putus?”
“T-tapi...”
“Kakak, nih, kayaknya kebanyakan dicurhatin orang, deh, makanya parno denger aku bilang kau mau fokus belajar. Iya, gak?”
Wildan mengangguk. Walaupun dia masih gemetar panik, tapi setengah hatinya yang lain sudah lega duluan. Setidaknya dia tahu kalau Kanya tidak hendak memutuskan hubungan mereka berdua.
Oh Tuhan, ternyata Wildan sudah secinta ini dengan sang kekasih. Dia baru sadar kalau dia sudah menyayangi Kanya sampai ada di fase dia tidak bisa membayangkan kalau saja Kanya meninggalkannya, memutuskan hubungan dengannya, kemudian Wildan kembali menjalani hari seperti sebelum bertemu gadis itu.
Tidak. Wildan benar-benar tidak mau itu terjadi.
“Beneran gak minta putus, kan, Nya?”
“iya, Kak. Gak minta putus,” tangan Kanya yang sedari tadi digenggamnya itu kemudian malah merangkum balik tangan Wildan, menjadikan tangan-tangan kecil gadis itulah yang berada di atas dan menangkup kedua tangan Wildan, menepuk-nepuknya pelan. “Aku tadi ngomong kayak gitu karena aku mau minta maaf. Habis ini aku bakalan jarang buka hape—ya buka, sih, tapi bukan buat balesin chat-chat. Aku bakalan fokus belajar, kayak kataku tadi. Bahkan kayaknya... quality time kita juga bakal jarang banget. Aku gak bisa janjiin ke kak Wildan aku bakal ngehubungin kakak kapan, atau bisa ketemuan kapan, jadi... aku minta maaf buat itu.”
“Hei, kenapa harus minta maaf, sih? Kamu lagi fokus ngejar cita-cita kamu. Kenapa minta maaf buat itu? Aku dukung kamu seratus persen, Nya. Aku mau kamu sukses, aku mau kamu prioritasin masa depan kamu. Oke? Makanya, tadi aku juga bilang, kan. Aku janji aku bakal maklum dan gak nuntut banyak ke kamu setelah ini—setidaknya setelah ujian kamu terlewati.”
Kalau ada yang tanya kepada Kanya apa yang membuatnya jatuh cinta sedalam ini pada seorang Wildan Gusti Ramadhan, maka ini adalah jawabannya.
Kanya tak pernah menemukan laki-laki sebaik, sebijak, dan sepengertian Wildan. Ia seperti menemukan sosok kekasih, teman, sekaligus kakak, dan ayah di diri laki-laki itu. Wildan seperti paket komplit untuk melengkapi hidupnya.
“Makasih, ya, Kak.”
Wildan tersenyum manis. Tangannya terangkat mengusap surai lembut dan hitam legam milik sang kekasih. “No need to mention it, Kanya.” jawabnya kemudian mengecup punggung tangan cewek itu. “Tapi kamu beneran gak ada niat buat mutusin aku, kan?”
Kanya jadi meledakkan tawanya karena mendengar pertanyaan itu lagi. Ya Tuhan pacarnya ini...
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sayangnya, ternyata itu tidak mudah. Sama sekali gak mudah malahan.
Hari pertam tanpa Kanya terlewati dengan baik, sesuai dengan perkiraan Wildan. Minggu pertama juga masih terlewati dengan baik. Tapi tidak dengan hai-hari selanjutnya, pekan-pekan selanjutnya.
Wildan bahkan gak pernah merasakan rindu kepada seseorang sampai serindu ini.
Kalau saja dia gak terlanjur janji ke Kanya untuk gak mengiriminya pesan, mungkin saat ini Wildan akan melampiaskan rasa rindunya dengan menelpon nomor sang pacar.
Tapi sayangnya, di awal kesepakatan dulu, Wildan sendiri yang beranji pada Kanya untuk gak menghubungi duluan—karena dia takut menganggu. Jadi dia harus menunggu Kanya yang menghubunginya duluan, dan biasanya itu dilakukan tiga hari sekali saja, dan di jam-jam malam yang mana sang pacar cuman bakal bilang, “kak, aku tidur, ya. maaf gak bisa nemenin chat. kamu jangan tidur malem-malem dan jaga kesehatan.”
Yang mana, pesan itu biasanya akan langsung dibalas dengan Wildan dengan kalimat berupa, “kamu juga jaga kesehatan. jangan sampai telat makan dan kurang tidur. beneran. aku gak mau kamu sakit.”
Yang mana, pesan itu biasanya akan baru dibalas lagi di kemudian hari—dua atau tiga hari setelahnya.
Ayolah, Wildan bahkan gak tahu kalau efeknya bakal semenyiksa ini. Kapan ia terakhir kali berjumpa dengan sang kekasih? Kapan terakhir kali Wildan bisa menatap secara langsung wajah pacarnya? Kanya bahkan sudah selesai Ujian Nasional dan Wildan belum pernah dan belum bisa menemui gadis itu.
Apa lagi di hari terakhir Ujian Nasional saja, Wildan tahu kalau Kanya langsung kembali ambis dan belajar materi buat SBM. Jadi selama ini, laki-laki itu hanya bisa memantau gadis itu lewat mamanya Kanya saja—yang alhamdulillahnya baik banget mau sering-sering ngepap anaknya lagi apa. Well, itu cukup jadi obat penawar rindu yang dia rasakan. Ingat, cuman sedikit. Karena obat kangen yang paling manjur emang cuman ketemu langsung.
“Kamu, tuh, kenapa sih Nak dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan aja?”
Akhirnya, setelah beberapa menit Wildan yang di hari Minggu ini terlihat gelisah dan gak tenang, ditegur juga oleh ibunya yang mungkin sudah muak sama kelakuan sang putera yang aneh banget ini.
“Kangen sama pacar, ya?” ledek ibunya. “Yang strong, ya, Nak. Kan Kanya bukan lagi seneng-seneng jauhan sama kamu. Dia lagi belajar biar bisa kejar cita-cita. Harusnya kamu bangga, dong, punya pacar yang gemar belajar kayak gitu.”
Wildan mencebik. “Ya tapi gak sampai sebulan lebih gini, dong, Bu.”
“Lha, katanya dari awal kamu sendiri juga tahu kalau kadaluarsanya ini sampai nanti Kanya selesa tes PTN?”
“Ya iya, sih...”
“Nah, makanya,” sang ibu tertawa. Dia mengulurkan mangga manis ke depan Wildan, menyuruhnya untuk makan. “Harus tepat janji, dong. Emangnya kangen banget apa?”
“Banget! Kalau gak, mah, mana mungkin aku sampai bete seharian begini.”
Sang ibu malah ketawa. “Yah, gak cuman kamu doang, sih, sebenernya yang kangen. Kanya juga udah lama gak ke rumah kita.”
“Eum...” Wildan menelan mangganya. “Tapi kayaknya aku mau ke rumah dia deh bu sekarang.”
“Lah?”
“Ya abis gimana. Agak takut kalau dia betulan lupa kalau dia masih punya pacar.”
Ibunya makin terbahak. “Lebay kamu!”
Wildan meringis. Dikiranya dia bercanda, padahal mah beneran. Jadi Wildan memutuskan segera ganti baju dan meraih kunci motor. Well, dia se-gak sabar itu, makanya gak memilih pakai mobil yang bisa-bisa membutuhkan waktu lama cuman buat macet-macetan di jalan.
Dia ingin segera bertemu Kanya!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ternyata, perasaan rindu yang membuatnya ingin segera menemui Kanya itu gak sekedar perasaan rindu saja. Well, kalau Wildan boleh sedikit alay saat ini, ia ingin menjawab dengan ‘ikatan batin’.
Lihat saja dengan apa yang dia dengar saat ini, tepat ketika dia mengetik pintu dan mama Kanya membukakan pintu.
“Kebetulan kamu kesini, Nak. Itu, Kanya badannya demam dari kemarin malem.”
Itu yang dimaksud Wildan dengan ikatan batin.
Mungkin memang ini alasan kenapa dari pagi Wildan betulan kepingin segera ketemu Kanya sampai mengingkari janjinya sendiri bahwa dia gak akan menghubungi atau mencari Kanya lebih dulu. Ternyata karena gadis itu sedang tak baik-baik saja. Kanya sedang sakit sejak semalam. Itu adalah alasannya.
“Kamu masuk aja ke kamarnya, Nak.”
“Gak papa, Tan?”
“Gak papa. Asal pintunya jangan ditutup, ya.”
Wildan mengangguk seraya tersenyum. “Makasih, ya, tan. Aku ke kamar dia dulu.”
Seraya membawakan semangkuk sup hangat dan air mineral di atas nampan, Wildan melangkahkan kakinya ke lantai dua. Langkahnya sungguh berhati-hati karena jujur aja, dia gak pandai membawa nampan apa lagi gelasnya berisi air penuh, begitu pula dengan mangkuknya. Takut jatuh, Bun.
Bahkan ketika Wildan sudah sampai di depan kamar kekasihnya, Wildan harus menaruh nampan dulu di atas meja kecil yang terletak di sudut dinding hanya untuk mengetuk pintu kamar sang gadis.
“Masuk aja, Ma.”
Ah, pasti kekasihnya mengira bahwa yang mengetuk pintu adalah mamanya. Gak kaget, karena Wildan emang gak ngabarin dulu sebelum ke rumah cewek ini.
Tanpa memperkenalkan dirinya, Wildan langsung masuk. Dia mendapati punggung Kanya yang tidur meringkuk menghadap samping, membelakanginya. Selimut membalut tubuhnya hingga setengah wajahnya.
Wildan meletakkan nampan di atas nakas kemudian pelan-pelan mendekat, duduk di ujung kasur. Dia mengusap kepala belakang Kanya, membuat perempuan itu langsung menoleh ke belakang dan menunjukkan raut terkejut. As expected.
“Loh, Kakak?!”
Wildan menghela nafas. “Kenapa gak bilang kalau kamu lagi sakit, hm?”
“Kakak kok disini? Kok bisa tahu aku sakit?”
Ck, ini anak. Ditanya malah balik nanya.
“Dari pagi aku kepikiran kamu, makanya nekat kesini. Kalau aku gak nekat, aku gak bakal tahu kalau kamu sakit.”
Kanya merubah posisi tidurnya untuk lurus dan menghadap ke arah Wildan.
“Kenapa gak bilang kalau lagi sakit?” ulang Wildan, kekeuh ingin mendapatkan jawaban.
“Cuman demam, Kak...”
“Tetep. Harusnya ngasih tahu,” Wildan memegangi pundak Kanya yang hendak duduk dan bersandar ke sandaran kasur. “Aku pengen ngomelin kamu.”
“Jangan, aku lagi sakit.”
“Iya, makanya aku tahan dari tadi.” Wildan mendengus. “Makan dulu, deh, ya? Kamu belum sarapan kata Mama kamu tadi.”
“Oh, ya. Mama kemana?”
“Di bawah.”
“Kok kakak dibolehin masuk kamarku?”
Wildan hanya mengedikkan bahu. “Lagian aku gak mau aneh-aneh. Pasti dapet izin lah.”
Kemudian laki-laki itu mengambil mangkuk sup krim dan menyuapkan ke Kanya.
“Makan satu suap aja, ya.”
“Apaan satu suap? Sampai habis, lah. Habis itu minum obat.”
“Lidahku pait, Kak...”
“Salah siapa sakit, hm? Kamu sendiri yang salah. Aku udah bilang, jangan sampai kecapekan.”
“Aku nggak—“
“Jangan ngelak. Kamu kayak gini pasti karena terlalu ngeforsir tenaga. Kamu kecapekan. Biasanya kamu jarang banget sakit, tapi kalau udah sampai sakit kayak gini tandanya kamu udah parah banget ambisnya.”
Ya, sebetulnya Wildan juga betul. Ini kesalahan Kanya sendiri yang terlalu memforsir tenaga. Makanya dia sampai jatuh sakit. Satu minggu belakangan, Kanya terlalu sering begadang—mengaku ke ibunya tidur di pukul sembilan padahal dia baru terlelap di pukul satu sehabis mengerjakan soal, telat makan, gak tidur siang, terlalu banyak mikir, semuanya bikin Kanya tumbang sejak semalam.
“Jangan marah-marah, dong, Kak...” Kanya memajukan bibir bawahnya cemberut. “Aku lagi sakit, kita udah lama gak ketemu, kakak malah ngomel mulu. Bukannya pacarnya disayang juga.”
“Harusnya karena kita udah lama gak ketemu, sekalinya ketemu bisa seneng-seneng bareng. Lah ini, malah dapet kamu sakit. Gimana gak sedih aku?”
“Iya, maaf...”
“Bukan maaf yang aku mau.”
“Iya, aku janji gak ngulangin lagi, Kak...”
Wildan menghela nafas. Dia mengusap sudut bibir Kanya yang terkena kuah. Cowok itu menyerahkan segelas air minum kepada Kanya.
“Janji jangan sakit lagi, ya? Aku beneran khawatir lihat kamu kayak gini, Nya.”
“Iya, gak bakal sakit lagi,” Kanya tersenyum dengan mengangkat kedua jarinya sebagai tanda damai. “Janji.”
Cowok itu mengulas senyum. Walaupun masih ada rasa sedih karena udah lama gak ketemu dan sekalinya ketemu malah harus mendapati wajah pucat dan mata sayu milik pacarnya—kelihatan kalau demen begadang dan sekarang lagi sakit—Wildan mencoba mengerti.
Dia mengusap rambut Kanya untuk merapikan poninya, kemudian maju untuk mengecup lama dahi yang suhu panasnya terasa menyengat itu.
“Habis ini sakitnya pindah ke aku aja. Kamu harus sembuh.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *