Hubungan yang diawali dari keterpaksaan memang selalu terasa menekan. Ia ingin jujur, tapi mulutnya seolah tertutup rapat, seolah setiap bertemu dengan Rangga dan mengobrol dengannya, laki—laki itu pantas mendapatkannya. Divi tersenyum asimetris saat pikirannya berkata bahwa Rangga pantas mendapatkannya. Padahal apalah dirinya ini, wanita yang banyak kurangnya. Sikapnya yang urakan pun jauh berbeda dengan kepribadian laki—laki yang pernah hadir di hidupnya. Mendadak Divi berpikir, sebenarnya sifatnya yang urakan ini menurun dari siapa? Ayahnya cukup rapi, apalagi ibunya. Mengingat soal kerapian, tangan Divi mulai bergerak membereskan meja kerja yang kini sedang didudukinya. Setelah itu ia kembali terpekur dengan pekerjaannya di depan komputer. *** “Div,” suara laki—laki yang familier

