Pagi berikutnya datang dengan suasana yang jauh lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Di sekolah, bisik-bisik tidak lagi sekadar samar. Beberapa orang mulai terang-terangan menatap Nindya dengan rasa penasaran yang berlebihan, bahkan ada yang sengaja menghentikan pembicaraan saat ia lewat. Nindya berjalan seperti biasa, namun langkahnya sedikit lebih kaku. Ia sudah membaca semua kemungkinan semalam, tapi tetap saja, menghadapi langsung situasi seperti ini tidak pernah mudah. “Aku harus tetap tenang,” gumamnya pelan. Ia meletakkan tasnya di meja, mencoba fokus pada pekerjaan. Namun sebelum ia sempat membuka buku, dua guru mendekat dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Nindya, kamu baik-baik saja?” tanya salah satu dari mereka. Nindya menoleh, mencoba tersenyum tipis. “Iya,” jawabnya si

