Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Rumah yang dulu hanya menjadi tempat singgah bagi Arman kini terasa berbeda lebih hidup, tapi juga lebih menekan. Ia duduk sendirian di ruang tengah, lampu hanya menyala sebagian, menciptakan bayangan samar di dinding. Pikirannya tidak lagi berputar tanpa arah seperti sebelumnya. Kali ini, semuanya terasa lebih jelas, lebih tajam, dan justru itu yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang. Ia menatap kosong ke depan, mengingat setiap momen hari itu. Tatapan orang-orang di sekolah, bisik-bisik yang menyudutkan Nindya dan bagaimana perempuan itu tetap berdiri tegak meski jelas sedang diserang. “Aku baru sadar…” gumamnya pelan. Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. “Selama ini aku gak pernah benar-benar ada untuk dia.” Hening

