Pagi itu, suasana di rumah keluarga Arman terasa lebih sunyi dari biasanya. Ibunya, Bu Rina, duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah dingin. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang jauh melayang ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Di atas meja, sebuah amplop putih tergeletak rapi. Tidak ada nama pengirim, namun isi di dalamnya sudah cukup untuk membuat jantungnya berdegup tidak tenang sejak tadi malam. “Apa dia benar-benar berani…” gumamnya pelan. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh amplop itu kembali. Ia sudah membacanya berkali-kali, tapi tetap saja perasaan takut itu tidak berkurang. Justru semakin nyata. “Aku pikir semuanya sudah selesai sejak lama,” bisiknya lirih. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memejamkan mata sejenak, namun bayangan masa lalu justru mun

