Suasana seperti membeku. Keduanya memang dekat, tapi pikiran mereka kini melayang tak menentu. Satu, mengkhawatirkan gadis yang ia cintai. Satu, mengutuk takdir yang terus mengikis kewarasannya. Di dalam taksi yang mereka tumpangi, bahkan sang supir pun merasakan hawa dingin yang kini menguar dari ekspresi sang gadis. Bahkan sang pria paruh baya pun mengerti bahwa penumpangnya sedang melalui hari-hari yang berat. “Shasha,” panggil Alvin seraya menyentuh lembut tangan Shasha. “Kau tidak sendirian.” Manik sayu sang gadis menatap pria yang kini ada di sampingnya. Saat tatapan mereka beradu, bibir tipis Shasha pun bergetar dan ia kembali menumpahkan air mata. Hingga Alvin kembali mendekapnya. Membiarkan gadis itu kembali menangis sampai mereka tiba di tempat tujuan mereka, rumah Shasha. Ke

