Berada di tengah jadwal meeting memang begitu membosankan. Namun, Fabian tak mengeluh walau wajahnya sudah menampakkan raut yang begitu datar. Satu per satu anak buahnya mempresentasikan hasil kerja mereka. Entah mengapa, mendengar ocehan sarkasme Shasha lebih menghibur daripada mendengar ocehan anak buahnya. Mata Fabian memang terfokus pada setiap slide yang ditampilkan di layar, tapi hanya Kiel yang tahu kepala pria itu benar-benar sibuk memikirkan sang istri mungil yang baru-baru ini menimbulkan beberapa kekacauan. Beralih menatap layar ponsel, Fabian menatap wajah sang istri yang tersenyum. Pria itu mengusap-usap layar ponsel dengan jemarinya dan tersenyum tipis. Sedikit yang pria itu tahu, semua orang yang melihat senyumannya langsung gemetar ketakutan. Seolah mereka sedang menunggu

