“Rasanya seperti remuk berkeping-keping,” ujar Fabian seraya mencengkeran erat kepalanya. “Melihat orang-orang yang kau sayangi terbujur kaku di dalam peti mati adalah mimpi buruk yang paling kejam.” Mengingat masa lalu, yang Fabian rasakan hanyalah hangat air mata yang membasahi pipi. Di usianya yang begitu belia, dirinya dipaksa untuk mengalami peristiwa yang membuatnya trauma. Pria itu masih sangat ingat bagaimana prosesi pemakaman orangtua dan saudaranya. Masih ingat bahwa yang bisa dilakukan seorang bocah hanyalah menatap kosong sembari meneteskan air mata. Butuh waktu lama untuk berdamai dengan situasi. Butuh perjuangan yang begitu besar untuk menyembuhkan hati yang terluka. “Jika saja, aku menghentikan kakakku, mungkin akhirnya akan berbeda,” ratap Fabian. “Saat aku tahu bahwa mot

