Memasuki hutan

1300 Kata
Tiga hari berlalu begitu saja, entah itu Sir Abram dan Taemu masih belum juga kembali membuat Neron yang ditinggalkan seorang diri berada dalam keadaan antara nyaman dan juga tidak. Karena setidaknya dengan kepergian mereka dia bisa masuk wilayah terlarang dan bisa belajar dari buku-buku di sana untuk menambah pengetahuannya tetapi, tetap saja dia sendirian, kesepian. Barulah saat ini dia merasakan tengah mendapat hukuman dikucilkan di tempat terpencil seorang diri jika, semakin lama seperti ini ketakutan Neron bertambah besar. “Apa mereka tidak akan kembali lagi hari ini?” Neron melihat jendela menatap jauh ke dalam hutan. Tidak ada apapun yang terlihat kecuali, semakin sering terdengar suara-suara para monster di luaran sana. Jika, tidak mengingat peringatan Sir Abram, Neron tentang berbahayanya hutan sekarang dia ingin menjelajah tanah di sana. Tetapi, sayang dia tidak punya keberanian sebesat itu dan mungkin sebenarnya yang utama dia tidak memiliki nyawa berlebih. Akhirnya, yang bisa menghilangkan kebosanan dan kesepian Neron hari-hari terakhir ini tentu saja memasuki ruangan Sir Abram yang luar biasa. Saat ini dia bisa dengan santai membawa-bawa buku di sana untuk belajar memahami sihir juga ramuan sehingga, saatnya dia kembali ke academi dirinya tidak terlalu terlihat bodoh. Dan, sungguh hal yang luar biasa bisa menemukaan hal bermanfaat itu di sini. “Aku akan sangat berterima kasih pada Sir Abram nanti, hutang ini pasti kubalas nanti,” ujar Neron setelah mengambil kembali buku baru di ruangan rahasian Sir Abram. Sebenarnya, ada yang membuat dia bisa membaca buku dengan sangat cepat sehingga beberapa buku dalam tiga hari dilahapnya ternyata, apa yang diterapkan Neron adalah. Dia hanya membaca catatan penting yang selalu tersemat di dalam buku dan ditulis oleh sir Abram sendiri. Catatan-catatan itu tampak lebih baik karena dibuat dengan hasil-hasil yang sudah dipelajari oleh Sir Abram sendiri. Jadi, hal Itu lebih mudah dipelajarinya dibanding dia harus membaca buku-buku tebal tersebut dengan teliti karena, mungkin saja dia tidak punya banyak waktu untuk hal itu. “Tidak heran Sir Abram tidak bisa meninggalkan tempat ini,” ujar Neron mengagumi apa yang baru saja dibacanya. Dia tidak tahu banyak apa dan bagaimana caranya seorang alchemist bekerja tetapi, yang diyakininya seorang Alcemist sama baiknya dengan tabib/dokter bahkan, mungkin lebih baik. “Jadi, apa lagi yang harus kulakukan jika, sampai besok mereka belum juga kembali?” Perkataan itu ditanyakan Neron saat dia selesai makan malam dengan keadaan yang sepi dan sunyi. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali hanya bisa menjelajahi tiap sudut rumah tersebut sampai tidak ada yang terlewat, berpikir setelah lelah banyak bergerak dia akan merasa lelah lalu tertidur. Tidak ada yang menarik selain ruangan Sir Abram. Neron sekali lagi masuk ke sana, membawa buku agar bisa dibaca lagi tetapi, akhirnya tidak dilakukannya. Dia sungguh sedang bosan dan hari ini setelah menutup pintu ruangan Sir Abram dan memastikan tidak ada yang berubah di sana. Neron kembali ke kamar memakai jubahnya, ia ingin keluar dan memasuki hutan. Hutan di luar sana sangat gelap tak ada apapun yang bisa terlihat dari jendela kamarnya dan hanya suara-suara hewan monster yang kian bersahutan saling berteriak seolah malam ini akan ada sesuatu. Perasaan itu juga yang kian membuat Neron tidak bisa tenang. “Apa tidak apa-apa aku pergi ke sana?” *** “Sialan! Kenapa bayi monster itu belum juga lahir?” ujar Abram dengan penuh perasaan kesal, sudah hari ketiga dia bersembunyi di atas pohon untuk mengamati kerumunan monster serigala putih di mana sang Luna-nya dari anak Alpha mereka akan melahirkan bayi monster. Penampilan Abram kini cukup mengkhawatirkan, tiga hari ini dia sudah sangat kesulitan untuk bergerak ke mana-mana dan hanya bisa memantau dari jauh. Jika, sekiranya lebih lama entahlah apa dia bisa bertahan. Sebenarnya rencananya sangat mudah. Kelahiran hewan yang sudah bermutasi menjadi monster menjadi semakin langka dan apa yang ingin dilakukan Abram adalah mengambil bayi itu terlebih dulu agar bisa ia rawat dan dijadikan pengikutnya, itu akan lebih baik. Tetapi, melihat gerombolan serigala yang mengawasi gua mereka dia pun berpikir panjang untuk mengambil tindakan yang sewaktu-waktu malah jadi, boomerang untuknya. Abram mulai sakit kepala memikirkan solusinya belum lagi dia memikirkan bocah lainnya yang tengah berada di rumahnya sedikit cemas jika, bocah itu memasuki hutan dan tidak kembali meski, sudah diperingatkan tetapi, anak nakal akan selalu penuh rasa penasaran dan bisa melakukan apapun untuk memuaskan rasa penasaran tersebut. Dan, yah …Neron yang sedang dilanda kebosanan tingkat tinggi dan ditambah keberanian yang secuil dia memutuskan untuk masuk hutan tidak peduli itu sudah sangat malam. Dia dengan cerdik membawa batu Kristal untuk menerangi jalannya dibanding membawa obor api yang tidak seberapa penerangannya saat memasuki hutan yang hampir sempurna kegelapannya. “Aku harus berjalan ke arah mana, yah?” Berpikir sambil mengamati sekitar, Neron memilih jalan yang pernah diambilnya ketika bertemu lebah hitam. Dengan penerangan Kristal, yang sebesar kepalan tangan Neron bisa melihat sekitar dengan lebih jelas sampai tidak ada halangan baginya menemukan beberapa jejak di pohon bekas belati sebelumnya. Jejak itu berupa parutan besar yang tidak ragu ditorehkan Neron sebelumnya meski, membutuhkan waktu di tiap tandanya tetapi akhirnya dia puas dengan begitu menambah kemungkinan dia tidak akan kehilangan arah. Karena, dia tidak tahu akan pergi ke mana dan mau apa masuk ke dalam hutan Neron berpikir untuk menemukan air terjun itu lagi. Namun, tiba-tiba di tengah jalan hidung Neron membaui sesuatu dan itu sangat menarik perhatiannya sehingga, tanpa sadar dia mengikuti arah bau tersebut tidak di sangka jauh di sana dia melihat banyaknya gerombolan serigala putih. Menelan ludah karena takut, Neron pun tidak kalah berkeringat dingin. Setengah panic, melihat kristalnya yang terang-berderang dia segera mencoba membuatnya mati. “Siapa?” Abram terkejut dengan pandangan menoleh ke belakang dan akhirnya membuatnya terkejut setengah mati. Sayang, ternyata tidak hanya Abram penglihatan Abram yang jeli tetapi, salah seekor serigala sempat melihat cahaya yang tiba-tiba datang dari kegelapan. Kecepatan serigala tentu saja berbeda jauh dengan langkah Abram yang kalah cepat tetapi, juga tidak bisa kalah cepat dengan kegesitan Neron yang sudah tahu jika, dia tengah diincar. Auommm! Monster itu mengaum marah karena mangsa lepas begitu saja. “Ke mana dia?” mata Abram mencari-carinya Neron bersembunyi dibalik sebuah pohon. Bernapas selembut mungkin tanpa meninggalkan suara, sambil memegang bajunya di mana jantungnya sedang berdebar keras. Bukan hanya karena terkejut tetapi, sekali lagi dia hampir mati dan dia tidak bisa gegabah untuk bergerak jika, tidak ingin diserang. Namun, sayang monster hewan itu tidak hanya bagus dalam penglihatan tetapi, juga penciuman. Goarrrrr! Serigala yang lebih besar tiga kali lipar dari serigala biasa dengan bulu putih keabuan panjang dan tebal. Dari moncongnya keluar gigi-gigi tajam yang siap mengoyak apapun yang bisa ditemukan apalagi, jika daging. Hal itu akan mudah sekali dirobek dengan gigi yang lebih tajam dari pisau. Napas Neron seakan tercekat, menyadari ada sesuatu di belakang punggungnya selain batang pohon besar ini. Sesuatu yang bersuara, menggeram marah yang langsung membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya lepas dari tempatnya. Setitik penyesalan datang, tidak seharusya dia berani hal yang sudah dilarang Sir Abram. Abram yang berdiri di atas pohon tinggi, bisa melihat jika sedikit lagi serigala itu akan menemukan persembunyian Neron. “Anak itu sangat merepotkan,” lirih Abram sambil mengeluarkan sebuah bola putih dan melemparkannya cukup jauh sehingga, bisa menarik perhatian serigala itu dari tempat ini dan benar saja…. serigala itu berlari jauh mencari bola Kristal yang baru saja di jatuhkan lawannya. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, haaa?” “Aaaa!” jerit Neron saat ada sebuah tangan tengah memegang pundaknya tetapi, sebelum jeritannya keluar mulutnya sudah ditutup oleh tangan orang lain. “Ini aku!” Bisikan suara, yang sudah sering ia dengarkan. Rasanya dia hanya tahu siapa orang tersebut. “Sir!” “Yah.” Satu tarikan napas lagi, Neron merasa akan pingsan ditambah lagi akhirnya, suara dingin itu berbicara lebih dingin. “Tapi, apa yang kamu lakukan di sini?” Tentu saja pertanyaan itu mengetuk keras rasa bersalah dihati Neron karena dia sudah mengabaikan perhatian juga perintahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN