Memasuki Hutan 2

1378 Kata
“Sedang apa kamu di sini?!” tanya Abram untuk kesekian kalinya karena dia belum juga mendengar jawaban dari Neron. “Aku tidak bisa melihatmu, di sini terlalu gelap,” jawab Neron dengan cara berbisik. “A-Aku minta maaf karena sudah sangat berani datang ke sini.” “Bukan hanya berani tapi, sepertinya kamu sudah siap mati, hah?” “A-Aku tidak!” Abram tidak lagi mendengarkan melainkan langsung menariknya melayang pada tangkal dahan yang rimbun dan lebar bersembunyi dari segerombola serigala. Karena, sudah seperti ini Abram melemparkan segenggam bubuk mantra untuk membuat bau manusia Neron hilang dan satu lagi membuat matanya melihat di tengah kegelapan. “Sekarang lihat ke depan, apa kamu sudah bisa melihat?” Sebelumnya Neron cukup terkejut ketika datang padanya yang sudah seperti butiran debu meski, begitu dia juga tidak menghindar menerima apa yang akan dilakukan Abram karena langkahnya yang sudah melanggar perintahnya itu. Setelah, mendengar kata-kata perintah Neron membuka matanya perlahan dan yah, matanya kini bisa melihat dengan sangat jelas. “Aku bisa melihat di tengah kegelapan ini, Sir?!” Abram mendengus, ingin memukul bocah di depannya. “Apa yang mau kamu lakukan di sini?” Pertanyaan kali ini berganti, Neron juga bisa melihat ekspresi sir Abram yang keras. Tentu saja pria tua itu tengah marah. ‘A-aku hanya bosan!’ jika, Neron menjawab seperti itu dia pasti sudah mati dipukul jadi, Neron hanya bisa membuka mulutnya dan menjawab, “saya mencari Anda, A-aku sedkit khawatir karena Anda dan juga Sir Taemu belum juga pulang.” Oh, wow …sepertinya jawabannya bagus dan lancar sekali dia berbicara. Sayang, siapa Sir Abram? Dia tidak akan tersenyuh dengan hal sepele seperti itu jadi, jawaban yang diterima Neron adalah kepalan tangan di atas ubun-ubunnya lagi. “Berani berbohong, hha?” “A-aku sungguh-sungguh.” “Ck, apa kamu punya nyawa banyak, hah?” “Tidak tapi, aku hanya benar-benar bosan sendiri di rumah itu,” jawab Neron yang akhirnya jujur dan sekali lagi mendapat kepalan tangan. “Kamu tidak tahu di sini sangat berbahaya.” “Apa yang sedang Sir tunggu?” Abram meliriknya, “aku sudah mengatakannya, kan … ada bayi monster yang mau dilahirkan?” “Anda mau merawatnya?” “Jika saja aku bisa, itu luar biasa sekali tapi, itu tidak mungkin, kan?” ujar Abram sedikit kesal dengan pertanyaan konyol Neron. “Tapi, Anda merawat Sir Taemu? Dia juga, kan monster kodok ? padahal jika, yang Anda rawat serigala atau macam bukannya itu lebih baik . Kekuatan mereka lebih besar.” “Dasar bocah, kamu memang tidak kenal takut? bagaimana jika Taemu yang mendengarmu , kamu tidak takut mati, hah? Kekuatanya mungkin tidak sebesar serigala atau macam seperti yang kamu katakana tapi, itu cukup, kan untuk membuatmu mati!?” Seketika setelah mendengar hal tersebut bulu kuduk Neron berdiri, wajahnya mendongak, menatap sir Abram dengan mata anjingnya yang menyedihkan. “Aku takut, jangan mengatakannya. Aku tidak mau mati muda.” “Kamu tidak mau mati tapi, berani kemari?!” cibir Abram sambil mengibaskan jubahnya yang dipegang Neran. “Menyingkir sana!” marahnya sambil menjauh mencari tempat nyaman untuk menyandarkan punggungnya. “Berjagalah, buka matamu lebar-lebar!? Aku akan istirahat dulu.” “Sir, apa yang harus kujaga?” “Bocah bodoh!” Mata Abram yang baru saja tertutup harus terbuka lagi karena marah mendengar pertanyaan Neron, “Perhatikan para serigala itu jika, terlihat ada p*********n – kamu pergi ke sana. Bawa jubah kematianmu,” ucapnya asal lalu kembali menutup matanya. Tidak ada yang bisa Neron jawab setelah mendengar ucapan jahat Sir Abram tapi, menyenangkan pria itu mengizinkan dia tinggal dan bahkan, menyelamatkannya jadi, sepertinya tidak masalah lagi akhirnya datang ke sini. Jadi, dengan penuh perhatian Neron benar-benar mengamati wilayah sekitar. Malam di hutan itu ternyata tidak pernah sepi terlebih saat ini di depan gua penuh serigala suara makhluk-makhluk itu saling bersahutan tidak berhenti meraung dan dengan waktu yang semakin malam suara itu semakin menggila. “Sir, Sir! Apa Anda tidak terbangun?” panggilnya tanpa menoleh. “Aku bangun,” jawabnya sudah disamping Neron. Lalu, melihat kea rah depan. “Sepertinya, sudah waktunya ?” Seperti yang diprediksi jeritan hewan monster dari dalam gua semakin keras dan bukan hanya itu. Gerombolan besar monster lain pun datang, menggeram pada gerombolan serigala di pintu masuk tetapi, jelas tidak berani menyerang. Jeritan dan suara geraman di dalam gua terdengar lagi dan kali ini disertai perubahan aura yang tampak membuat para hewan itu menggila. Monster-monster yang sebelumnya tidak berani mulai menggila dan ingin menerobos masuk yang dihalangi oleh para gerombolan serigala yang menahan mereka. Neron dan Abram hanya bisa melihat makhluk-makhluk itu berkelahi sebelum mencari celah bagi Abram untuk masuk. Pertarungan itu cukup panjang tidak ada akal untuk membuat para monster itu menyerah setelah melihat kawan-kawanan mereka mati satu persatu. Ada senyum puas di bibir Abram melihat monster yang mati terkulai begitu saja tetapi, yang lebih membuatnya semakin melebarkan senyumnya akhirnya di melihat jalan yang terbuka untuknya masuk ke dalam gua dengan aman setelah dia melihat serigala yang paling besar keluar dari sarangnya. “Ini waktunya, aku akan masuk! Neron?!” “Ya,” “Tetaplah di sini! Dan, lihat!” Tunjuknya pada serigala yang paling besar di antara yang lain. “Awasi makhlut itu jika, sampai dia akan masuk lagi ke dalam gua tiup ini.” Abram mengeluarkan sebuah pluit kayu. “Hanya tiup ini?” “Yah, hanya dengan ini nyawaku bisa selamat jika, kamu tidak melakukan apa yang kuperintahkan giliranmu yang tidak akan pernah selamat.” “Oke!” angguk Neron setuju. Mendengar tanda persetujuan Neron, Abram langsung meluncur ke bawah menghilang seperti angin dengan gesit sudah berada di pintu masuk gua dan tak ada masalah lagi untuknya masuk sedangkan, Neron jadi tidak sabar ingin turun ke bawah dan ikut menjarah isi kepala monster itu untuk mencari Kristal entah, sejak kapan menjadi serakah untuk mendapatkan benda-benda itu setelah mendapatkan Kristal hitam sebelumnya. Di dalam gua sir Abram membuka tasnya mengeluarkan sebuah botol ramuan. Di sana sedang tergeletak Serigala betina yang sudah melahirkan bayinya, kondisinya tampak sangat lemah dibawah perutnya ada bayi dua bayi serigala putih dan abu-abu masih sangat merah, basah penuh darah. “Pantas saja, auranya sangat besar mereka melahirkan dua bayi serigala!” Abram berdecak, mengeluarkan botol lainnya dan segera memastikan dua serigala ini meminum ramuannya untuk menghentikan feromon monster mereka yang akan lebih besar dari serigala-serigala sebelumnya. Inilah pekerjaan lain Abram, sebagai Alcemist yaitu membuat ramuan untuk setidaknya menekan kelahiran para monster juga, jika dia berhasil dia ingin membuat para monster hewan ini kembali ke asal mereka sebagai hewan biasa jika, para monster ini berkembangbiak semakin banyak kehidupan manusia pun bisa saja terancam keselamatannya. “Monster-monster kecil minumlah ini! Kalian tidak bisa semakin kuat, mengerti?!” Goarrr! Serigala betina itu menggeram marah melihat ada seseorang yang tengah menyentuh anak-anaknya. Melihat hal ini, Abram mendekat dia juga mengelus kepala serigala betina itu agar tenang. “Aku tidak akan membunuh anak-anakmu tetapi, binatang lain bisa membunuhnya jika, aku tidak memberikan ramuan ini pada kedua bayimu. Aura mereka sangat tebal cukup untuk membuat binatang lain semakin kuat jadi, tenanglah!” Seakan mengerti serigala itu kembali terkulai dan tenang hanya kali ini matanya tetap terbuka. Sir Abram akhirnya pun menjadi tenang dia memberikan dua bayi serigala itu untuk menekan auranya, sehingga tidak akan jadi mangsa monster lainnya. “Sudah selesai!” Dan, benar saja setelah membiarkan kedua bayi serigala itu minum ramuannya. Aura yang memancarkuat dari dua serigala itu perlahan mulai menghilang, tugasnya pun selesai sir Abram bergegas pergi dari sana kembali ke tempatnya bersama Neron. “Sir, Anda sudah kembali?” “Aku sudah di sini, Bocah!” “Lihat, semua monster yang lain mulai mundur.” “Sudah seharusnya …aku sudah menghilangkan aura yang membuat mereka tergoda.” “Maksud Anda?” tanyanya tidak mengerti. “Sudahlah, ayo, pergi! Kita sudah selesai.” “Tapi Sir, …” Neron melirik jauh ke bawah di mana para mayat monster tergeletak berantakkan. “Apa Anda tidak ingin mengambil Kristal monster mereka seperti sebelumnya.” Abram berdecak lalu, tanpa tedeng aling-aling langsung memberikan kepalan tangannya di atas kepalan Neron. “Aku tahu, akan kulakukan jika, bisa.” “Sir! Kepalaku sakit!” teriaknya marah menunduk kesal lalu, melanjutkan perjalanan setelah melihat Abram benar-benar pergi tanpa menengok lagi ke bawah di mana mayat-mayat monster itu sedang di makan oleh kawanannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN