Hidup ini tidak selalu nyaman atau mudah, dengan hanya bermimpi semua permintaanmu bisa terwujud dibutuhkan juga usaha keras untuk mencapai impian tersebut. Bahkan, terkadang tidak semua impian setiap orang terwujud meski, sudah berusaha begitu keras sampai disebut mati-matian dan akhirnya semua itu akan kembali pada Si yang punya mimpi. Menyerah atau menerima segala sesuatunya dengan rasa syukur.
Abram sedari kecil sudah dipenuhi semua dan diiringi kemampuan, dia tidak akan seperti Neron. Yang meski bermimpi bahkan, juga ketika berusaha keras keadaan sudah menolaknya begitu banyak. Sebenarnya yang di mintanya tidak banyak dia hanya meminta sir Abram menjadi gurunya, sepanjang usianya tujuh belas tahun ini dia tidak pernah berpikir akan berharap memiliki guru yang bisa mengajari sekaligus membimbingnya.
“Sir, aku akan jadi muridmu yang berbakti… jadilah, guruku!” pinta Neron sungguh-sungguh sambil berlutut. Inilah, permintaan Neron yang paling tulus sepanjang hidupnya.
“Aku tidak berniat untuk mengangkat seorang murid,” jawab Abram lugas lalu menoleh dengan helaan napas tidak habis pikir. “Lagipula, kamu ini siswa academi, kamu bisa menemukan banyak guru di sana.”
“Tapi, aku hanya membutuhkanmu, Sir.”
“Omong kosong! Neron, ingatlah kamu juga berada di sini karena sedang dihukum siapa tahu segera setelah ini, kamu akan didepak dari sini juga academi. Aku tidak punya waktu untuk jadi seorang guru.” Putusnya tanpa ragu.
Neron masih berlutut dengan wajah menunduk ke bawah, banyak hal yang berkelebat dalam benaknya. “Apa karena aku tidak bisa menggunakan sihir, Sir?”
“Hah, itu salah satunya. Memangnya apa yang bisa kuajarkan selain menggunkan sihir. Membuat ramuan saja sedikitnya kita butuh sihir supaya paham apa yang kita buat … sedangkan kamu, kamu sama sekali tidak bisa menggunakan sihir.”
Sudah, terpukul sudah perasaan Neron. Jika, Sir Abram yang seperti ini saja menolaknya untuk menjadi gurunya. Apa yang akan ditemui di Academi nanti sepertinya dia hanya akan jadi bahan bully-an saja karena ketidakmampuannya. “Tapi, aku masih belajar dari Anda…” Neron menegakkan kepalanya, menatap penuh dengan percaya diri. “Tidak apa-apa aku tidak menjadi muridmu, Anda tidka jadi guruku juga tapi, bisakah Anda memberi pengetahuan yang Anda miliki pada saya …setidakknya saya tidak akan dipandang terlalu bodoh karena ketidakmampuan saya.”
“Memangnya apa yang mau kamu tahu Neron?”
“Semuanya, Sir. Semuannya!”
Sir Abram bangun dari tempat duduknya, berpikir panjang setengah tidak yakin dengan kemampuan remaja di depannya. “Banyak hal di dunia yang tidak bisa semudah itu dipelajari dari seseorang karena lebih baik kamu mencarinya sendiri.”
Pupus sudah harapan Neron, orang di depannya sepertinya memang tidak mau memberikan pengetahuannya barang sedikitpun padahal, dia kira Sir Abram adalah orang baik yang bisa melakukan apapun untuk orang lain. Itu yang Neron duga setelah apa yang terjadi malam kemarin ketika, dia tahu apa yang dilakukan pria itu untuk keselamatan semua penghuni hutan di sini. Saat dia menanyakan sebeneranya apa yang terjadi dengan peristiwa kelahiran bayi monster, sungguh jawaban luar biasa yang diterimanya hingga membuatnya kagum.
Ternyata bayi monster yang berawal dari hewan biasa akan memiliki aura Mana besar juga berantakkan karena, mereka mereka belum bisa mengendalikan kekuatan tersebut sehingga aura itu menyebar luas dan membuat semua orang ingin datang menyerang dan memakannya untuk mendapatkan besar kekuatan Mananya. Siapa yang memakan bayi hutan monster akan memiliki kekuatan yang lebih besar dan bisa saja terjadi kegaduhan lagi setelah puluhan tahun berlalu. Abram tidak bisa membiarkannya jadi, dia membuat ramuan peredam Mana yang bisa menetralkan aura mana yang berantakkan dari pada bayi-bayi tersebut.
Sekarang setelah para bayi monster itu meminum ramuan yang diciptakan Sir Abram… kekuatan Aura dominant mereka sementara bisa dikendalikan sampai bayi-bayi tumbuh dewasa dan bisa mengendalikan kekuatannya sendiri sebelum itu, mereka akan diberikan ramuan secara berkala tentu saja Abrian punya cara tersendiri.
“Sir Abram, seharusya Anda bisa menerima seorang murid jika, pengetahuan sangat penting untuk terus berkembang. Jika, memang bukan saya carilah murud yang baik dan berprestasi yang bisa memenuhi ekspektasi Anda jangan hanya untuk Anda sendiri.”
“Neron,Neron …aku tahu tidak perlu kamu terlalu memperhatikannya. Aku akan melakukannya jika aku membutuhkannya begitu juga, aku perlu memikirkannya, Apa memang berguna untu mengangkat seorang murid,” ujarnya lalu berlalu pergi begitu saja meninggalkan Neran yang masih bersimpuh di lantai.
Melihatnya pergi, Neron pun akhirnya bangun dengan hati-hati karena baru saja meresa kakinya kesemutan. Menarik napas, membuang hal negative dari dadanya , Neron bersandar di kursi sambil memejamkan mata rasa kecewa masih belum hilang dengan mudahnya. “Kehidupan yang payah… jadi, aku hanya bisa melakukan segala hal sendiri mulai saat ini?! Yah, Sir, aku harap kamu tidak akan kesal jika, kamu tidak menemukan murid sepertiku.”
Yah, seberapa besar marahnya Neron tidak ada yang bisa dilakukannya untuk memaksa orang lain menjadi gurunya. Pengetahuan itu mahal apalagi, sebuah pengalaman hal tersebut lebih berharga dari apapun. Seperti yang seharusnya, dia memang harus belajar dari pengalaman. “Sir, Anda harus melihatnya kelak aku pasti bisa menjadi penyihir dan berbakat! Kamu perlu menantikannya.”
Tekad Neron kali ini lebih bulat dan kuat, dia akan mencari cara untuk mendapatkan kekuatan besar untuk jadi, penyihir no.1. Neron merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan kantungnya yang berisi Kristal Mana lebah hitam sebelumnya. “Semua orang mengatakan ..aku tidak punya inti Mana sehingga aku tidak bisa menggunakan sihir lalu, apa yang kurasakan ini?”
Neron meletakkan beberapa butir Kristal di atas telapak tangannya meski, sangat kecil rasa panas dari telapak tangannya mengalir dan terasa menyentuh sirkuit otaknya lalu menyebar keseluruh tubuh, itu semua hanya dalam hitungan menit dan blush! Kristal di telapak tangannya hanya menyisakan debu. “Meski, ini sangat kecil aku tahu ini Mana?!”
**
“Taemu, kamu memprhatikannya?”
“Kwok!”
“Apa dia bersungguh-sungguh ingin aku jadi, gurunya?” tanya Sir Abram sambil melihat punggung Neron yang duduk di atas kursi dari balik pintu ruangan lain. Dia, tidak melihat apa yang dilakukan Neron dengan Kristal mana hewannya.
“Kwok! Dia tidak bodoh … kwok! Hanya kekurangan bakat.”
“Yah, itulah masalah besarnya. Bagaimana aku mengajarinya jika, dia tidak bisa menggunakan sihir. Y-yah, paling bisa mengajarinya hal paling mudah tentang tumbuhan sebagai ramuan obat-obatan.”
“Kwok! Berapa lama lagi dia di sini? Kwok!”
“Entahlah, Damian belum menentukannya lagipula jika, dia berada di academi akan sama tidak bergunanya tetapi, di sini …dia bekerja cukup lumayan bersih-bersih lalu memasak.”
“Kwok! Dia bukan pelayan, Sir!”
Abram terkekeh membenarkan lalu, berjalan pergi memasuki ruangannya yang sangat berharga. Membaui tiap sudut merasa ada sesuatu yang berubah tetepi, dia yakin sudah menyuruh Neron untuk masuk ruangannya. “Tidak ada yang berubah tetapi, entah kenapa aku merasa tempatku ini ada yang memasuki. Haruskah aku bertanya?”
Akhirnya, karena merasa tak puas lagi Abram memanggil Neron untuk menanyakan apa saja yang dilakukannya ketika semua orang pergi. Mendengar pertanyaan itu Neron menjadi bernapas dingin, punggungnya tegak menatap Sir Abram. Berpikir haruskan jujur atau tidak. Jika, jujur apa yang akan diterimanya? Mendapat pukulan atau langsung di usir ke tengah hutan.
“A-aku hanya memasukinya untuk melihat-lihat … yah, untuk melihat buku-bukunya,” jawab Neron setengah jujur dan setengah berbohong karena bagian terakhir dari jawabannya hanya ada dalam hatinya.
Bola mata panas dari Sir Abram seperti menguliti kulitnya tetapi, sekian detik hal itu pun hilang. “Karena kamu sudah jujur , aku akan membiarkannya. Aku sungguh tidak menyentuh apapun, bukan?”
“T-tidak, Sir? Meski aku ingin …”
“Baiklah, aku akan memberikanmu beberapa buku yang cukup untuk kamu pelajari tetapi, jangan sampai kamu mencari hal lain yang jauh dari jangkauanmu.”
Neron mendongak, bola matanya membulat sempurna takjub sekaligus bahagia dia baru saja selamat dari hukuman dan kini, mendapat sesuatu yang baik. “Benarkah, Sir?” ucapnya setelah sadar.
Sir Abram sedikit mengangguk lalu, mengeluarkan sebuah buku dari balik jubahnya dan melemparkannya. “Bacalah itu! jika, ada yang tidak kamu ketahui kamu boleh bertanya.”
Neron melihat buku ditangannya, buku ini memang bukan mewah yang penuh rahasia di dalamnya tetapi, untuk pemula sepertinya tidak akan ada masalah untuk membaca buku apapun. ‘1001 hal tentang tumbuhan.’
“Pelajarilah dengan hati-hati!”
“Terima kasih, Sir! T-tapi, bisakah Anda meminjamkan saya juga buku sihir untuk pemula? Apa Anda memilikinya?”
Sir Abram mengerutkan kening, “untuk apa kamu membut-- ,” Sir Abram memotong perkataanya sendiri, menyadari kesalahannya karena terlalu menyepelekan bocah di depannya. ‘yah, tidak ada salahnya dia membaca apa yang dia inginkan. Entah itu akan berhasil atau tidak tergantung pada dirinya sendiri.’ . “Akan kuberikan, tunggulah!”
Senyum puas dan lega terpancar dari wajah Neron. Bagaimana pun sulitnya dia sudah bertekad untuk menjadi seorang penyihir, cepat atau lambat dari mulai sekarang dia akan mencari Mana –nya. “Akan kulakukan segalanya sesulit apapun, biar aku yang membuktikan jika Mana bisa dibentuk oleh diri sendiri tidak hanya bakat bawaan dari lahir saja.”