“Dari mana kamu mulai belajar?” tanya Abram yang mulai penasaran melihat Neron yang tampak serius membaca buku.
Neron mengangkat matanya, melihat Abram yang tengah mengamatinya. “Aku belajar dari awal.”
“Maksudnya dari awal itu dari mana?”
“Aku tidak tahu apapun tentang sihir… atau, mungkin aku hanya lupa karena setelah ritual penyempurnaan kedewasaanku dan mendengar hasilnya aku tidak punya Mana, aku meninggalkan segalanya tidak pernah ingin tahu tentang sihir lagi” jawabnya jujur.
Abram menekan pelipisnya, dia tahu terkadang banyak sekali orang-orang bodoh, yang seperti pengalaman Neron. Orang-orang tidak peduli lagi dengan apa yang dibenci dan akan lebih sibuk dengan apa yang disukai.
Neron diam sesaat lalu, memikirkannya dengan hati-hati. “Aku tahu, aku tahu kalau untuk bisa menggunakan sihir kita harus mempunyai Mana. Hanya itu saja yang kutahu tapi, setelah membaca bebeapa halaman buku ini aku tahu ternyata Mana tiap orang itupun beragam sesuai kepribadiannya.”
“Yah, Mana tiap orang itu berbeda… Mana adalah inti atau sebenarnya adalah sumber energy di mana asal kita bisa mengeluarkan kekuatan sihir dan kamu yang tidak punya inilah tidak cocok atau tidak kuat untuk melakukan sihir.”
“Itu juga aku tahu.”
“Lalu, apa yang kamu tahu lagi?”
“Element sihir utama terbagi jadi empat air, api, tanah dan udara tetapi, sebenarnya dari empat element ini akan terbagi lagi menjadi beberapa element khusus … ini sebenarnya sangat mengejurkanku. Aku baru mengetahuinya.”
“Kamu memang harus benar-benar bejar jika, yang seperti ini sajs kamu tidak tahu,” ungkap Abram dengan tampang menyedihkan lalu, berbalik pergi.
“Sir, Anda mau ke mana? Tidakkah Anda ingin membantu saya belajar.”
“Aku juga sibuk sepertimu jadi, lakukan saja sendiri.”
Neron melihat punggung orang tua itu dengan sedih tidak habis pikir, bagaiman dia yang diberi kemampuan kecerdasan dan ilmu yang banyak tidak ingin berbagi atau menurunkannya pada seoang yang murid, yang bisa dia angkat sesuai keinginannya. Bukankah sungguh, sangat disayangkan jika semua pengetahuan itu menghilang karena ikut terkubur karena kematian si pemiliknya. “Aku kira dia mau mengajariku,” keluhnya setelah sir Abram tidak lagi terlihat.
Kembali ke kamarnya Neron melakukan sesuatu. Sebelumnya mengunci pintunya agar tidak ada yang bisa memasuki kamarnya lalu, dia bersila dan membuka kantung uangnya yang suda berganti menjadi kantung Kristal hewan yang sebelumnya penuh kini hampir berkurang setengahnya. Diam-diam Neron mempergunakannya karena merasakan aliran Mana masuk ke dalam dirinya.
“Berapa banyak yang harus kucoba sekarang? Apa tidak akan ada masalah jika, seperti ini? Hah, haruskah aku bertanya pada orang tua itu? tapi, bagaimana jika dia tidak memberitahuku?”
Neron berada dalam kebimbangan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti Sir Abram, yang sangat berhati-hati dengan apa yang dimilikinya. Dirinya pun akhirnya mengembangkan sikap hal itu. “Aku butuh seorang guru yang bisa membimbingku,” keluh Neron sambil mendesah sedih. “Yah, meskipun aku memberitahu apa yang kurasakan ini belum tentu Sir Abram tahu dan mau memberitahukan apa ini.”
Setelah mengatakan apa yang dipikirkannya lagi Neron bersikap lagi tidak peduli dan mengambil beberapa butir Kristal Mana ke tangannya kali ini, dia akan lebih konsentrasi dengan memusatkan perhatiannya. Jadi, dengan bersila dan memusatkan fokusnya dia memulainya dengan cepat merasakan energy terpusat di inti pusat kepalannya yang menyebar ke seluruh tubuhnya dan … ding! Itu hanya sesaat dan otaknya menjadi dingin kembali juga, tidak sampai lima menit semua berlalu, Kristal ditangannya sudah jadi abu.
“Energinya habis dengan cepat tiap waktu aku melakukannya,” ujarnya kembali menarik napas tiba-tiba saja kali ini … Neron merasakan hembusan napas hangat. “terlalu hangat bagaimana bisa? Nafasku rasanya menjadi berat dan panas seolah menyentuh api tapi, bagaimana bisa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa Neron jawab sendiri apalagi, Neron tanyakan tapi, dia semakin menggebu dan serakah ingin menggunakan Kristal hewan tersebut. “Apa aku harus mencoba lagi? Sekarang coba lebih banyak.” tuntutnya pada diri sendiri dan melakukannya, meraup segenggam lebih banyak kristal di tangannya.
Sekali lagi dia menutup matanya, menarik napasnya dalam-dalam dan mulai focus menyerap aliran Mana..”Aaaw!” jerit Neron terkejut karena kali ini dia tidak bisa melakukannya hanya dua batu Kristal yang terserap dan menjadi abu untuk menyerap yang ketiga,iba-tiba saja sengatan listrik datang. “Jadi, aku punya batas untuk menyerap Kristal ini?”
Neron terkejut dengan fakta itu. lalu, dia mengingat-ingat berapa banyak Kristal yang sebelumnya sudah diserapnya. “Berapa lama lagi aku bisa menyerap kristalnya? Apa dalam beberapa jam saja atau aku harus menunggu satu hari penuh? Ah, yaa… yang paling serius adalah bagaiman aku mencari Kristal hewan selanjutnya jika, benda-benda ini habis dipakai? Aaah!”
Tiba-tiba saja Neron berteriak kesal, memikirkan bagaimana caranya lagi untuk mendapatkan Kristal-kristal itu. sebelumnya, bukankah hanya keberuntungannya. Kali ini jika, dia nekat pergi mencari …mungkin malah cari mati sendiri. “Owh, apa yang harus kulakukan kalau begitu?” tanyanya pada ruangan kosong, penuh dengan rasa hampa.
***
Jika Neron tengah berada dalam dilemma dan masalah yang tidak berkesudahan lain berbeda dengan Oris yang tinggal di Academi. Kini dia menjadi siswa popular bukan hanya karena tampangnya yang menawan tetapi, juga skill kekuatannya yang bertambah saat melakukan ujian praktek. Oris melakukan hal besar bisa mengalahkan Orion Gerda satu langkah dan pertarungan persahabatan antar aliansi.
Jika Oris berasal dari aliansi element Udara bernama Gasnoerla, sedangkan Orion Gerda yang mempunyai element Api Firehirtz. Kedua anak baru yang mempunyai bakat luar biasa dan sudah digadang-gadangkan menjadi siswa berbakat di tahun ini. Tentu saja bukan hanya mereka berdua, masih ada dari element Air yaitu Kalil Evan dan Alvaro Damian sedangkan, untuk element tanah belum ada anak di tahun pertama yang menonjol jadi, masih dipegang oleh Fred Hansel yang kini sudah memasuki tahun kedua.
“Orion!” Oris mulai memanggil lawannya bertarungnya dengan bersemangat, sebelumnya dia tidak pernah merasakan pertarungan yang menyenangkan seperti kemarin. Bukan hanya itu, setelah pertarungan kemarin dia menambah teman.
“Apa?” jawab Orion dengan wajah datarnya tetapi, tidak masalah dengan Oris.
“Tidak ada. Ayo, pergi ke perpustakaan bersama-sama.”
“Aku tidak mau pergi denganmu.”
“Hey, aku tahu kamu mau pergi ke sana juga. Lorong ini, kan menuju perpustakaan.”
Orion hanya menjawab dengan dengusan karena memang tujuan utamanya perpustakaan. Dia perlu mengerjakan tugasnya. “Kamu masih saja tersenyum-senyum senang itu, huh?! Kamu baru menang sekali tetapi, sudah sangat bangga. Tunggu gilirannya nanti pasti jatuh.”
“Aku tidak begitu, aku tersenyum karena senang bertemu denganmu.”
“Jangan berbohong,” sahut Orion tidak percaya. “Mana ada yang senang bertemu dengan lawanmu, hm?”
“Aku, aku senang bertemu denganmu…kita, kan hanya lawan di atas platform tapi, diluar sini kamu bilang aku bisa jadi temanmu sebelumnya.”
“Yah, itu, kan sebelum aku tahu kamu mau jadi lawanku dan mengalahkanku,” ujar Orion sambil duduk dan membuka bukunya. Mereka berdua sudah sampai diperpustakaan dan memilih tempat di tengah-tengah ruangan di mana tempat itulah yang kosong.
“Itu, kan pertandingan persahabatan saja. Tidak ada masalah kalah dan menang… kamu sendiri, kan tahu aku hanya menang tipis darimu.”
“Ck, menyebalkan!” dengus Orion tetapi, terlihat tidak ada kebencian di matanya.
“Oh, aku sudah selesai dengan tugas itu, loh?! Wah, tidak disangka ternyata tugas yang diberikan Sir Wire ternyata sama ditiap kelas.”
“Benarkah?”
Oris mengangguk. “Alvaro temanku dari Waterfall juga mengerjakan tugas yang sama, aku sering bekerja sama dengannya.”
“Menyenangkan sekali kamu punya teman seperti itu.”
“Kita juga bisa melakukannya?”
“Oh, ya. Tapi aku tidak tertarik. Aku bisa mengerjakan tugasku dan itu pasti lebih baik dari punya kalian."
"Hey, dua kepala itu lebih baik daripada satu jadi, tidak mungkin punyamu bisa lebih baik."
"Huh, aku tidak menyukaimu."
Oris terkekeh mendengar kata-kata benci itu, dia tidak menganggapnya sungguh-sungguh dan benar saja tidak perlu menganggapnya serius karena tak lama kemudian Orion pun tidak bisa tidak tersenyum. Tak lama mereka saling bertemu mata (bertatapan) dan tersenyum seolah, akhirnya mereka bertemu teman sejawat.
Di sisi yang tidak diketahui Orion, Oris tersenyum bangga dan puas.. Hatinya terasa tengah penuh jalan terbentang setelah menambahi hubungan pertemanannya dengan Orion. Dengan orang orang yang mempunyai nama depan yang besar akan membuat jalannya menjadi seorang penyihir terkenal dan luar biasa akan lebih mudah pada waktunya. Sesuai pengalamannya, dia tidak akan berteman dengan orang biasa saja, dia akan berteman dengan yang kuat dan punya nama besar hingga, dia tidak perlu jadi orang yang ditipu karena kekuatannya yang luar biasa.