Neron berbicara lagi dan lagi dengan dirinya sendiri bagaimana caranya untuk mendapatkan persediaan Kristal hewan setelah sebentar lagi miliknya akan habis. Neron mungkin belum mengkonfirmasi apa yang dia rasakan setelah menyerap Kristal itu apakah sihir atau bukan tetapi, dia percaya hal seperti itu bagian dari sihir karena setelah dia membaca dan menemukan maanfaat batu Kristal hewan yang meski, berbeda-beda tetapi jelas bermanfaat bagi para praktisi penyihir.
Disebutkan, terutama batu Kristal yang didapatkan dari seekor lebah madu hitam bisa menjadi ramuan berumur panjang juga menyembuhkan luka dalam yah, tentu saja itu semua tidak bergantung pada batu Kristal saja tetapi, dengan bahan-bahan lainnya. Namun, diatas itu semua tubuh Neron sudah merasakan manfaat dari batu Kristal tersebut jadi, dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana rasanya dia mendapatkan Kristal lain apa dia masih bisa merasakannya atau tidak.
“Kwok!” Splash! Lidah panjangnya menjulur keluar menyentuh tanah beberapa centi jauhnya dari yang dipijak Neron, yang berdiri mematung menatap ke hutan.
“Sialan! Sir Taemu!” pekik Neron kesal, yangsebenarnya sudah melakukan refleks yang bagus dengan meloncat saat merasakan pergerakan dari belakang tubuhnya.
“Kwok! Kamu semakin gesit,” katanya sambil melompat mendekat.
Neron menepuk dadanya, padahal dia tengah melamun bayangan buyar karena hal itu. “Terus, kamu ingin aku terjerat lidahmu yang basah itu , O-yeah! Aku tidak suka.”
Taemu si Kodok tidak memerdulikan rasa jijik bocah itu pada bagian tubuhnya. Matanya malah bergerak ke sana kemari, memerhatikan semua hal disekitar. Di depan mereka hanya dikelilingi pepohonan dengan batang pohon sangat gelap bahkan, warna hijau dedaunan pun hampir terlalu hijau yang malah menjadi kekuningan busuk. Tidak ada yang bagus melihat ke depan. “Kwok! Apa yang sedang kamu perhatikan di depan, Kwok!?” tanyannya menjadi penasaran apa yang dilamunkan bocah bodoh di sampingnya.
“Sir,” sahut Neron sambil duduk direrumputan. “Aku tidak tahu bagaimana Mana sihir itu bekerja? Apa Anda bisa menggunakan sihir tingkat atas?”
“Kwok!” Taemu memandang rendah remaja di depannya entah, kenapa rasanya ingin menginjaknya sampai tulang-tulangnya menjadi remuk.
“Aku tidak memandangmu rendah… aku hanya belum pernah melihatnya, kan?” Neron segera beralasan setelah mendapat sorot tajam yang seolah ingin menindasnya. ‘Ternyata, Sir Taemu serius …auranya berbeda.’
“Kwok! Oke, perhatikan! Anak malang,” ujarnya dengan nada angkuh. Dia berdiri tegak, matanya mengarah pada satu target setelahnya tiba-tiba mulutnya terbuka sangat lebar dari dalam sana muncul setitik bola merah yang semakin lama, semakin besar menjadi bola api sebesar kepalan tangan pria dewasa hingga, setengah detik kemudian bola itu melesat jauh menuju target.
BAMM!
Kekuatan bola itu dengan cepat membuat lubang dipohon yang sudah menjadi targetnya, ternyata tidak hanya sampai sana tetapi, pepohonan lain yang sejajar dengan target utama tergerus sampai batas bola itu mengecil lalu, menghilang karena ledakan.
Neron tercengang, matanya baru saja terbuka lagi setelah refleks menutup dari ledakan yang terjadi. “Apa itu? Anda sangat kuat,” ucapnya terbata-bata sambil berjalan ke arah pohon yang beberapa meter jauhnya.
Taemu dengan bangga bergerak mengikuti. Sungguh, dia sangat bangga melihat hasil karyanya melubangi beberapah pohon hitam dengan satu tembakannya. “Kwok! Bagaimana menurutmu?”
Tentu tidak bisa disangka Neron jika, ternyata Sir Taemu bisa melakukan hal hebat seperti ini. “Anda sungguh hebat,” ucapnya jujur sambil menyentuh bagian-bagian pohon yang sudah berlubang. “Masih panas, lubang ini aus oleh bola api tadi. Luar biasa! Yah, seharusnya tidak aneh lagi… aku juga sudah melihat seberapa hebatnya orang-orang disekitarku menggunakan sihir,” gumam Neron pada dirinya sendiri.
“Kwok! Apa yang barus saja kamu sebutkan?”
“Tidak ada,” tukas Neron. ‘Apa aku terlalu bodoh, yah?! Jika kekuatan Sir taemu bisa sekuat ini bagaimana hewan-hewan dihutan kegelapan sana. Ah’ Sial! Aku sangat lemah. Tidak mungkin mudah mendapatkan Kristal-kristal hewan mereka,’ desahnya sedih di dalam hati. ‘Sebenarnya apa saja yang bisa kulakukan?!.’
Berbalik pergi Neron kembali dengan raut wajah semakin menyedihkan, rasa kagumnya barusan tiba-tiba sudah berganti dengan raut frustasi seolah sudah kehilangan sesuatu yang berharga. Yah, itu saja tentu itu adalah tentang waktu. Bagaimana dia bisa mempelajari semuanya tentang sihir dengan waktu sebentar saja terlebih, dia tidak bisa menggunakan apa-apa untuk diandalkan. Tangan Neron terkepal erat, rasa sakit dan marah menjadi satu. ‘Mana sialan! Kenapa hanya aku yang terlahir tanpa kekuatan.’
Rasanya tidakberlebihan jika, Neron sangat marah bahkan, menjadi putus asa. Mengingat sebenarnya dia terlahir dari dua orang penyihir bukankah seharusnya salah satu gen dari mereka jatuh padanya bukan sebaliknya. Oris yang kedua orang tuanya hanyalah manusia biasa malah memiliki Mana luar biasa sejak kecil bahkan, sebelum ritual sihirnya tercapai.
Sekarang, Neron yang berpikir akan memiliki kekuatan sihir ketika dia mampu menyerap Kristal hewan harus terjatuh tidak berdaya karena sadar dengan besarnya kekuatan monster hewan itu dibanding dirinya. ‘Apa aku hanya bisa mencari lebah-lebah itu saja? Padahal aku ingin mencoba Kristal monster lainnya?!’ keluhnya dalam hati.
“Bocah bodoh! Apa yang kamu lakukan, hah?!” teriakan itu menggema di seluruh hutan bahkan, burung-burung hitam yang sebelumnya tenang berkoar dan pergi menjauh. Neron sendiri menutup telingannya kesakitan dengan tubuh miring ke belakang seolah dari asal suara itu datang angin yang membawanya berhembus keras, mengguncang tubuhnya.
“Sir! Berhenti berteriak! Telingaku sakit.”
“Masa bodoh dengan telingamu… lihat apa yang kamu lakukan dengan kakimu, hah?”
Neron melirik ke bawah dan menemukan jika, kakinya tengah berada di ladang yang baru saja mereka tanami beberapa waktu lalu. “Ouh, sial! Yah, yah kakiku bagaimana bisa,” ujarnya sama terkejutnya.
***
“Makanan sudah siap!” seru Neron sambil mengetuk pintu kamar sir Abram. Dia menunggu di depan dengan rasa penasaran yang sesekali ingin menerobos saja masuk ke dalam sana. Dia sungguh, merindukan ruangan tersebut. Dalam beberapa hari ini setelah keluar hutan terakhir kali sir Abram belum lagi keluar lagi jadi, dia tidak punya kesempatan lagi untuk masuk ke sana.
“Sedang apa kamu di sini?” tiba-tiba saja pintu terbuka membuat Neron terkejut mau mati lagi.
“Sir! Aku di sini hanya menunggu Anda.”
“Ck, buat apa kamu menungguku. Aku bisa mendengar suaramu.”
“Tapi, Anda tidak menjawab saat kupanggil,” bantah Neron. “jadi, mungkin saja pingsan atau tertidur di dalam.”
Bugh!
Sekali lagi kepalan tangan sir Abram tidak bisa melewati kepala Neron dengan tenang. “Sir, kepalaku sakit!” pedih Neron sambil memegangi kepalanya.
“Itu, hukuman orang yang suka berbohong dan penasaran,” sahut sir Abram enteng sambil berjalan di belakangnya Neron mengikuti. “Barusan kamu diam di sana untuk mengintip masuk, kan? Huh, gak akan kubiarkan pencuri kecil sepertimu bisa masuk lagi ruanganku.”
Aaah! Neron memegang baju di bagian d**a kirinya. “Sakit rasanya, aku tahu perbuatanku salah tetapi, aku bukan benar-benar seorang pencuri seperti itu.”
“Oh, penjahat tetap saja penjahat apapun alasannya.”
Mendengar nada meremehkan seperti itu Neron berbalik pergi, dia mendahului sir Abram cukup marah. Dia sangat tahu kesalahannya tetapi, seharusnya tidak menjadi tertuduh di saat dia bahkan tidak melakukannya. ‘Huh, liat saja … saat aku melakukan hal buruk nanti, tidak ada yang bisa kalian sesali,’ dengusnya marah dalam hati.
“Apa dia marah? Apa yang salah dengan kata-kataku?” tanya Sir Abram pada dirinya sendiri setelah melihat Neron melewatinya dengan raut wajah ditekuk serta delikan matanya yang sinis.
Malam itu seperti biasa ketiga makhluk berbeda jenis, ras juga usia duduk dengan tenang menghabiskan makan malam dengan tenang. Hanya sampai mereka selesai makan sir Abram yang biasanya akan langsung pergi ke ruangannya dia duduk tenang menunggu Neron membersihkan piring dan meja. Neron sebenarnya enggan untuk duduk, dia masih merasa marah tetapi, mendengar ajakannya yang sudah seperti perintah bagaimana bisa dia melewatinya.
“Ayo, duduk!”
Neron mengangguk dan duduk lagi. “Ya, Sir.”
“Kwok! Kenapa kalian berdua sejak tadi?” tanya Taemu melihat ada sesuatu yang tidak menyenagkan di antara keduanya.
“Bocah ini tengah marah padaku,” jawab Sir Abram tenang dan santai sambil menyesap minuman hangatnya.
“Aku tidak marah, Sir? Aku juga bukan Bocah, bisakah Anda tidak memanggilku seperti itu lagi.”
“Lihat dia! Bocah ini marah hanya kupanggil Bocah saja padahal aku punya kabar yang kuyakin membuat dia senang.”
Neron tidak percaya, dia hanya menyipitkan matanya menatap serius wajah sir Abram, mencari-cari kebohongannya. “Sebenarnya aku sedikit tidak percaya? Memangnya apa yang membuat aku senang di sini?”
Sir Abram bukan orang yang bisa membuat orang penasaran jadi, dia tidak bertele-tele saat berbicara. “Aku baru saja dapat kabar, hukumanmu akan segera selesai mungkin tidak lama lagi kamu biisa pergi ke academi.”
“A-anda bisa mengatakan sekali lagi?”
Dengusan terdengar dari mulut Abram tetapi, dia tidak menolak untuk mengatakannya lagi. “Hukumanmu akan selesai dan kamu bisa kembali ke academi.”
“Yeay!” Neron berteriak terlalu bahagia ini pertama kalinya ada kabar baik untuknya tetapi, bagi Sir Abram dan sir Taemu itu bukan hal yang terlalu baik. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran Neron. Bagaimana bisa mereka terbiasa lagi hidup berdua.
“Kwok! Kamu sungguh sangat senang, Kwok!”
“Tentu saja,” jawab Neron cepat.
“Kwok! Bagaimana bisa begitu? Kwok! Kamu tidak senang tinggal di sini?”
“Oh, tentu saja aku senang dan merasa bersyukur…hukumanku tidak terasa seperti hukuman. Kalian banyak sekali membantu tanpa, kalian aku pasti sudah mati.” Jujur Neron sambil menatap keduanya dengan matanya tanpa berkedip. “Aku tidak bisa membayangkan hidup di sini tanpa kalian. Terima kasih banyak untuk semuanya.”
Neron berdiri dari kursinya dan meluruskan punggungnya sebelum menunduk Sembilan puluh derajat tanda hormat. “Meski, aku belum pergi dari sini. Tolong terima rasa hormatku dan rasa terimakasih atas semuanya.”
“Aku akan menerima rasa terima kasihmu. Kemudian, setelah di sana kamu bisa belajar dengan baik karena di sini kamu tidak belajar apapun, kan?”
“Sebenarnya aku bisa belajar apapun jika, Anda mau mengajarinya. Masalahnya Anda hanya mengajari cara memasa—ah tidak , akulah ynag mengajari Anda memasak, Sir.”
“Aku tahu, aku tahu!” Marah Sir Abram sambil beranjak pergi. Dia juga merasa akan sedih ketika bocah itu bisa kembali lagi ke academi cukup cepat tidak sesuai dugaannya.