Persiapan masuk hutan

1512 Kata
Kabar tentang hukuman Neron dicabut dan akan kembali ke academi tidak hanya terdengar oleh Neron sendiri tetapi, bahkan terlebih dulu berdengung di academi. Membuat kontroversi bukan hanya diantara para guru tetapi, juga para murid, yang memintanya langsung dikeluarkan saja dengan maksudnya mengembalikannya ke kehidupan masyarakat biasa tidak perlu memberinya tempat di academi karena, kemingkinan jelas tidak ada yang akan menyukainya juga menerima kehadirannya. Meskipun banyak orang menolak tetapi, ada satu orang yang tidak goyah dengan keputusan yang sudah dibuatnya, begitu juga tidak ada yang bisa membantahnya. Semua warga Academi harus mendengar dan menerima keputusan validnya karena, kekuasaan terbesar ada di tangannya. Demian Oblicate, sebagai kepala Academi sudah menyebutkan sejak awal jika, hukuman Neron adalah sementara dan dia bisa kembali ke Academi. “Sir, kenapa kita harus menerima siswa yang tidak bisa melakukan apapun? Akan percuma jika, dia berada di sini tidak ada yang bisa dia pelajari.” “Miss Joy meski, dia tidak bisa menggunakan sihir! Dia masih mempunyai kedua tangan dan kakinya serta otak-lah yang paling untuk bisa berpikir. Biarkan dia di sini terserah dia mampu atau tidak dalam menyerap pelajaran tergantung pada dirinya sendiri,” jawab Demian dengan sangat tenang dan elegant, tidak tertinggal tatapannya yang hangat. Tidak peduli sebelumnya jika, guru-guru di sini yang merupakan bawahannya telah dengan lantang menentang keputusannya. Tampilan ketidakpuasan masih terpasang di beberapa wajah para guru dan sebagai guru yang menjunjung intergritas pendidikannya, seorang guru berambut merah dengan mata runcing seperti sabit kucing, hidung mancung juga bibir tipis yang jarang sekali tersenyum. Berdiri masih tak puas, meski begitu dia tidak meninggalkan tata kramanya dengan berbicara sangat sopan. “Sir, bisakah Anda yakin jika, keputusan ini cukup objectif mengingat dia itu seorang pencuri sekaligus penyusup di Academi kita. Belum lagi apakah baik-baik saja membiarkan si Pelaku dan korbannya bertemu? Bisakah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua?” “Aku sudah menanyakannya dan ini diputuskan jauh sebelum … Oris Darel diterima kembali di sini.” Hampir semua orang diruang rapat menghela napas, tidak bisa memengaruhi keputusan kepala Academi mereka. Demian sendiri masih duduk dengan tenang dan memasang wajah tersenyum tidak terganggu dengan helaan napas mereka semua. “Aku ingatkan lagi…tugas kalian di sini adalah untuk mengajari semua murid Academi tanpa membeda-bedakan hal, yang seharusnya tidak kalian perdebatkan. Siapa mereka, darimana dan bagaimana mereka sebelumnya bukankah itu tempat tujuan Academi ini berdiri.” “Tapi, Sir, bukankah sangat memalukan memiliki murid bukan hanya seorang pencuri bahkan, dia anak yang tidak berguna.” “Sir Billness,” panggil sir Demian dengan nada dingin dan tatapan tajam tak percaya. “sudah kuperingatkan. Kalian sebagai pendidik seharusnya bisa lebih baik lagi memilih-milih kata yang pantas kalian ucapkan lagipula, aku sudah mengungkapkan apa alasanku menerimanya.” “Sir.” Tampak Sir Billness masih belum puas, yah, meski sebenarnya bukan hanya dia. “Sekali lagi, ini pertanyaan terakhir dariku. Sebenarnya apa yang membuat Anda tertarik pada anak itu … ini tentu bukan sekadar alasan yang sudah Anda kemukakan untuk tidak mengeluarkan seorang siswa yang ingin belajar apapun alasannya atau karena Anda kontrak tak tertulis Antara tempat ini dengan para siswa yang masuk Academi.” Sir Demian terdiam sesaat, dia harus mencari jawaban yang bisa membuat para guru ini diam dan menerima keputusannya. “Tidak ada alasan khusus seperti itu lagipula, sudah kukatakan dengan sangat jelas. Waktu anak itu di sini hanya sisa paruh tahun pertama saja dengan, ketentuan dia tidak bisa mengikuti semua program pelajaran kita. Sayalah, yang harus bertanya pada kalian… apa yang kalian khawatirkan dengan seorang anak yang bisa dibilang tidak punya kemampuan apapun. kita di sini hanya perlu membiarkan dia menerima semua pendidikan sama seperti siswa lain.” “Tidakkah malah akan menjadi aib jika, ada seorang lulusan Academi yang tidak bisa sihir?” Kali ini Sir Araum yang bertanya. “Kalau begitu tunjukan berapa banyak siswa Academi yang sukses menjadi penyihir kelas atas.. dan banyak yang gagal? Apa itu semua tanggung jawab kita?” Akhirnya, semua para pendidik di sana dibungkam tidak bisa lagi protes dan menerima sepenuhnya keputusan kepala sekolah. Tidak peduli apa juga siapa, sebenarnya anak bernama Neron hanyalah seorang Remaja biasa. Yang terkadang memiliki sifat memberontak dan ingin melakukan segala hal sehingga tidak pernah berpikir panjang untuk ke depannya. ** ‘Tidak berpikir panjang!’ Mungkin seperti itulah yang sedang dilakukan Neron dengan melangkah memasuki hutan tanpa berpikir panjang dan hanya bermodal nekad. Karena merasa dia akan segera kembali ke academi sehingga dia tidak akan lagi berkesempatan mendapatkan Kristal-kristal monster hewan, Neron berniat terlebih dulu ingin mengumpulan hal tersebut setidaknya, membiarkannya mencoba mendapatkannya meski, gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Sehingga, kali ini dia berniat sepunuh hati. Neron sampai mengasah belatinya juga, membawa tiga bubuk sihir ajaibnya yang sudah ia persiapkan setelah memintanya pada sir Abram bukan hanya itu. dia juga memberikannya perlengkapan busur panah yang bisa dipakainya untuk berburu dalam jarak jauh itu bahkan, terasa lebih baik bagi Neron. Dia tidak bisa lebih bahagia daripada ini tentu saja, hal itu setelah mendengar kabar baik dari academi. “Baiklah! Aku siap, sekarang waktunya pergi.” Pungkas Neros keluar dari kamarnya. “Kamu benar-benar ingin ke hutan seorang diri?” tanya Sir Abram yang muncul dari pintu ruangannya saat Neron berjalan melewati tempat tersebut. “Oh, Sir?! Lihat bagaimana persiapanku hari ini?” jawab Neron dengan pertanyaan lain, tidak tanggung-tanggung dia memutar tubuhnya memperlihatkan semua hal yang ada padanya. Dari bajunya yang bersih, dengan jubah kulit berwarna coklat yang sepinggang sehingga tidak terlalu mengganggunya saat berjalan. Ada tas ransel butut yang berisi makan siangnya sedang bertengger dibahunya, ada juga tas selempang busur panah dan belatinya yang tajam di sisi kirinya. Ramuan-ramuan pemusnah pun ada sisi dikirinya. “Apa kamu tidak akan mati jika, menemui monster-monster buas di sana?” “Ouh, Sir!” Neron meraung kesal pada Sir Abram karena seolah-olah dirinya tengah ditakuti layaknya anak kecil. “Jangan membuatku takut apalagi menyebut-nyebut mati. Aku bisa mati gila.” “Hidupmu sengsara sekali sudah gila lalu mati.” “Sir, baiklah! Aku akan pergi dulu,” putus Neron menghentikan omong kosongnya dengan sir Abram. “H-hey, tunggu! Jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu yakin akan pergi ke hutan seorang diri? Sebenarnya apa yang kamu cari di sana?” Neron menarik napasnya, melirik dengan sudut matanya. “Aku yakin akan pergi jangan terlalu mengkhawatirkanku. Tidak ada yang kucari, aku hanya ingin menjelajah hutan ini yang mungkin, jadi terakhir kalinya.” “Terlalu mencurigakan?” Sir Abram masih belum percaya tapi, dia juga tidak punya alasan untuk menahannya pergi.” “Tenang saja, aku akan baik-baik saja! Aku tidak akan mencari monster-monster itu.” “Ck, dasar terlalu percaya diri. Aku tidak memedulikanmu tapi, diriku sendiri. Selama di sini bukankah kamu jadi tanggung jawabku? Bagaimana nantinya aku bicara dengan si Demian itu jika, muridnya mati sebelum dia bebas dari hukumannya nanti dikira aku yang membunuhmu.” “Ya, Tuhan! Sir, Anda terlalu serius. Kalau begitu Anda hanya perlu berharap jika, aku tidak mati saja. selesai. Aku pergi!” ** Neron memasuki hutan dengan percaya diri dan kewaspadaan tingkat tinggi yang pertama dia cari adalah sarang lebah-lebah hitam di tempat terakhir kali dia melihatnya. Butuh waktu berjam-jam untuk menemukan sarang lebah tersebut tidak bisa dibayangkan lebih sulit dari dugaan. Sayang, dia tidak tahu harus menyerah semudah itu. Saat mencari sarang lebah, Neron juga kembali ke tempat air terjun yang ia lihat sebelumnya. Suhu di sana masih sangat dingin, saat itu Neron tidak sadar akan sedingin ini terlebih, bagaimana bisa dia bertahan di dalam air sana sungguh sangat luar biasa pikirnya. Dan, seharusnya jangan pernah berharap untuk masuk ke sana kedua kalinya tidak ada hal yang bagus akan terjadi. “Jika, aku tidak bisa menemukan lebah-lebah itu. Haruskah mencari target lain? Tapi, monster seperti apa yang bisa kukalahkan?” Neron bertanya-tanya pada diri sendiri. Dia sungguh bingung meski, dia ini terlatih menggunakan pedang dan anak panah sebelumnya dia juga bukan nomor satu dan yang paling utama adalah siapa yang menjadi targetnya. “Menargetkan hewan biasa saja sudah cukup sulit dan sekarang?! Aku menargetkan setengah monster dan setengan hewan. Luar biasa jika, aku bisa menembak mati salah satu dari mereka sekali saja.” Tiba-tiba saja terdengar suara percikan air, Neron kurang cepat berbalik untuk melihat sesuatu yang baru saja hilang dari pandangan sekejap mata. “Apa itu?” tanyanya sambil mendekat kembali ke telaga air terjun. Neron melihat dari atas lalu kembali ke telaga sungainya. “Di sini sangat dingin? Apa ada yang hidup di dalam sini? Bukankah sebelumnya tidak ada apapun?” “Oh, s**t!” Sekali lagi tiba-tiba muncul dan kini tepat di depan mata Neron. Itu Ikan tapi, dia melompat begitu tinggi. Bentuk tubuhnya putih melonjong meski, tak jelas pastinya Neron bisa melihat jika di semua sisi tubuhnya ada aura biru yang keluar. “Ikan apa itu?” tanyanya yang tidak akan ada yang menjawab. Neron lalu melongok ke bawah telaga, dia memerhatikan dengan sangat cermat dan teliti. Namun, air permukaanya cukup gelap tidak ada yang terlihat sampai ke bawah jadi, entah apa yang dipikirkannya Neron mengambil sejumput bubuk api dari pinggangnya. Yah, dia melakukan ini hanya karena percobaan saja. Dirinya sendiri tak yakin apa yang dilakukannya apakah benar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN