"Tega banget Mama kamu, Mas." Luna meneteskan air matanya. "Sayang, kamu percaya kan, kalau aku gak akan melakukan itu?" Luna menghela nafasnya. "Kalau kamu mau kamu boleh mengikuti apa kata Mama, aku gak akan melarang." Dengan cepat Nathan menggeleng. "Tentu saja tidak!" tolak Nathan dengan tegas. "Harusnya aku bertanya sama kamu. Mungkin setelah ini aku akan kehilangan kerjaanku. Apa kamu masih mau punya suami pengangguran?" Luna terkekeh. "Emang kamu gak mau cari kerja lagi?" "Ya, enggak gitu juga. Tapi kan semuanya butuh waktu. Dan kamu tahu sendiri, kalau selama ini aku juga cuma bekerja di perusahaan Papa." Luna tersenyum, "Aku gak keberatan kok, Mas. Menemani kamu memulai dari awal. Atau kita bisa minta papa buat kasih satu jabatan buat kamu di-" "Enggak!" belum selesai Luna

