Dae melancarkan aksi bisu. Selepas selesai memastikan Dipsi baik-baik saja. Dae lantas melenggang ke luar kamar, hendak berangkat ke kampus. Kala dirinya melewati area dapur, yang ternyata di sana ada Duta yang tengah menikmati kopi hitam, langkah Dae di hentikan oleh panggilan si pemuda. “Dae.” Dae menoleh malas-malasan. “Ingat. Jauhin cowok itu.” Dae mencebikkan bibir. “Nggak mau.” Bahu pemuda yang tengah bertelanjang d**a itu, terkedik acuh tak acuh. “Terserah. Kalau itu mau mu, Aa tinggal ngasih cowok itu pelajaran lebih buruk dari yang kemarin. Dengan senang hati.” Duta memberi tekanan pada kalimat terakhir. Dae praktis di bikin mendelik. Kaki si gadis menghentak lantai. “Aa apain aja, Kak Kenji kemarin.” “Ngajarin dia cara jadi laki-laki.” Dae menyipitkan

