Pening seketika mendera kepala Dae, kala Dae mencoba membuka kelopak mata. Bukan hanya pening, perih dan nyeri juga turut menyertai di bagian siku lengan dan kaki. Dae menengok ke samping, menemukan Kenji yang sedang mengendalikan kemudi bersama raut tegang. “Kak.” Tepat setelah panggilan itu, mobil yang mereka tumpangi terhentak berhenti secara tiba-tiba. Mengundang klakson nyaring dari kendaraan di belakang mereka. “Kak kita mau ke mana?” “Ke rumah sakit.” Dae mengerutkan kening, baru hendak membuka suara. Sebuah kesadaran menghantam benaknya. Dae memelotot panik. “Bentar. Anak anjing yang tadi aku selametin di mana? Kenapa nggak ada?” “Kamu lagi luka kayak gitu sempet-sempetnya mikirin anjing.” “Anjing itu juga luka. Mana anjingnya, Kak. Mana. Jangan bilang kalau Kak

