Semenjak malam di bumi perkemahan Ciwidey itu, Dae dan Kenji memutuskan kontak. Selama dua hari terlewat, Dae sama sekali tak lagi melihat batang hidung pemuda itu. Entah bagaimana kabarnya, sudah kah dia merealisasikan perkataannya yang satu itu malam itu. Karena hal itu pula, desas desus antara Dae dan Kenji berangsur-angsur memudar dari permukaan. Dae melempar pandangan ke ujung jalan tempat angkot yang biasa dia tumpangi muncul, tetapi sedari tadi Dae duduk terdiam di halte yang mulanya ada beberapa orang yang menunggu bersamanya, hingga kini hanya tersisa dirinya yang setia menunggu. Awalnya Dae masih bisa duduk tenang di sana, tetapi ketenangan tersebut mendadak terusik kala rungunya menangkap suara gadis yang tak asing lagi. “Hai, Dae.” Dae tersenyum tipis pada gadis ram

