"Adik.” Kenji praktis menghentikan seretan langkahnya kala suara Rasistha merangsek gendang telinga. Lalu tanpa aba-aba, dia merentangkan lengan. Menarik Kenji ke dalam sebuah rengkuhan. Kenji jelas tak akan menolak. Entah mengapa, mendapat sebuah pelukan sungguh berarti baginya akhir-akhir ini. “Aku senang kamu masih hidup, Adik.” Adalah apa yang perempuan blasteran itu gumamkan di tengah-tengah pelukan. “Itu artinya masa kontrak ku di dunia ini belum habis, Kak. Dan itu artinya juga masa hukuman ku masih panjang,” lirih Kenji seraya memejamkan mata. “Bagus lah kalau kamu paham.” Rasistha melepas dekapan, tetapi kedua telapak tangan masih bertengger di pundak Kenji. Manik-manik si perempuan menyorot intens ke dalam iris segelap kopi si pemuda yang tampak kuyu. “Ingat. Kamu. Jangan

