Dae terbangun dengan kepala pening yang luar biasa. Lehernya sakit, juga tangannya yang kebas. Waktu ia mencoba menggerakannya, tangan Dae kaku, seperti terikat sesuatu. Dae berusaha mencerna segalanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang dalam perjalanan membeli kado untuk adik Aroo. Tetapi kenapa sekarang ia justru berada di ruangan asing dengan keadan tubuh terikat pada sebuah kursi. Tak lama kebingungan. Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Aroo, yang melangkah mendekat. Tersenyum seperti biasa, tetapi entah mengapa kini terasa lebih menyeramkan. “Sudah sadar?” Dae mengerutkan keningnya dalam. “Bang Aroo. Apa ini semua? Kenapa aku diiket begini, dan di mana kita sekarang?” Aroo menggeleng-geleng. “Kamu benar-benar berisik, Dae,” desisnya. “Tadi kamu bilang, kamu mau ber

