Cemas karena tidak bisa melihatku? Itu adalah hal yang konyol namun entah mengapa terdengar manis bagiku. Apakah Dasha sebegitu merasa bergantung padaku? “Kalau begitu, bagaimana jika aku menggenggam tanganmu lagi seperti kemarin?” Tawarku. “Baik,” Jawab Dasha dengan menjulurkan tangannya. Kemudian aku meraih tangannya dan menggenggamnya, “Tanganmu sangat lembut,” ucapku. “Tanganmu kasar dan keras,” Balas Dasha pelan. Aku tertawa kecil dengan sinis, “Itu karena aku adalah seorang pria. Aku melakukan berbagai pekerjaan kasar,” “Tapi tanganmu besar dan hangat. Saat pertama kali kau menggandeng tanganku ketika kau menculikku, aku merasa aku akan baik-baik saja bersamamu.” Ucap Dasha. Aku meneguk liurku dan berdehem pelan, “Benarkah?” Dasha mengarahkan satu tangannya lagi untuk mengusa

