Menjelang siang, Nino membubarkan semua keluarga untuk membiarkan Kezia istirahat. Aku jadi punya kesempatan untuk mengawasi istriku menyusui kedua anak kami. “Masih lama gak Barra nyusunya Neng, kasihan nih Erdo ngantri” kataku sambil menggendong Erdo. Dia berdecak pelan. “Masih kenceng nyedotnya, susah di lepas” jawabnya. Aku gantian berdecak. “Kan ada dua Yang” kataku mengingkatkan. “Kamu mau ikutan nyusu?” jawabnya pea. “Ya benar aja, bisa habis aku sedot semua” jawabku kesal. Udah tau Erdo nangis masih aja bisa bercanda. “Udah dulu de, gantian abang” katanya pada Barra. Aku menghela nafas lega saat kami bergantian menukar bayi kami. Erdo tenang, si Barra kasihan masih gerak gerak mulutnya seperti sedang menyusu. “ Siang…” sapa Rey yang datang dengan Kalila dan anak anaknya

