“ELO JALAN KAKI???” jerit Nino begitu aku mencapai UGD Twins Hospital. Aku hanya bisa ngos ngosan menjawab pertanyaannya. “Udah taro sini nyonya Ismannya” jeda dokter Sabrina. Nino dengan sigap merebut Kezia dari gendonganku, memberikan kesempatan aku untuk mengatur nafas. “IKUT REN!!, TEMENIN BINI ELO!!” jerit Nino lagi mengingatkanku. Aku buru buru menjajari langkah ranjang beroda yang di dorong suster dan dokter Sabrina. Aku mengambil tempat juga di sebelah dokter Sabrina di hadapan Nino di sisi lain. Kezia masih merintih. “Elo naik apa cepat amat sampe?” tanyaku untuk mengurai ketegangan. “Motor, macet bodoh!!” jawabnya kesal. Aku langsung diam, pantes ada motor Ninja di depan UGD tadi. Terharu sih dengan respon sepupu kampretku. “Ikut kedalam gak?” tanya dokter Sabrina begitu

