Rutinasku di rumah sakit berlanjut seperti hari kemarin. Tentu saja di bantu pasangan suami istri sakit jiwa yang konsisten membantuku mengurus si kembar junior. Kalo di awal, aku dan Nino yang menjemur anak anakku, di hari berikutnya Noni dan istriku yang menjemur si kembar. Alasannya apa lagi, kalo bukan karena jealous gak jelas. “Kalian tuh pantesnya seperti ini, jadi hamba sahaya, ibu ratu dan ibu negara” komen Noni setelah menerima suapan bubur ayam dari Nino. Gak usah kaget, kalo istriku jadi ikutan sakit jiwa seperti Noni yang memerintahkan Nino menyuapinya sarapan sementara dia menjemur salah satu anakku. Aku jadi harus ikutan, karena istriku juga mau aku seperti Nino. “Benar kak Non, biar cewek cewek pada I’llfell, mana ada hot ayah apa hot papa, yang ada nih duo laki jadi ang

