Buntut panjang, dari si Dodo yang mati gaya, istriku jadi berhenti merengek tempur. Aku menghela nafas lega mendengar permintaannya. “Yang kalo gak tempur dulu gak apakan?, aku jadi gak mood kalo si Dodo mati gaya” tanyanya saat menontonku bersiap kerja. “Gak masalah Neng, gak di tengok juga tau kalo aku papanya” jawabku sambil mengancingkan lengan kemejaku. Dia bangkit untuk memakaikanku dasi dan aku jadi mesti merunduk di hadapannya. “Gak akan cari mama penggantikan?” tanyanya dengan wajah jutek. Aku tertawa. “Gak dong, kan ada mama Zia kesayangan Dodo” rayuku. Dia tersenyum. “Dah ganteng, ayo sarapan!!, aku laper banget” ajaknya sambil membawa jasku. Aku merangkul bahunya keluar kamar menuju ruang makan, lalu kami sarapan. “Mau lagi gak?” tanyaku karena sarapan bubur ayam yang

