"Kamu sengaja, ya, Bang?" "Sengaja apa?" Tita menggeram gemas. Ingin sekali dia mencabik-cabik muka Shaka yang santai tanpa dosa itu. Bagaimana dia bisa bersikap biasa-biasa saja, sedang hubungannya dengan Atta terancam musnah sebelum tumbuh. Tita menoleh ke belakang. Adel justru dengan santainya berleha-leha dengan mengangkat kedua kakinya ke atas. Sebelum naik ke mobil tadi, gadis itu menyuruh Tita untuk duduk di depan saja. Biar seru kalau mau baku hantam, katanya. "Kenapa sih mesti ngomong kalau aku calon pengantinmu? Nanti kalau Atta mikir macem-macem gimana?" seru Tita lagi. "Ya, bagus. Jadi mulai sekarang dia bisa menghidarimu. Kan kamu calon istriku." Lagi-lagi Shaka menjawab dengan santainya. "Calon istri dari Hongkong? Kita gak pernah sepakat untuk mewujudkan ucapan nyele

