Tita melongo kaget saat melihat pemuda yang kini berdiri tepat di depannya itu. Berkali-kali dia mencubit lengannya sendiri, sakit. Berarti ini bukan mimpi. "Kenapa sih lihatinnya begitu?" tanya sosok itu dengan lembut. "Eh, enggak-enggak. Cuma kaget aja. Ada apa?" tanya Tita dengan sedikit salah tingkah. "Gak boleh main ke sini?" tanya si pemuda tersebut dengan sedikit merendahkan tubuh tepat di depan wajah Tita. Ditatap sedemikian dekat, Tita langsung belingsatan. Julukan Raden Ajeng Ayunya sontak keluar. Dan siapa lagi yang bisa membuat Tita berubah seperti ini kalau bukan Atta. "Bukan! Bukan! Gak gitu maksudnya. Aku malah seneng, Eh." Titi spontan menutup mulutnya. Keceplosan. "Jalan, yuk? Buat ganti tadi siang, mau?" ajak Atta yang langsung diangguki Tita. "Eh, tapi kemana? Ak

