Kepala El berbantal paha Willy,
“Terima kasih sudah mencintaiku,” El berdesis.
“sama-sama sayang,” Willy menarik kepala El lalu mengecup bibir nya, hanya segitu tapi sangat bermakna.
“Kamu butuh apapun bilang saja, jangan sungkan.” Jari-jari tangan nya menelusuri lekuk wajah El.
Mempermainkan anak rambutnya. Mengelus pipinya.
“Kakak gak keberatan ga ada s*x ?”
“Kan kaka sudah lama juga gak ngesex, bisa tuh nahan nya.”
“Tapi ngomong-ngomong deket kamu jadi bangun.”
“Ihhh kakak, nakal,”
“Gimana tiba-tiba ada yang hamil nuntut nikah sama kakak,”
“Aku bermain aman, kalau misalkan kejadian ya harus bertanggung jawab tapi kan bukan berarti menikahi. Dan selama ini ML karena permpuannya menginginkan, kaka gak pernah
sengaja nyari.”
“Sudah gak usah di bahas itu kakak jadi malu.”
“Kira-kira orangtua kaka setuju ga ya sama El ?”
“Orangtuaku demokratis banget El, Mau nemu di jalan juga yang penting cinta silahkan.”
“Kakak juga sekarang kan pacaran nemu di jalan, betul ?”
“hahaha, untung saja dulu Ibumu mau mungut yaaa”
“Kakak dulu ga cemburu ke Glad ?’
“Dulu kan gak tau Glad, tapi gak nyangka kamu pacaran sama anaknya Alex,”
“Tapi kalau kamu pergi dengannya, kakak suka mikir lagi diapain El disana.”
“Olin bilang Glad belum terima putus,”
“Kan bukan kamu yang mutusin, dia yang mutusin, harusnya berlapang dada.”
“Semoga kita berjodoh, kakak sudah malas nyari pasangan harus pendekatan.”
“Pilihan pasangan kan sebenernya sangat privasi ga bisa dipaksakan.”
“Ngomong-ngomong kakak punya rahasia, mau buka tapi kamu jangan marah yaaa…”
“Kalo rahasianya kaka punya istri ya marah dong,”
“Sebenernya sekretaris kaka gak hamil. Kaka hanya bingung gimana supaya bisa dekat kamu.
“Ihhhh kakaaaaaak…. Nyebelin banget siiih, malu-maluin.” El mukulin d**a Willy dengan muka merona.
Tapi sekretarisku ga tau kok alasannya apa, hanya dia heran dan seneng saja ga perlu lembur.
“Tapi soal kerjaan nya bener, kaka kan mending lembur di rumah daripada di kantor bisa deket kamu.
“Kamu sekarang fokus saja ke kuliah ya,”
"Rencana mau ambil master dimana ?”
“gimana dapetnya saja.”
“Kamu ga usah ambil beasiswa ya !”
“Kenapa ?
“Biarlah beasiswa untuk orang ga mampu.”
“Aku mampu membayarkan kuliahmu ke ujung dunia manapun.”
“kakak ga keberatan kalau aku kuliah di luar ?”
“Nggak, dimanapun kamu terserah asal kamu bener saja. Master itu paling 2 tahun. Apalah artinya 2 tahun.”
‘Kakak aku juga punya rahasia.
“Betul ? Apa ?”
“Dulu kalau kaka renang aku suka ngintip looh,”
“Berarti kamu suka kaka dari duluu yaaaa.”
“Nggak.”
“Ngaku saja.”
“Nggak.”
“Nanti kedepan kalo berenang kita berdua, sekarang berenang di sini saja yaa” Willy menarik tengkuk El melumat bibirnya, El menyambut dengan melingkarkan tangan di leher Willy.
Akhinya berbagi saliva, makin b*******h. Ketika Willy membuka kancing baju. El
menghentikan.
“Nanti ibu masuk !” Bisik El.
Willy menarik ke ruang atas, disana pun ada sofa di teruskan permainan di sofa.
“Aku takut lama-lama ga kontrol.”
“Maafkan sayang,” Willy memeluk El dari belakang, “Ayolah kita menikah.”
Adakah orang dewasa berpacaran hanya pegangan tangan atau Cuma tatapan mata ??"
Setelah tenang dan duduk berdua,
“Ayolah El, kita menikah saja. Toh sekarang atau nanti sama saja, hanya waktu.”
“El takut kak, coba rembugan sama ibu saja baiknya gimana ?”
“menurut El perbedaan nya apa coba ditunda sama nggak.”
“Ga ada kan. Hanya waktu, kita sama-sama dewasa, apalagi yang ditunggu. Yang terpenting dari pernikahan kesiapan dan pria sudah bisa menafkahi.”
“Kak, ini terlalu mendadak,”
“Kata-kata cinta kita memang baru kemarin, tapi kita sudah serumah lama, dan kakak mencintaimu sebelum Glad masuk dalam kehidupanmu, dulu kaka ga langsung menyatakan cinta, karena kaka ingin kamu dewasa dulu, mungkin itu kesalahan kaka.”
“Kita tunda dulu jangan sampe punya anak, sampai kamu bener-bener siap.”
“Kak, aku masih kaget ihh,”
“Bulan depan kita menikah, dari sekarang persiapkan.”
“Ayo kita tidur, dikamarku. Aku janji hanya melukmu,”
Hampir kesiangan, Willy dan Ellen tergesa-gesa sarapan.
“Mulai saat ini kamu aku antar jemput.”
Willy menggandeng Ellen masuk mobil yang pintunya sudah di buka sopirnya.
Di perjalanan Willy meremas jari yang saling betautandengan tangan El,
“Aku sangat bahagia saat ini.”bisik Willy ditelinga El.
Drrrt… drrrt… drrrt… masuk pesan ke ponsel Willy, dirogoh dari saku jasnya, langsung di baca, ”Adik kembarku mau kesini. Besok kita jemput.”
“Pernikahan yang kamu harapkan seperti apa, ayo kita wujudkan.” Willy mengecup punggung tangan El.
“Nggak, aku ga punya impian soal pernikahan. Ga usah resepsi, akad saja dulu.” Sahut El.
“Betul gak perlu resepsi ? Kenapa ?” Willy menggernyitkan alisnya.
“Yang terpenting dari pernikahan kan akad, aku gak butuh seremonial, lebih baik fokus ke bagaimana menjadikan pernikahan yang bahagia.”
“Akkhhh… makin meleleh hati kakak nih.” Willy merengkuh badan El ke da-danya.
Ga berapa lama, mobil berhenti di lobby, sudah berdiri Harari menunggu El.
Sebelum turun El di cium pipi kiri kanan lalu dikecup bibirnya. “Sekarang kamu pacarku ingat yaa.”
El tersenyum sambil mengangguk.
Setelah turun menghampiri harari lalu menggamit tangan kakaknya,
Kamu tadi dicium Willy, kok ga cium kakak,” Ari merengut.
“Uuuuh, kakak cemburu… ayo sini aku cium.” El langsung menarik wajah Ari cup, kiri kanan.
“Kakak masih gak relaa kamu pacaran sama dia, kaka belum habis kangen ke kamu ga ketemu bertahun tahun.” Keluh Ari.
“Ka, kayaknya El mau menikah secepatnya.”
“APAAA….. nggak… kakak gak setuju.” Ari teriak, sampe orang sekitar menoleh.
“Kenapa ga setuju ?”
“Kamu baru jadian 2 hari masa mau nikah ? kaka ga rela.. pokoknya ga rela.”
Ari marah.
“Kaaa…. “ El terpaku. Kok kakanya semarah itu. Lalu mengejar kakak nya.
“Kamu pacaran dengan dia saja kaka sedih apalagi nikah dengan nya. Kamu tega,”
“Kapan rencana nikahnya ?”
“Bu..bulan de.. de…depan.” El meragu untuk menyampaikannya.
“Batalin.” Ari langsung masuk ruangannya. El berdiri bingung.
Ari langsung chat glad:
Ari : sialan si Willy.
Glad : kenapa ?
Ari : Gue ngasih kelonggaran ijinin pacaran, baru resmi fua hari mau nikah.
Glad : AAAPAAAA…
Ari : ngijinin pacaran saja gue panas.
Glad : Luuu…. Gue ke tempatmu.
= = = = =
Willy baru menjatuhkan pantatnya di kursi ponselnya bergetar ternyata chat di grup sobatnya ;
Xen : makan siang kumpul.
Willy : Ada apa ? makan di kantorku.
Xen : ga ada apa-apa dah lama ga kumpul saja.
Trigon : Oke
Jery : Siiip
Willy : Gue juga punya cerita.
Trigon : Ada apa.
Willy : nanti saja.
Jery : Kebiasaan ga tuntas.
Willy : El bisa nuntasin.
Jery : Apaaa.
Trigon : Akhirnya dapat.
Xen : Beneran ?
Willy : Kalian apaan sih, sudah gue kerja dulu.
Drrt …. Drrt ….
Ari : Batalin rencana nikahin adik gue.
Willy : Bukan urusanmu, kalau El yang nolak gue akan batalin.
Ari : El urusan gue.
Willy hanya membaca.
Glad sudah sampai di ruang Ari.
“Beneran El mau nikah ?” Gad terlihat emosi.
“Tadi El yang mengatakan sendiri.”
“Suruh dia masuk.”
Ari memanggil El nyuruh masuk, sesaat kemudian El masuk, kaget Glad sudah duduk.
“Duduk.” Ari nyuruh El duduk.
“Beneran kamu mau nikah,”.
El mengangguk.
“Aku nampar kamu sekali, kamu ga memaafkanku, bagaimana kalau nanti ada yang ngaku hamil datang minta tanggung jawab Willy, lu ga mikir ? Glad kesal banget.
El tergugu,
“Ari, sekali-kali bawa dia ke club Xen biar tau gimana reputasi dia.” Glad emosi.
“Ari, lu kawinin saja Ellen, gue lebih rela kalo lu yang kawinin dia.” Glad langsung berdiri dan pergi.
El terbengong, "Ada apalagi ini."
“El, kaka tuh ingin kamu selesai dulu sekolah, mengenal dulu yang dalam pasanganmu,” Ari melunak,”Tidak perlu secepat ini.”
“Kaaa…,”
“kakak hanya ga mau kedepan kamu tersakiti El, kakak sungguh mengkhawatirkanmu."
“Tapi kak…. “
“Dah sana kerja lagi “ suruh Ari tanpa melirik El.
El beringsut keluar ruangan Ari.
= = = = =
El kirim chat ke Olin.
El : makan siang bareng.
Ol : Oke, dimana ? tengah-tengah antara kantor lu sama kantor gue saja.
El : Ok, resto kenanga.
Ga menunggu lama El datang di resto, sedang Ol sudah duluan, dan sudah memesan makanan untuk berdua, sebelumnya El sudah minta dipesankan. Sambil makan mereka ngobrol,
“Gie bulan depan menikah.” El ngabarin Ol
Ssrrrrhooottt, air bersembur dari mulut Ol sampai muncrat ke muka El,“jorok lu,”
“Lu gila baru jadian 2 hari lu mau nikah,”
“Salah ?” ujar El.
“Ga sih, ya bikin kaget saja.”
‘Kagak taulah gue harus komen apa!!”
“Tadi Ari dan Glad marah.”
“Gue juga kalau jujur ingin marah. Cuma karena hak elu menentukan hidup sendiri. Ini tuh bukan elu banget.”
“Gw pikir sekarang atau nanti sama saja menikah, lagian gw kan kenal Willy ga sebentar.
Yang terpenting Willy mengenal gue dari A sampe Z, trus ga mungkin menghina kemiskinan gue dari awal dia tau permasalah gue.
“Terserah elu lah, gue bingung, lu pasti sudah memikirkan segalanya.
“Gue lebih suka lu sama Glad.Tapi kalau bukan jodoh gimana lagi.”
Tuan Willy b******k, tapi gue merasakan berbeda, dia dulu mau menerimaku membiayaiku tanpa rewel gak pernah marah sama pembantu walau salah sekalipun, apa itu gak cukup, daripada Glad berani nampar gue. Cuma itu saja pertimbangan gue.
“Kenapa gak satupun yang mengerti kenapa gue milih dia."
= = = = =
Willy memesan makan siang untuk empat orang, sebelum temennya datang makanan sudah terhidang. Di ruang rapat.
Ga lama mereka sudah kumpul dan Willy menyuruh makan dulu sebelum ngobrol. Setelah selesai semua makannya. Willy minum dengan tenang.
“Gue mau kawin bulan depan “ Willy santai dan datar mengucapkannya
“AAAPPPAAA….” Temen-temennya malah terlonjak saking kaget.
“Bantuin gue nyiapkan segalanya.”
“Gue belum ngumpul nih kesadaran,” ujar Xen.
“Hanya kakak nya kayaknya gak suka, gue curiga dia sayang sebagai pria kepada wanita ke El. Gimana nyiumnya dia, gw merasakan banget, Cuma El ga nyadari nya.” Sahut Willy.
“Masalahnya kalau ditunda akan rumit. Akan banyak yang menghalangi.”
“Lu gak terlalu cepat ?” Trigon heran.
“memang jadinya baru beberapa hari tapi kan cinta gue sudah teruji bertahun-tahun gak berubah. Itu yang tidak disadari orang. Aku gak mau ngelakuin kesalahan lagi, kalau nunda nanti
ada permasalahan lain malah bubar.”
“El setuju?” Xen ragu.
“Awalnya nggaklah, kayak lu pada. Kaget juga dia, tapi lu hapal gue ga ngasih waktu untuk mikir”
Kayaknya akad doang gak ada resepsi. Atau resepsi ditunda.
“Gur pake hotel elu saja Gon,’
“Oke” Trigon setuju.
“Biarpun akad, gue ttolongin pake WO lu,” Willy menatap Jery.
“Siap, komplitin saja berkasnya, biar pegawai gue yang ngurus semuanya dari daftar ke KUA sampai acara selesai.” Ujar Jery.
***TBC