Katakanlah aku begitu beruntung. Dulu mendapatkan mertua yang baik, sekarang pun begitu. Sosok ibu Fikri mengingatkanku pada Nisa. Tipe blak-blakan, tapi semua perkataannya didasari oleh ketulusan. Sementara Sandra, adik Fikri, tak seramah Intan. Dia cenderung pendiam, tapi meski begitu tak tampak tanda-tanda dia akan menjadi ipar yang julid. Aku hanya perlu berusaha sedikit lebih komunikatif untuk memancingnya bicara. Bayangkan saja dua orang tipe pendiam harus berinteraksi. "Jangan tunda-tunda buat hamil, ya, Fi." Saat ini aku dan ibu Fikri sedang berada di dapur. Mewadahi sisa-sisa kue untuk dibagikan pada tetangga. Ucapan ibu Fikri seperti senapan yang langsung ditodongkan tepat di kepalaku. Tiba-tiba saja yang menggeliat dalam ingatan adalah pertengkaran demi pertengkaran antara a

