Sudah tiga stasiun tertinggalkan di belakang semenjak kereta berjalan. Sementara aku belum memulai obrolan dengan Fikri, kecuali obrolan ringan dan basa-basi. Aku memilih menikmati berisiknya suara gesekan roda kereta, getaran gerbong yang beradu dengan angin, pun pepohonan serta rumah-rumah penduduk yang seperti berlarian terlewat di belakang. "Ada apa?" Aku meninggalkan pemandangan di luar jendela untuk menanggapi pertanyaan Fikri. "Katanya kamu mau ngomong," katanya lagi karena aku tak langsung menjawab pertanyaan sebelumnya. Kuhela napas pelan. "Menurut kamu, apa ini nggak kecepetan?" Kening Fikri mengkerut. Butuh waktu hingga dia bersuara. "Nggak cepetnya kapan?" Aku melempar pandangan ke kursi di depan. Kursi tanpa penumpang karena tiketnya juga Fikri beli. Jadi kami memiliki

