Pertemuan Dua Lelaki

1608 Kata

"Sibuk, Im? Lagi di mana?" Aku meremas kedua tangan, berharap rasa gugup ini bisa berkurang. "Lagi di kost aja." Jawaban itu menyentakku. Jadi Baim sudah tak lagi tinggal di rumah yang dulu kami tempati? Dia pindah ke kost-an sekarang? Beberapa bulan berlalu, tentu ada banyak hal yang terjadi, bukan? Aku sendiri tak pernah menyangka akan merasakan duduk di ruangan seorang psikolog dan berakhir dengan rutin mengonsumsi obat antikecemasan seperti sekarang. "Ada yang mau ngomong, Im." Kemudian Fikri menyodorkan ponselnya padaku. Kuterima dengan tangan sedikit gemetar, tapi anggukan kepala Fikri juga tatapannya yang seolah-olah berkata bahwa ini jalan yang benar, sedikit menerbitkan keberanianku. Aku membasahi kerongkongan dengan menelan ludah sebelum menyapa, "Halo." Hening. Tak ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN